KAMPUNG Kelapapati terletak 3 kilometer dari kota Bengkalis. Jalan yang menghubungkan kampung tersebut dengan kota Bengkalis, sekarang sudah di aspal mulus. Di kampung itu terdapat sebuah kuburan keramat, disebut keramat Aki Lando. Ramai orang yang bernazar di keramat itu bila niat mereka dikabulkan Tuhan. Penulis masih ingat ketika masih kecil pernah sakit, ibu bernazar seandainya puteranya sembuh dari sakit akan dimandikan di atas makam keramat tersebut itu, bersedekah pisang untuk anak-anak kecil. Setelah sembuh ibu menunaikan niatnya itu.
Kisah ini tidak ada hubungannya dengan keramat tadi.
Tetapi persis di depan keramat tersebut terdapat gundukan tanah yang lebih
tinggi dari tanah sekitarnya, terletak di pinggir jalan di bawah sebatang pohon
durian. Konon menurut riwayat, di bawah gundukan tanah itulah dikuburkan
Sembilan orang perawan kakak beradik. Mati akibat kecerobohan mulut, serta
memandang hina manusia cacat.
ALKISAH beberapa ratus tahun yang lalu kampung Kalapapati
dikenal dengan nama Pangkalan Lengong. Mungkin berasal dari kata lengang,
karena pangkalannya jarang disinggahi perahu kecuali pada saat-saat tertentu,
misalnya bila ditimpa rebut atau menunggu angina baik ataupun bila keputusan
air barulah pelaut-pelaut singgah ke sana.
Penghuni kampung itu tidaklah begitu ramai. Hanya terdiri
dari beberapa puluh buah rumah. Di antara rumah-rumah itu, rumah Tuk Itam
adalah rumah yang paling besar dan cantic. Jendela dan pintunya dihiasi dengan
ukiran kerrawang, indah dan menarik. Lotengnya luas dan atapnya berpintu angina
persegi empat. Dapat dibuka dan ditutup. Tuk Itam termasuk orang berada lagi
pula terpandang di kampung kecil itu.
Tuk Itam orang tua yang berbahagia. Selain kaya harta
juga kaya dengan anak. Sembilam dari sepuluh anaknya adalah perempuan.
Cantik-cantik pula. Lebih-lebih si Bungsu. Kecantikannya tidak tertandingi oleh
kedelapan kakaknya. Berbeda dari kakaknya, Bungsu gadis yang lemah lembut dan
berperangai elok. Kakak-kakaknya suka merendahkan orang lain, lagi pula
berperangai sombong. Karena merasa orang tuanya orang berkedudukan. Sedangkan
Bungsu berhati sutera, tangannya selalu terbuka membantu orang lain.
Satu-satunya putera laki-laki Tuk Itam adalah si Bujang.
Anak ketiga. Walaupun diapit oleh saudara-saudara perempuan tidaklah membuat
Bujang menjadi anak manja dan berhati perempuan. Bujang pemuda yang rajin
membantu orang tuanya, ke hutan mengambil getah serendeh atau menjerat
kancil.
Ilmu silat pun dipelajarinya dari Pendekar Muda, ahli
silat ternama. Bujang adalah murid ketua dari perkumpulan silat Pendekar Muda.
Bila Pendekar Muda berhalangan, Bujanglah yang menggantikannya melatih
murid-murid yang lain.
CUACA sepagi itu cerah sekali. Angin bertiup semilir
menimbulkan kersik daun bambu. Matahari bersinar cemerlang. Seperti biasa
suasana kampung itu agak sunyi. Lebih-lebih di waktu pagi. Orang-orang sibuk
dengan kerja masing-masing. Ke darat mencari getah serendeh dan buah balam
atau ke ladang menuai padi.
Sekali-sekali terdengar gelak tawa berderai diiringi
antan (alu) beradu dengan lesung, bertalu-talu dari belakang rumah Tuk Itam.
Rumah besar itu sunyi karena penghuninya pagi itu semua bekerja.
Tuk Itam dengan istrinya Cik Mah ke ladang. Bujang
menjerat kancil ke hutan. Sedangkan kesembilan gadis remaja puteri Tuk Itam
disibuki oleh padi, hasil panen ladang mereka. Kepuk (lumbung) padi telah
penuh; malahan sampai ke atas loteng tempat puteri-puteri Tuk Itam tidur. Panen
sekali ini melebihi dari masa-masa sebelumnya.
Di penjemuran terhampar tikar besar, di atasnya ditabur
padi. Bungsu duduk menjaga jemuran padi. Kayu kecil di tangannya
dikibas-kibaskannya, menghalau ayam yang banyak berkeliaran di sekitar jemuran.
