PELAMINAN BERDARAH - Nahar Efendi

 


        ANAK-ANAK di mana ada orang berhajat di situ pula mereka berkerumun. Bak kata pepatah, seperti semut dengan gula. Akan halnya orang dewasa, tidaklah jauh berbeda dengan anak-anak. Kesempatan berhelat semacam ini jarang adanya. Kesempatan mengobati selera. Di mana kerbau, kambing dan ayam dipotong dan dimasak lezat cita rasanya.

            Sedangkan susunan makanan semacam itu, pada orang dusun yang miskin itu susah didapat.

            Lebih pula bujang dan dara, sambil mengukur kelapa dan menggiling rempah, mereka saling berbalas pantun. Saling mengajuk hati. Semuanya kelihatan riang gembira dan gelak tawa memenuhi setiap tempat. Orang-orang terhormat dan dihormati mengisi ruangan tengah yang khusus disediakan untuk mereka, menghadap pelaminan yang dihiasi semenarik mungkin.

            Sebaliknya dengan Musalmah. Telah berbulan-bulan hanya berurai air mata. Mukanya mulai cekung kurang tidur dan tidak mau makan. Menerbitkan kasihan orang yang melihatnya.

            Musalmah gadis malang. Ibunya meninggal ketika dia berusia lima tahun. Pada saat anak sedang memerlukan kehangatan kasih sayang seorang ibu. Kemudian ayahnya Tuk Sila kawin lagi. Hidupnya yang tadinya penuh belaian kasih sayang berubah seketika. Cik Robiah, ibi tirinya ternyata seorang perempuan kejam. Kekejaman seorang ibu tiri bukan hanya cerita belaka, tapi benar-benar dialami Musalmah.

            Tidak ada lagi air mata yang keluar dari wajah cekung itu. Telah terlampau banyak derita hidupnya. Semua kawan Musalmah turut beriba hati.

            Berbeda dengan diluar, dalam kamar pengantin suasana begitu hening. Hanya suara berisik dan gelak tawa dari luar saja yang terdengar.

            “Musalmah, biar wak kenakan baju pengantin ini. Sekejap lagi pengantin lelaki akan dating” , kata Tukang Andam dengan lemah lembut. Musalmah hanya diam mematung, tidak mau dipakaikan pakaian pengantin.

            “Pakailah nak. Nanti emakmu marah pula pada wak” bujuknya.

            “Wak, saya tak mau dikawinkan dengan Encik. Jangan kawinkan saya, tolonglah wak!”

            Tukang andam berbisik pada pembantunya. Kemudian pembantu itu keluar memanggil Cik Robiah, ibu tiri Musalmah.

            Cik Robiah yang sedang duduk menghadapi tamunya dengan senyum manis yang dibuat-buat minta diri kepada tamunya sambil membungkuk-bungkuk minta jalan.

            “Anak Jalang! Anak Sundal! Anak Gatal!” katanya perlahan

            “Coba  kau buat ulah lagi, kubunuh kau nanti!”

            Musalmah menggigil mendengar makian  dan ancaman ibu tirinya. Seperti kerbau ditusuk hidungnya dia menurut dihiasi Tukang Andam. Semua orang dusun tahu Musalmah tidak sudi dikawinkan dengan Encik Begaf. Saudagar kaya yang menguasai mati hidupnya penduduk dusun itu.

            Betapa tidak, kehidupan dusun itu tergantung dari perikanan. Nelayan di sana hanya buruh, sedangkan seluruh alat penangkapan mulai dari sampan, jarring, sampai pada bekal makanan mereka peroleh dari Encik Begaf.

            Istri Encik Begaf tak dapat dihitung jumlahnya. Yang tetap dipakai hanya istri tua. Istri berikutnya setelah setahun adakalanya kurang dari waktu itu dicerai. Begitulah terus dibuat Encik Begaf, sehingga jumlah bekas istri dan anak-anaknya sendiri ia sudah lupa. Ada lagi sifat buruknya, suka mengganggu anak istri orang. Untuk itu ia tidak segan menggunakan orang sewaannya, menakut-nakuti suami atau ayah dari perempuan yang diganggunya itu.

            Bagi Musalmah derita yang dialaminya seperti tak akan berakhir. Telah banyak derita yang dialami dalam hidupnya. Tuk Sila, ayahandanya mati ketika mengambil air sembahyang di sumur. Kematiannya mencurigakan. Busa putih dan lender kuning keluar dari mulutnya. Padahal sesudah Maghrib Tuk Sila masih sehat. Sepulangnya dari tempat orang berkenduri orang tua yang baik hati itu akan sembahyang Isya. Ketika air sembahyang masih bersisa di badannya. Tuk Sila menghembuskan nafas terakhir.

            Kemudian Hasan, calon suami Musalmah hilang tak tentu laut. Maksudnya Hasan yang berkawan dengan Tahir ke laut menangkap ikan tidak pernah kembali lagi. Menurut cerita, perahunya karam diserang badai. Tahir selamat karena tertolong sekeping papan. Sayangnya Tahir sudah jadi orang bodoh. Pikirannya berubah sejak kejadian yang mengerikan itu menimpa dirinya.

