Pengail Tokak - Sugito Syarif

 



 

Seraut wajah menguak

dibalik langsi bercorak

bunge bunge taik ayam.

 

Yang melambai lambai d

itiup angin laut cine selatan.

Sepasang tangan melepai ditepi tingkap.

Mengantar angan jauh terawang.

Berhasrat menyampaikan rindu yang melekap.

 

Pade pengail.

Yang baru melaut baru sekejap.

Pondok cuai,

Dibangun berlantai bibir pantai.

Dan berjenjang gelombang pasang.

Tak kuat rasanya menentang

badai kehidupan

anak manusia yang sengsare.

 

Yang jauh dari kote-Didese…

Dan pape Anak…

Istri menanti dijenjang gelombang.

Memohon berkah kepada Allah.

Supaye pengail jangan degil

Diluputkan dari bale samudre yang marah.

Dan… mendapatkan hasil kail bertali tali.

 

Lapar dan hutang melilit.

Susah dan senang saling berkelit.

Tetapi tidak pernah mematahkan semangat pengail.

 

Melaut untuk menangguk rezeki.

Sibuk kiau mengayuh kolek.

Mengantar pengail membelah gelombang.

Harapan kian nanar.

Dalam hasrat tak berujung.

Gelombang pasang kencang.

Menghalau ikan kedasar laut.

 

Pengail degil.

Tak pernah mengalah.

Umpan dipasang dihumbang.

Menuntun umpan disampar sungsang.

Panas terik ini…

Tak pernah jadi kawan bersenandung.

Membakar pori, mengkelat kulit…

lalu…Bersurailah pengail menyujut…

laut…

Kemudian…

dengan…iri memohon…

”Wahai mentari bestari

Sengatkan kailku dimulut ikan laut ini.

Pancangkan tonggak dengan sinarmu menegak arus.

Hentikan umpanku

dengan peluh yang mengalir deras

dari kedua celah ketiakku.

Keringkan laut dengan terikmu.

Biar kutangkap ikan dilopak.

Yang melepak-lepak kehausan.

Supaye dapat kubawa hasil tangkapan hari ini.

Ntuk anak anak istriku.

Yang menanti dibibir pantai. Bilaku sampai

  

                                                                                 Pekanbaru, Oktober 2007




0 Comments