Kakaknya Kuntum dan Melur, mengayumkan antam, mengikuti
dendang Dara. Sedangkan Bedah dan Keti sibuk mengindang (menampi) beras, peluh
membasahi muka mereka. Putih, Inam dan Mesah terlibat dalam keasyikan bermain
congklak.
“Bukan main penatnya, gantianlah dengan Inam dan
Mesah,kak”. Melur menyeka peluh, dengan ujung bajunya.
“Selesaikanlah yang ini
dulu”,jawab Kuntum.
“Ahoi, tak suka melihat orang senang konon”. Putih
mencibir, diikuti tawa Inam dan Mesah.
“Mau senang, hendak menang, ingin kenyang. Itulah
tahunya.”Rengut Bedah. Mukanya memutih oleh serbuk padi seperti baru dipupuri.
“Cantiknya, seperti puteri berkubang”,balas Putih.
“Bukan, bukan tuan puteri berkubang, tapi ulat pisang.”
Sela Inam.
Ketawa mereka kembali berderai. Bedah meletakkan
tampannya. Mengambil sebungkah tanah, berpura pura akan melempar Putih dan
Inam.
Ketiganya berdiri, lari meninggalkan papan congklak.
Dikejar oleh Bedah sambil mengacung-acungkan tangannya. Mereka berlari
berputar-putar mengelilingi rumah.
Tiba-tiba mereka terhenti. Seorang laki-laki berdiri di
halaman. Laki-laki asing itu menjinjing cemat (kendi air dari tanah liat).
Sebenarnya mereka tidak akan terkejut sedemikian rupa sekiranya tidak ada
sesuatu yang aneh pada laki-laki itu.
Sebelah kakinya besar. Laki-laki itu menderita penyakit untut
(kaki gajah). Kelihatan berat untuk digerakkan.
Hanya sebentar mereka tercekam dari rasa terkejut.
Kemudian dari mulut mungil mereka keluar ketawa cekikikan. Tanpa menoleh untuk
kedua kalinya, keempatnya berlari ke belakang rumah, meninggalkan laki-laki
asing yang diliputi seribu macam perasaan yang membuncah di benaknya.
Bungsu yang sedang disibuki dengan kerjanya menoleh ke
belakang ketika sebuah suara menegurnya.
“Puan, hamba numpang bertanya…..”
Terkesiap Bungsu melihat
siapa yang berada dibelakangnya. Tetapi perasaan itu cepat ditikamnya. Bungsu
membalikkan badannya menghadap laki-laki itu, perlahan-lahan dari bibirnya
keluar jawaban.
“Tanyalah encik, apa salahnya”.
“Bolehkah hamba minta air barang secemat? Kami keputusam
air.”
“Tentu saja, ambillah seberapa perlu”.
Sedang mereka terlibat dalam percakapan, terdengar suara
Kuntum memanggil Bungsu. Percakapan jadi terhenti. Bungsu berlari ke belakang,
sehingga dia tidak mendengarkan lagi apa yang ditanyakan laki-laki itu.
“Dik Bungsu, tidak jijikkah kamu melihat manusia seperti
itu?” tanya Kuntum.
“Mengapa harus jijik, kak Kuntum? Bukankah dia juga
manusia seperti kita. Tidak baik begitu kak, kita sama-sama makhluk Tuhan”,
jawab Bungsu.
“Ah,sudahlah. Terlalu bijak kamu berkata. Apa tahumu
tentang hidup. Umur baru setahun jagung, mau pula mengajar awak,….. sudahlah
Bungsu, pergilah naik ke rumah bertanak nasi. Hari sudah siang”
Bungsu tidak membalas
tempelak kakaknya. Lalu dia naik ke atas rumah.
Karena tidak tahu letak sumur, laki-laki itu terus ke
belakang rumah. Disana dilihatnya keempat gadis yang menertawakannya tadi, dan
empat gadis lain yang belum dikenalnya.
Tetapi dia tidak melihat Bungsu. Enggan rasanya untuk
membuka mulut. Dilihatnya kedelapan gadis itu menutup mulut mereka dengan
tangan dan ujung baju. Dibulatkannya juga hatinya, lalu dia bertanya,
“Dimanakah perigi minum itu, puan?”
“Dengar kak Kuntum,adakah perigi minum?” kata Putih.
“Hai tuli agaknya telingaku ini, ulangi sekali lagi”.
Kuntum meletakkan tangan
kanannya ke telinga berpura-pura tidak mendengar.
Wajah laki-laki asing itu
pucat menahan malu. Tapi dipaksakannya juga mengulangi pertanyaan itu,
“Di manakah letak perigi minum itu?”
“Oh, perigi minum. Di sana, di bawah rumpun buluh
betung”, Kuntum menunjuk ke arah rumpun bambu tidak jauh di samping rumah.
“Terima kasih puan”. Laki-laki itu menunduk hormat, lalu
ke tempat yang ditunjuk oleh Kuntum. Rumpun bambu itu besar dan rimbun, di
bawahnya berserakan daun bambu kering.