            Encik Begaf dan pengiringnya didudukkan di atas kasur berhiaskan sulaman benang perada. Rambutnya telah memutih, di atasnya terletak kopiah tanjak, serta mengenakan baju teluk belanga. Berlagak seperti orang muda. Sebentar-sebentar mengerjapkan mata. Sebentar-sebentar memilin kumis yang melintang di bawah hidung yang bengkok seperti paruh elang. Hadirin senyum mengejek melihat tingkah laku Encik Begaf.

            Tuan Khadi sudah hadir di ruangan itu. Upacara ijap Kabul akan dimulai. Tuan khadi memanggil Encik Robiah, bertanyakan kesediaan pihak perempuan menerima Encik Begaf sebagai suami.

            “Kecik telapak tangan nyiru ditampung Tuan Khadi. Anak saya itu berhajat besar benar ‘kan bersuamikan Encik Begaf”, ujar Cik Robiah disambut ketawa bergumam hadirin. Tuan Khadi tersenyum masam lalu berkata :

            “walaupun begitu, sesuai dengan hokum dan syarat, baguslah cik menanyakannya sekali lagi. Bukankah begitu Saudara yang hadir?”. Tuan Khadi menanyakan pada saksi-saksi yang membantunya.

            Cik Robiah dengan seorang saksi pergi ke kamar pengantin, menanyakan kesediaan Musalmah untuk dikawinkan dengan Encik Begaf. Musalmah tidak menjawab. Menurut kebiasaan, tidak menjawabnya seorang perempuan tanda setuju.

            Tuan Khadi menyalami Encik Begaf. Upacara ijab Kabul pun berlangsung.

            “Aku terima nikahnya dengan maskawin sebentuk cincin emas tunai.” Encik Begaf menyambut ucapan Tuan Khadi. Lancar, sedikitpun tak terputus. Maklum, bukan sekali dua melakukan upacara yang serupa. Menurut hokum agama Islam, detik itu juga sahlah Musalmah menjadi istri Encik Begaf.

            Gendang dan gong ditabuh. Bertalu-talu. Dua pengantin yang tidak seimbang, bagai ayah dan anak bersanding di perlaminan.

            Tetua kampong dan cerdik pandai menepungtawari kedua pengantin. Tuba-tiba upacara itu dipenuhi gelak tawa. Tahir turut dalam barisan orang yang menepungtawari. Mengenakan kopiah buruk dan pakaian compang-camping. Melemparkan tawa ke sana ke mari, disambut oleh gelak tawa hadirin. Ketika Tahir duduk menghadap pengantin, tidak ada seorangpun yang mencegah. Mereka menganggap suatu hiburan yang jarang didapat. Encik Begaf tersenyum masam.

            Tahir mengambil sejumput beras putih, beras kunyit, bertih dan inai. Inai diletakkan di telapak tangan Musalmah. Sedikit beras putih, kunyit dan bertih. Sisanya ditaburkan ke muka Musalmah. Kemudian ditepungtawari dengan sekuntum bunga. Sedikit pun tak salah. Orang pun kagum kepada ingatan Tahir, meskipun selama ini dia dianggap gila.

            Giliran Encik Begaf pula yang akan ditepung tawarinya. Hadirin bersorak girang. Tahir berdiri dari duduknya. Seolah-olah bersilat sambil tangannya meraba sesuatu dalam bajunya. Tahir mendekati Encik Begaf. Secepat kilat, tidak diduga oleh yang hadir, sebilah keris telah tergenggam ditangannya. Sekelebat keris itu menghunjam dalam perut Encik Begaf. Darah muncrat. Pelaminan yang tadinya dihiasi dengan bunga-bungaan seketika digenangi darah yang memancar dari luka yang menganga dari perut Encik Begaf, diiringi oleh rintih kesakitan. Ruangan yang sebelumnya penuh gelak tawa berubah menjadi jerit ketakutan. Suasana kacau dan hiruk-pikuk. Tahir mengacungkan keris yang berlumuran darah ke atas kepalanya.

            “Diam……… diam. Tenanglah, aku akan menceritakan sesuatu hal yang penting yang harus Tuan-tuan dengar, aku tidak akan menganggu orang lain.

Aku tidak gila seperti yang kalian duga selama ini”. Suara tahir berhasil mengatasi hiruk-pikuk. Ruangan itu tenang seketika. Encik Begaf terkapar di tengah ruangan, tepat di kaki pelaminan. Tidak ada lagi terdengar rintih kesakitan dari mulutnya. Hanya matanya terbelalak menakutkan. Musalmah hanya dapat menangis terisak-isak menyasikan kejadian yang tidak diduganya itu.

            “Kalian mungkin tidak tahu bahwa kematian Tuk Sila adalah rancangan Encik Begaf. Akulah yang melaksanakan rancangan itu. Racun kumasukan ke dalam kopi Tuk Sila. Waktu itu aku yang membuat kopi untuk undangan kenduri di rumah abah Habib.

