Seraut wajah menguak
dibalik langsi bercorak
bunge bunge taik ayam.
Yang melambai lambai d
itiup angin laut cine selatan.
Sepasang tangan melepai ditepi tingkap.
Mengantar angan jauh terawang.
Berhasrat menyampaikan rindu yang
melekap.
Pade pengail.
Yang baru melaut baru sekejap.
Pondok cuai,
Dibangun berlantai bibir pantai.
Dan berjenjang gelombang pasang.
Tak kuat rasanya menentang
badai kehidupan
anak manusia yang sengsare.
Yang jauh dari kote-Didese…
Dan pape Anak…
Istri menanti dijenjang gelombang.
Memohon berkah kepada Allah.
Supaye pengail jangan degil
Diluputkan dari bale samudre yang marah.
Dan… mendapatkan hasil kail bertali
tali.
Lapar dan hutang melilit.
Susah dan senang saling berkelit.
Tetapi tidak pernah mematahkan semangat
pengail.
Melaut untuk menangguk rezeki.
Sibuk kiau mengayuh kolek.
Mengantar pengail membelah gelombang.
Harapan kian nanar.
Dalam hasrat tak berujung.
Gelombang pasang kencang.
Menghalau ikan kedasar laut.
Pengail degil.
Tak pernah mengalah.
Umpan dipasang dihumbang.
Menuntun umpan disampar sungsang.
Panas terik ini…
Tak pernah jadi kawan bersenandung.
Membakar pori, mengkelat kulit…
lalu…Bersurailah pengail menyujut…
laut…
Kemudian…
dengan…iri memohon…
”Wahai mentari bestari
Sengatkan kailku dimulut ikan laut ini.
Pancangkan tonggak dengan sinarmu
menegak arus.
Hentikan umpanku
dengan peluh yang mengalir deras
dari kedua celah ketiakku.
Keringkan laut dengan terikmu.
Biar kutangkap ikan dilopak.
Yang melepak-lepak kehausan.
Supaye dapat kubawa hasil tangkapan hari
ini.
Ntuk anak anak istriku.
Yang menanti dibibir pantai. Bilaku
sampai
Pekanbaru,
Oktober 2007
0 Comments