Laki-laki itu merasa kecewa. Tidak ada sebuah sumur pun
di bawah rumpun bambu itu. Lama laki-laki itu termenung. Sakit hatinya bukan
kepalang. Sadarlah dia bahwa gadis-gadis itu hanya mempermainkannya. Mereka
menyamakan tunggul bambu dengan kakinya yang besar itu.
Kentam merasa terhina sekali. Kentam, seorang bomo
(dukun) sakti yang mashur di tanah Kubu, kini dipermain-mainkan oleh
gadis-gadis itu. Di tanah Kubu jangankan mempermainkannya seperti itu,
berpapasan dengannya saja pun orang menghindar. Kentam, bomo racun yang paling
tangguh. Racun selaksa bunga, ilmu racun ampuh yang dimilikinya.
Kentam tidak menoleh untuk kedua kalinya. Kakinya
melangkah meninggalkan tempat itu diiringi gelak tawa gadis-gadis Tuk Itam.
Darahnya mendidih, dendamnya meluap-luap. Dengan menyeret kakinya Kentam menuju
ke pangkalan, tempat teman dan perahunya menunggu.
Di perahu menunggu Bedul, kawan separuhnya. Bedul,
laki-laki ini, tidak kalah anehnya dari Kentam. Matanya juling dan di sela
kelengkangannya tergantung burut sebesar buah labu.
Kesaktiannya bukan kepalang, ahli gayung. Jantung digayung jantung putus.
PERAHU itu baru merapat semalam. Angin ribut turun dan
persediaan air habis, memaksa mereka merapatkan perahu ke pangkalan itu.
Di dalam perahu seekor burung gagak, berwarna hitam pekat
terikat pada tol (kayu tempat dayung dilekatkan). Kakinya mengais-ngais
lantai perahu. Sekali-sekali sayapnya digerak-gerakkannya seolah-olah akan
terbang.
Jarak perahu dengan tebing tidak kurang dari lima belas
tombak ketika Kentam melemparkan cermat kosong itu ke perahu. Bedul menyambut
dengan tangan kirinya, tepat pada bibir cemat itu.
“Kosong, mana airnya Kentam?” tanya Bedul keheranan.
Ketam tidak menjawab. Kakinya terhenyak ke dalam melonjak-lonjak kegirangan
mendengar kecipak kaki Kentam di pantai. Sayapnya direntangkannya lebar-lebar
lalu dikibas-kibaskannya menimbulkan suara berisik. Bedul mengayunkan sepotong
kayu ke arah gagak hitam, cekatan paruhnya menangkap kayu itu .
“Akan kubalas semua penghinaan ini”, rengut Kentam sambil
mengankat kakinya dari kubangan lumpur. Kaki yang berlumpur diletakkannya
seenaknya di atas lantai perahu.
“Tidak adakah air di darat?” tanya Bedul lagi.
“Aku tidak sudi diriku diperlakukan bagini”, Kentam
seperti berkata pada dirinya sendiri, tidak memedulikan pertanyaan Bedul.
“Akan kubalas dan satu per satu mereka harus….”.
“Hai, tulikah telingamu Kentam, tanyaku tidak kau jawab?”
“Entah, aku tidak tahu apakah di sana ada air atau tidak.
Yang kuketahui di sana ada
gadis-gadis angkuh. Merasa diri mereka yang tidak berkekurangan”.
“Ha….ha,….ha,….ha….ha, baru aku tahu. Engkau mau mengganggu
mereka, tetapi mereka tidak menggubrisknya, malahan mendepakmu. Begitu, kan?”.
“Diam !!!” hardik Kentam. Kakinya menghentak lantai
perahu. Lumpur berpercikan mengenai Bedul dan gagak hitam. Burung gagak itu
meloncat tinggi. Mencoba terbang, tetapi bertahan oleh tali dan tersangkut di
sisi perahu. Kentam bangkit dari duduknya. Dengan penuh kasih sayang burung itu
diambilnya lalu dielus-elusnya dengan jari-jemarinya yang kasar.
“Aku tidak mengganggu mereka. Aku tahu adat di kampung
orang. Tetapi aku dihina. Ini tidak bisa aku terima”.
Kentam kemudian menceritakan peristiwa yang baru
dialaminya.
“Kalau begitu biar aku yang turun ke darat”. Akhirnya
Bedul mengambil keputusan.
Sukar bagi Bedul untuk turun, mengingat keadaan dirinya
yang cacat itu. Apalagi tanah pantai yang berlumpur itu bila diinjak akan
terjeblos sampai ke batas paha. Tetapi mereka memerlukan air untuk minum dan
memasak. Dengan susah payah akhirnya Bedul mencapai tebing.