            “Mengapa……mengapa kau lakukan semua itu?” Tanya salah seorang di antara yang hadir. Suasana tambah sunyi dan mencekam.         

            “Aku diupah oleh Encik Begaf untuk meracuni Tuk Sila. Suatu kali Tuk Sila mengetahui bahwa Encik berbuat serong dengan……………………………………,”

            “Dusta, semua itu fitnah. “Tiba-tiba Cik Robiah meloncat ke arah Tahir. Tahir mengibaskan pegangan perempuan itu sehingga terbanting ke lantai.

            “Cik Robiah telah memerdaya suaminya Tuk Sila. Perempuan ini telah berkhalwat dengan Encik Begaf”. Setiap orang melontarkan pandangan jijik kepada Cik Robiah, malahan ada yang meludahi perempuan pezina itu. Dan alangkah kasihannya Musalmah, mulutnya terkatup rapat, menahan perasaan yang bergelombang di dada.

            “………………tapi Encik tidak puas hanya dengan Cik Robiah. Musalmah juga ingin dimilikinya. Untuk itu Encik mengupahku untuk melenyapkan Hasan, tunangan Musalmah. Ketika kami berdayung ke tengah laut, tengkuk Hasan kupukul dengan pengayuh. Setelah itu lehernya kuikat dengan kain saruang sampai mati. Mayat Hasan kubebani dengan batu lalu kulempar ke laut……..”.

            Musalmah tidak sanggup mendengar pengakuan dari mulut Tahir. Badan yang sudah begitu banyak menanggung sengsara itu rubuh. Tukang Andam cepat menopang tubuh layu itu dan membaringkan ke pangkuannya. Alangkah geramnya perasaan orang-orang yang hadir dalam ruangan itu. Ingin rasanya kala itu juga Tahir akan mereka pukuli. Tapi Tahir tahu akan gelagat yang tidak baik itu, lalu berkata:

            “Tunggu, pengakuanku belum habis. Malam itu setelah membunuh Hasan aku pulang dengan bayangan akan mendapat upah yang besar dari Encik. Tapi apa yang kudapati? Ketika aku sampai kudengar suara perempuan dan laki-laki sedang berkasihan-kasihan. Suara itu adalah suara istriku dan Encik. Aku gelap mata dan berniat membunuh keduanya. Belum sampai maksudku orang bayaran Encik bersembunyi di semak menangkapku dan menghajar diriku. Aku disiksa dan diikat kemudian dilemparkan ke jurang. Syukur aku masih hidup. Untuk mengelabui Encik dan orang-orangnya, aku berpura-pura menjadi orang gila, sehingga mereka menganggapku tidak berbahaya lagi. Aku puas……..aku puas, sekarang tangkaplah aku dan antar kepada Tuan Kontelir’’.

            Pada saat orang sedang terpaku dengan pengakuan Tahir, Cik Robiah merayap memungut gunting yang terletak pada talam tepungtawar. Perempuan itu bangkit dari tempatanya berbaring, lalu gunting itu dihumjamkannya ke jantung Tahir. Lelaki itu memekik kesakitan. Tangan kirinya sempat mencekal baju Cik Robiah, sambil terhuyung-huyung keris di tangan kanannya ditusukkan ke dada Cik Robiah.

            Sebuah lampu jatuh terlanggar orang-orang yang berlarian mencari jalan keluar. Minyak lampu itu disuluti api yang membakar permadani yang terbentang di lantai.

            Tidak ada yang berusaha memadamkan api karena panik. Begitu juga tidak ada yang teringat kepada Musalmah yang sedang pingsan. Masing-masing hanya ingin menyelamatkan diri sendiri. Rumah yang terbuat dari kayu dan beratap rumbia itu terbakar hebat, membakar semua isinya. Api marak menjilati apa saja yang ditemuinya. Seorang perempuan keluar dari kerumunan api, tubuhnya terbakar. Orang-orang baru sadar dengan Musalmah, beramai-ramai mereka menolong perempuan yang malang itu.

 

Beberapa tahun kemudian………………….

            Seorang perempuan berwajah buruk dalam temaramnya lampu pelita sedang tenggelam dalam riuhnya suara anak-anak yang sedang menderas AL-Quran. Dialah

Musalmah, janda kembang yang bernasib malang. Hidupnya dibaktikannya dalam pendidikan agama.

            Setiap orang mencintainya, kendatipun rupanya sudah rusak. Orang dusun menghormatinya. Keperluannya mereka penuhi bersama. Di atas bekas rumah Almarhum Tuk Sila dibangun surau kecil, dan tidak jauh dari sana sebuah gubuk kecil sederhana juga didirikan untuk tempat tinggal. Musalmah. Dari wajahnya yang buruk terpancar cahaya iman yang tebal, ditempa oleh berbagai penderitaan hidup yang dialaminnya. Setiap orang yang melihat Musalmah senantiasa berkata dalam hati kecilnya……sayang Musalmah, alangkah malang nasibmu, alangkah tabah hatimu menghadapi cobaan hidup ini.    

       

0 Comments