Matahari persis di atas kepala sewaktu Bedul sampai di
depan rumah Tuk Itam. Tidak ada seorang pun yang kelihatan. Dari dapur
terdengar piring beradu. Gadis-gadis Tuk Itam sedang makan siang.
Bedul memandang berkeliling. Tidak ada sebuah sumur pun
yang kelihatan. Mungkin dibelakang, pikirnya. Kakinya dilangkahkannya menuju ke
belakang rumah. Bedah melongok ke luar jendela ketika mendengar langkah kaki.
Matanya bertemu dengan mata Bedul yang cacat. Lama pandangannya terpaku.
Akhirnya ketawanya pun pecah.
“Ada apa, Bedah?” tanya Kuntum.
“Hi….hi….hi….betul-betul hari baik”.
“Ha?”kedelapan saudaranya masih belum mengerti apa yang
dimaksud Bedah. Penasaran, mereka pun bangkit meninggalkan piring nasi,
melongok ke jendela.
Barulah mereka mengerti apa yang dimaksud Bedah dengan
“hari baik” itu. Seorang lagi manusia cacat mereka temui hanya dalam waktu
beberapa jam saja. Itu jarang terjadi.
“Hai, mencair air jugakah encik?” Kuntum pura-pura
bertanya. Matanya berpindah-pindah dari cemat ke selangkangan Bedul.
“Benar puan, kami keputusan air. Karena itu hamba
bermaksud meminta air, bolehkah?”
“boleh saja, ambillah di sana…. Itu tuh dekat
tumbuh-tumbuhan labu itu”.
“Terima kasih puan”. Senang bukan main Bedul mendapat
perlakuan yang baik dari gadis-gadis itu.
Ringan rasa kakinya melangkah menuju tempat yang ditunjuk
Kuntum. Tumbuhan labu air itu tumbuh subur, daunnya menghijau dan buahnya
besar-besar. Tapi tidak ada sebuah sumur pun di sana.
“Ah, mungkin mereka salah tunjuk”,pikir Bedul. Kakinya
akan melangkah kembali ke jendela tempat gadis-gadis tadi berdiri. Tetapi ketika
didengarnya suara ketawa gadis-gadis itu disertai cercaan bagi dirinya,
langkahnya terhenti.
Di benaknya terbayang bagaimana Kentam akan balas
mengejeknya. Bedul marah bukan main. Di hadapan gadis-gadis itu, dia
melemparkan cematnya ke atas setinggi lima tombak. Tangannya diayunkannya dari
atas ke bawah. Cemat yang sedang meluncur ke bawah dalam posisi terbalik itu
terpotong menjadi dua seperti kayu yang digergaji. Kedua potongan cemat itu
jatuh di bawah jendela persis di bawah tempat gadis-gadis itu berdiri.
Tidak ada yang ketawa lagi. Semuanya membisu bagaikan
terpukau oleh kejadian yang baru saja berlalu di hadapan mereka. Dan tidak ada
lagi yang tertawa mengejek ketika Bedul melangkahkan kakinya meninggalkan
tempat itu.
MATAHARI baru saja tergelincir, panasnya menyengat
menimbulkan rasa kantuk yang teramat sangat. Begitu juga halnya dengan
gadis-gadis Tuk Itam. Mereka segera naik ke loteng membaringkan tubuh yang
telah penat bekerja.
Di pangkalan lengong, di atas perahu dua laki-laki Kubu
itu terlibat dalam perdebatan. Baik Kentam maupun Bedul, masing-masing ingin
membinasakan gadis-gadis itu dengan cara sendiri-sendiri.
“Emeuh…..mereka mampu tanpa diketahui sebab musababnya,
itulah cara yang terbaik kurasa. Ilmukulah yang sanggup berbuat begitu.
Turutilah kemauanku untuk kali ini”, pinta Bedul. Matanya terpejam membayangkan
gadis-gadis itu bagaikan pisang ditebang, satu-satu terkulai. Ketika orang
menemukan tidak seorang pun yang akan tahu sebab-musabab kematian mereka.
“Jangan, itu terlalu ringan buat dosa mereka. Digayung
langsung mati. Cara itu mudah sekali. Tetapi yang ini, ah benar-benar
mengasyikkan. Menjelang ajalnya mereka kusuruh tertawa ria, mereka kusuruh
bersuka ria”. Kentam berhenti sejenak lalu melanjutkan katanya;
“Semuanya itu adalah yang terakhir kali mereka lakukan”.
Kentam mengeluarkan selembar saputangan dari buntalan
pakaiannya. Saputangan itu berukuran sedang, terbuat dari sutera halus,
berwarna hijau muda. Di keempat sisinya diberi sulaman pinggir. Namun
saputangan yang cantik itu menimbulkan perasaan bergidik bagi yang melihatnya.
Tepat di tengah-tengahnya selebar telapak tangan anak-anak, tersulam gambar
tengkorak dengan benang hitam. Sulaman itu seperti hidup. Di antara kedua
rongga matanya disulam benang warna merah saga, menyala seolah-olah mengandung
dendam kepada seseorang.
Kentam lalu menerangkan rencananya pada Bedul. Bedul
akhirnya bersedia mengalah.
“Bedul, saputangan ini belum pernah kupakai. Sekali ini
akan kucoba. Tapi…..”. Tiba-tiba Kentam terhenti berbicara. Dia teringat dengan
Bungsu. Ilmunya ini akan memusnahkan setiap benda bernyawa yang berada dalam
satu ruangan. Dia tidak ingin mengganggu Bungsu yang telah bersikap baik
terhadapnya. Timbul peperangan di bathinnya, itu jarang terjadi. Kentam
biasanya tidak berkedip sepicingpun. Malahan tersenyum puas menyaksikan
korbannya menghadapi maut. Timbul rasa sesal di hatinya. Tidak disadarinya dari
dahinya ke luar butir-butiran peluh.
“Gaaaaaaaaaaaaaak…..kreeeeeeeeek”. Kentam tersadar dari
lamunannya. Burung gagak itu meloncat garang ke arah Bedul, karena Bedul
memukulkan ujung kayu ke kepala gagak itu. Kentam meraih gagak itu dan
mengelus-elus sayapnya.
“Memang bagus rencanamu”, kata Bedul sambil menghembuskan
asap rokok nipah.
“…..dan mereka saling memperebutkan saputangan bututmu,
seperti ayam berebut padi. Hi…hi…hi, tidak tahunya padi itu mengandung racun.
Satu-satu mereka akan mampus, ooh alangkah nikmatnya bila dapat menyaksikan
kejadian itu…oh”. Bedul memejamkan matanya, kenikmatan itu terbayang di pelupuk
matanya dan bibirnya terus mendecih-decih tidak berkeputusan.
“Eh, apa lagi yang kau tunggu Kentam. Segerakanlah.
Sebelum pasang, semuanya harus sudah selesai”. Bedul mendesak Kentam untuk
mempercepat tugasnya. Berat hatinya bila terbayang wajah Bungsu. Tetapi
bayangan itu sirna bila terlintas wajah-wajah saudara Bungsu yang telah
menghina dirinya.
Kentam mengganti pakaian dengan pakaian serba hitam.
Destar hitam terikat di kepala dan baju kurung gunting cina melekat di
tubuhnya. Dari saku bajunya, Kentam mengeluarkan serbuk putih berbau busuk.
Mengoleskan ke hidungnya dan memberikan sedikit kepada Bedul. Sisanya
dioleskannya ke sekujur tubuh gagak hitam itu.
Dari buntalan pakaiannya dikeluarkannya sebuah bungkusan
kecil dan sebungkal kemenyan. Bungkusan itu dibukanya, bubuk halus berwarna
merah itu mengeluarkan bau harum semerbak. Sementara itu Bedul mempersiapkan
perapian. Kentam lalu menaburkan kemenyan di atas perapian, bau harum kemenyan
berpadu dengan bau racun merah.
Matanya terpejam, mulutnya berkomat-kamit membaca
mantera. Kentam menaburkan racun merah tadi ke saputangan kemudian merentang
saputangan itu di atas asap perapian. Suasana hening. Ikatan burung gagak
dilepaskan lalu tubuhnya diusapi dengan asap kemenyan.
Kentam bangkit dari duduknya, menuju ke buritan perahu.
Di buritan Kentam berdiri lurus. Tangan kanannya terangkat ke atas, jarinya
terbuka lebar. Di atasnya bertengger burung gagak hitam dengan saputangan di
paruhnya. Tangan kiri Kentam menunjuk ke daratan. Burung gagak itu
mengibas-ngibaskan sayapnya lalu terbang membubung ke angkasa.
KESEMBILAN puteri
Tuk Itam hampir terlelap ketika suara gagak terdengar riuh. Di atas atap
berhampiran dengan loteng, burung gagak itu hinggap, saputangan yang dibawanya
dilepaskan, melayang-layang menuju ke pintu angin. Seperti dituntun saputangan
itu masuk ke loteng melalui pintu angin.
Mereka terbangun dari tidur. Saputangan itu
melayang-layang di atas mereka. Seperti dikomandokan tangan-tangan mungil itu
serentak mengarah ke atas, saling berebutan. Saputangan itu seperti digerakkan
tenaga gaib, sebentar mendekat lalu menjauh sehingga menjadi permainan yang
mengasyikkan itu. Tetapi Bungsu tidak begitu terpengaruh.
Kecurigaannya timbul melihat keanehan itu. Kecurigaan
yang dihubungkannya dengan kejadian-kejadian yang dialaminya pada hari itu.
Apakah ini bukan ulah dari kedua laki-laki aneh itu, pikirnya.
Bungsu tidak sempat memperingatkan kakak-kakaknya. Racun
itu cepat cepat bekerja. Kedelapan gadis itu mulai terbatuk-batuk. Batuk mereka
kian menjadi-jadi. Dari mulut masing-masing keluar cairan kuning. Cairan kental
yang segera mengeras setelah sampai ke lantai.
Hanya sedikit keluhan keluar dari mulut mereka. Satu per
satu tubuh-tubuh itu terkulai. Bungsu ingin membantu, tetapi napasnya terasa
sesak. Tersendat-sendat. Dari bibirnya yang tipis ke luar batuk-batuk kecil.
Bayangan kedelapan tubuh kakak-kakaknya mengabur dan hilang sama sekali. Bungsu
pun terkulai di samping tubuh kedelapan saudaranya.
MATAHARI telah condong sebagian ke arah Barat. Penduduk
kampung telah berpulangan dari ladang dan hutan. Bergitu pula dengan Tuk Itam
dan isterinya Cik Mah.
“Hai, sunyi benar. Kemana pula anak-anak itu agaknya?”,
tanya Cik Mah pada suaminya.
“Entahlah. Heran pula awak dibuatnya. Tidak biasanya
begini”, jawab Tuk Itam. Keheranan mereka beralasan.
Biasanya kepulangan mereka disambut beramai-ramai oleh
gadis-gadisnya. Tetapi sekali ini hanya kesunyian yang menyambut mereka. Asa
sunyi itu semakin mencekam sewaktu mereka masuk ke dalam rumah. Tidak ada gelak
tawa seperti biasanya.
“Tidurkah mereka?” tanya Cik Mah lagi. Tuk Itam tidak
menjawab melainkan menaiki anak tangga ke loteng. Langkahnya tertahan sebentar,
tercium olehnya bau harum yang menusuk rongga. Dirasanya kepalanya pusing,
tetapi dikuatkannya hatinya. Kakinya melangkah tertatih-tatih. Akhirnya sampai
juga Tuk Itam ke puncak tangga. Pandangannya tertuju kea rah tubuh-tubuh yang
terbaring tidak bernapas di loteng. Pandangannya semakin kabur…, dan sebuah
teriakan panjang mengerikan keluar dari mulut Tuk Itam. Dibarengi terjatuhnya
tubuh tua itu dari anak tangga teratas. Ke lantai.
Cik Mah menjerit melihat tubuh suaminya terkapar di
lantai. Jeritannya membuat tetangga-tetangga berdatangan. Sebentar saja rumah
itu telah dipenuhi oleh manusia.
Tidak ada jawaban dari mulut Cik Mah ketika pertanyaan
dating bertubi-tubi dari tetangganya. Hanya tangannya saja yang teracung ke
atas, menunjuk ke arah loteng. Semuanya melihat ke atas tetapi tidak mengerti
apa yang dimaksud oleh Cik Mah.
Sebentar kemudian muncul Pendekar Muda di antara khalayak
ramai. Wajah yang jernih dan senantiasa tersenyum itu menimbulkan secercah
harapan bagi mereka untuk mengetahui peristiwa yang menimpa Tuk Itam.
Pendekar
Muda membungkukkan badannya. Tangannya memegang nadi Tuk Itam. Masih ada
tanda-tanda hidup, walaupun nadi itu bergerak perlahan-lahan. Pendekar Muda
mengatur pernapasan. Dari tangannya mengalir hawa panas terus ke tubuh Tuk
Itam. Tubuh yang telah memucat itu berangsur-angsur pulih. Pernapasannya mulai
teratur. Beberapa menit kemudian Tuk Itam membuka matanya. Memandang
berkeliling.
“Oooh
Tuhan, apakah kiranya yang telah terjadi pada diri ayah Bujang?” ratap Cik Mah
pilu.
Tuk
Itam tidak menjawab, matanya berpindah dari isterinya ke Pendekar Muda.
Dicobanya bangun, tetapi napasnya masih sesak. Pendekar Muda mengeluarkan
kemenyan dari saku baju teluk belanganya, lalu meminta bara api. Kemenyan itu
ditaburkannya di atas bara api setelah dimanterai. Asapnya diusap-usapkannya ke
dada Tuk Itam. Laki-laki tua itu terbatuk-batuk mengeluarkan ludah kental
kekuning-kuningan, lalu pinsan kembali.
Seorang
pemuda bertubuh kekar menyeruak di antara kerumunan orang ramai. Dialah Bujang,
putera Tuk Itam yang baru kembali dari berburu di hutan.
“Ya
Allah, apakah yang telah terjadi pada ayahku?” Tubuh kekar itu mendekap ayahnya
yang sedang terbaring.
“Sudahlah
anakku. Biar ayahmu istirahat dahulu”, bujuk Pendekar Muda.
“Apakah
yang telah terjadi bapak pendekar?”
“Entahlah
Bujang, bapak pun belum tahu jelas”.
Bujang
menoleh kepada ibunya. Perempuan tua itu menangis terisak-isak. Bujang dating
mendekat, dengan lemah-lembut dipegangnya tangan ibunya.
“Emak,
ceritakanlah pada Bujang perihal semua ini”.
“Anakku”,
katanya sambil mendekapkan pipinya ke lengan puteranya.
“Emak
dan ayahmu pulang dari ladang. Di rumah sunyi, kakak dan adik-adikmu tidak ada
yang menyambut seperti biasa. Ayahmu naik ke loteng….dan….dan emak tak tahu
sebabnya tahu-tahu ayahmu menjerit lalu terjatuh ke bawah”.
Semua
yang hadir melihat ke loteng. Tidak ada apa-apa di sana. Bujang melepaskan
dekapan ibunya, berdiri akan menuju ke tangga loteng tetapi ditahan oleh
Pendekar Muda. Tuk Itam telah siuman kembali.
“Datuk,
bagaimana perasaannya sekarang, sudah sehat?”
“Agak
lapang dadaku kini, di mana aku sekarang, mengapa orang-orang berkumpul?”
Lalu
Pendekar Muda mengisahkan apa yang telah terjadi. Tuk Itam termenung sejenak
seperti mengumpulkan ingatan.
“Yah
baru aku ingat. Tadi aku naik ke loteng untuk melihat Kuntum den adik-adiknya. Di
sana kulihat mereka terbaring. Ada bau harum yang menyerang hidungku, aku pun
tidak ingat apa-apa lagi”.
Pendekar
Muda termenung sejenak mendengar penuturan Tuk Itam. Dalam termenung itu dating
firasat padanya bahwa telah terjadi sesuatu pada keluarga Tuk Itam.
“Bujang
ke sinilah kamu, nak”, panggil Pendekar Muda. Bujang dating mendekat.
“Peganglah
azimat ini, naiklah ke loteng. Apa pun yang terjadi di atas sana janganlah kau
terpengaruh, lihatlah apa yang telah terjadi”.
“Baiklah
bapak”. Bujang mengambil azimat dari tangan Pendekar Muda lalu mengikatnya pada
pengelangan tangan kanannya. Semua yang hadir menahan napas ketika Bujang
melangkahkan kakinya menaiki anak tangga demi anak tangga ke atas loteng.
Terkejut
bukan kepalang Bujang setibanya di atas loteng. Kesembilan saudara perempuannya
tergeletak tak bernapas lagi, sedang dari mulut mereka keluar cairan kuning
kental. Kepada Bujang terasa pusing, tetapi dia cepat teringat pesan Pendekar
Muda, diteguhkannya hatinya. Ditundukkannya badannya. Tangannya memegang
pergelangan tangna Kuntum. Dingin, tidak ada denyutan nadi tanda hidup. Lalu
berpindah pada saudara-saudaranya yang lain, sama saja, dingin dan kaku.
Terakhir dia mendekat kepada Bungsu. Tubuh Bungsu masih hangat, hanya nadinya
diam, tidak berdenyut. Matanya tertarik pada sehelai saputangan yang tergenggam
di tangan kanan Bungsu.
Bujang
membawa saputangan itu turun. Penuturannya membuat setiap orang terkejut. Cik
Mah meraung sekeras-kerasnya dan akhirnya terkulai pingsan di pangkuan
puteranya. Di sana-sini terdengar isak tangis perempuan yang hadir, dan
gemeretak geraham laki-laki menahan kegusaran. Satu per satu mayat-mayat itu
diturunkan. Dibujurkan di ruang tengah. Hanya tubuh bungsu yang masih tetap di
tetap di tempat semula. Pendekar Muda bersila di hadapan tubuh Bungsu, di
sampingnya duduk Bujang, lesu dengan seribu pertanyaan yang penuh dengan
teka-teki.
Tubuh
Pendekar Muda bergetar hebat ketika tangannya memegang pergelangan tangan
Bungsu. Aneh, tubuh yang mulai memucat itu berangsur-angsur panas, tetapi
nadinya tetap tidak berdenyut. Perlahan-lahan tubuh yang telah menjadi mayat
itu bangkit kembali. Membuka matanya sebentar, memandang sekeliling lalu
terpejam lagi. Bujang ingin meloncat medekap adiknya, tetapi pesan Pendekar
Muda kembali terngiang di telinganya. Pendekar Muda mengeluskan tangannya tujuh
kali di ubun-ubun Bungsu, dari mulutnya terlontar seruan;
“Wahai
arwah Bungsu, kupakai jasadmu ini supaya yang gelap jadi terang, yang kabur
jadi jelas”.
“Dari
manakah asalmu, mengapa kamu le mari, apa pula tujuanmu mengambil korban
sebanyak ini?” Pertanyaan itu datang bertubi-tubi dari mulut Pendekar Muda.
Bibir Bungsu bergerak perlahan-lahan. Dari mulut itu keluar suara kasar
terawang-awang, suara seorang laki-laki.
“Aku
Kentam, asalku dari Kubu. Kami keputusan air makanya singgah ke sini. Mereka
mati karena bersalah”.
“Apakah
dosa mereka sampai sebegini pembalasanmu?”
“Ha….ah….ah….ah….ah,
pertanyaan yang cerdik aku tidak mau menjawabnya, bagaimana?” Mulut itu kembali
tertutup rapat. Pendekar Muda kembali mengusapkan tangannya di atas kepala
Bungsu.
“Jawablah,
kamu telah berdosa jangan dosamu dibawa sampai mati”.
“Aku
benci padamu, kamu angkuh”.
Pendekar
Muda memijit pergelangan tangan Bungsu, seperti terpegang sesuatu terdengar
jeritan.
“baiklah,
aku menyerah. Mereka menghina aku dan temanku ketika kami turun ke darat
mencari air tadi pagi”.
“Karena
itu sajakah kamu membunuh?”
“Ya
itu adalah dosa besar, cukup bagi kami untuk membunuh mereka”.
“Bedebah!!!!
Kubunuh dan kupancung kamu bila bersua. Kugantung tubuhmu dengan kepalamu ke
bumi kakimu ke langit”. Bujang meraung sekeras-kerasnya. Tidak dapat membendung
luapan emosinya.
“Bujang!!!”
sergah Pendekar Muda, tubuh Bungsu terkulai layu dan kaku.
SORE
itu kampung pangkalan Lengong diliputi duka dan luapan napsu amarah.
Berpuluh-puluh orang laki-laki bersenjatakan parang dan tombak beramai-ramai
menuju ke pangkalan dipimpin oleh Pendekar Muda dan Bujang.
Gerimis
turun rintik-rintik, di langit sebelah Timur pelangi timbul melengkung. Pasang baru
naik, Kedua laki-laki Kubu itu terkejut melihat orang ramai berkerumun di
tebing mengacung-acungkan senjata mereka sambil berteriak-teriak garang.
“Celaka
kita, lihat ke tebing Kentam. Mereka beramai-ramai datang menyerang”. Bergetar
hati Bedul melihat gerombolan manusia itu.
“Bagaimana
akal kita? Perahu ini belum pula timbul”, Kentam pun tidak kurang kecutnya dari
Bedul.”
“Lawanlah
mereka dengan gayungmu itu Bedul”.
“Baiklah,
pindahlah kamu ke haluan”.
Bedul
berdiri di buritan, tangannya terayun ke atas lalu disertakkan ke bawah.
Seorang penyerang yang berdiri di tebing, roboh tak bernyawa. Semua penyerang
seperti terpaku melihat kejadian yang tidak terduga itu. Pendekar Muda
memeriksa mayat itu sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.
“Mereka
menggunakan ilmu gayung, berbaringlah semuanya supaya terhindar”. Perintahnya.
Sementara itu Kentam telah turun ke pantai, mendorong perahu yang masih kandas.
Bedul membantunya sambil mendorong dengan galah pendayung. Bersusah payah
perahu itu dapat juga bergerak. Setelah didorong beberapa tombak ke depan,
perahu itu timbul. Tetapi Kentam mendapat kesukaran berjalan, kakinya berat
untuk digerakkan.
Melihat
keadaan yang tidak menguntungkan musuhnya itu, Bujang terjun ke pantai diikuti
kawan-kawannya.
“Cepatlah
Kentam, mereka datang”.
“Aku
tidak bisa……..oh tidak bisa”.
Bedul
melihat musuhnya semakin mendekat tidak memedulikan lagi nasib kawannya, lalu
mengayuhkan perahu ke laut, diikuti teriakan putus asa Kentam minta tunggu.
Kentam
tidak berdaya ketika musuh-musuhnya meringkusnya. Kedua tangannya diikat, lalu
diseret beramai-ramai di dalam lumpur menuju ke tebing. Gagak kesayangannya
terus mengikutinya berbunyi pilu melihat nasib tuannya. Nasib Kentam telah
ditentukan, tubuhnya dipancung kemudian digantung di atas pohon pundang
yang tumbuh di pinggir tebing.
Kepala
menghadap bumi dan kaki ke atas menghadap langit. Konon khabarnya bila turun
hujan panas, dari arah pohon pundang itu terdengar suara tangisan manusia
menahan kesakitan.
0 Comments