ANAK-ANAK di mana ada orang berhajat di situ pula mereka berkerumun. Bak kata pepatah, seperti semut dengan gula. Akan halnya orang dewasa, tidaklah jauh berbeda dengan anak-anak. Kesempatan berhelat semacam ini jarang adanya. Kesempatan mengobati selera. Di mana kerbau, kambing dan ayam dipotong dan dimasak lezat cita rasanya.
Sedangkan susunan makanan semacam
itu, pada orang dusun yang miskin itu susah didapat.
Lebih pula bujang dan dara, sambil
mengukur kelapa dan menggiling rempah, mereka saling berbalas pantun. Saling
mengajuk hati. Semuanya kelihatan riang gembira dan gelak tawa memenuhi setiap
tempat. Orang-orang terhormat dan dihormati mengisi ruangan tengah yang khusus
disediakan untuk mereka, menghadap pelaminan yang dihiasi semenarik mungkin.
Sebaliknya dengan Musalmah. Telah
berbulan-bulan hanya berurai air mata. Mukanya mulai cekung kurang tidur dan
tidak mau makan. Menerbitkan kasihan orang yang melihatnya.
Musalmah gadis malang. Ibunya
meninggal ketika dia berusia lima tahun. Pada saat anak sedang memerlukan
kehangatan kasih sayang seorang ibu. Kemudian ayahnya Tuk Sila kawin lagi.
Hidupnya yang tadinya penuh belaian kasih sayang berubah seketika. Cik Robiah,
ibi tirinya ternyata seorang perempuan kejam. Kekejaman seorang ibu tiri bukan
hanya cerita belaka, tapi benar-benar dialami Musalmah.
Tidak ada lagi air mata yang keluar
dari wajah cekung itu. Telah terlampau banyak derita hidupnya. Semua kawan
Musalmah turut beriba hati.
Berbeda dengan diluar, dalam kamar
pengantin suasana begitu hening. Hanya suara berisik dan gelak tawa dari luar
saja yang terdengar.
“Musalmah, biar wak kenakan baju
pengantin ini. Sekejap lagi pengantin lelaki akan dating” , kata Tukang Andam
dengan lemah lembut. Musalmah hanya diam mematung, tidak mau dipakaikan pakaian
pengantin.
“Pakailah nak. Nanti emakmu marah
pula pada wak” bujuknya.
“Wak, saya tak mau dikawinkan dengan
Encik. Jangan kawinkan saya, tolonglah wak!”
Tukang andam berbisik pada
pembantunya. Kemudian pembantu itu keluar memanggil Cik Robiah, ibu tiri
Musalmah.
Cik Robiah yang sedang duduk
menghadapi tamunya dengan senyum manis yang dibuat-buat minta diri kepada
tamunya sambil membungkuk-bungkuk minta jalan.
“Anak Jalang! Anak Sundal! Anak
Gatal!” katanya perlahan
“Coba kau buat ulah lagi, kubunuh kau nanti!”
Musalmah menggigil mendengar makian dan ancaman ibu tirinya. Seperti kerbau
ditusuk hidungnya dia menurut dihiasi Tukang Andam. Semua orang dusun tahu
Musalmah tidak sudi dikawinkan dengan Encik Begaf. Saudagar kaya yang menguasai
mati hidupnya penduduk dusun itu.
Betapa tidak, kehidupan dusun itu
tergantung dari perikanan. Nelayan di sana hanya buruh, sedangkan seluruh alat
penangkapan mulai dari sampan, jarring, sampai pada bekal makanan mereka
peroleh dari Encik Begaf.
Istri Encik Begaf tak dapat dihitung
jumlahnya. Yang tetap dipakai hanya istri tua. Istri berikutnya setelah setahun
adakalanya kurang dari waktu itu dicerai. Begitulah terus dibuat Encik Begaf,
sehingga jumlah bekas istri dan anak-anaknya sendiri ia sudah lupa. Ada lagi
sifat buruknya, suka mengganggu anak istri orang. Untuk itu ia tidak segan
menggunakan orang sewaannya, menakut-nakuti suami atau ayah dari perempuan yang
diganggunya itu.
Bagi Musalmah derita yang dialaminya
seperti tak akan berakhir. Telah banyak derita yang dialami dalam hidupnya. Tuk
Sila, ayahandanya mati ketika mengambil air sembahyang di sumur. Kematiannya
mencurigakan. Busa putih dan lender kuning keluar dari mulutnya. Padahal
sesudah Maghrib Tuk Sila masih sehat. Sepulangnya dari tempat orang berkenduri
orang tua yang baik hati itu akan sembahyang Isya. Ketika air sembahyang masih
bersisa di badannya. Tuk Sila menghembuskan nafas terakhir.
Kemudian Hasan, calon suami Musalmah
hilang tak tentu laut. Maksudnya Hasan yang berkawan dengan Tahir ke laut
menangkap ikan tidak pernah kembali lagi. Menurut cerita, perahunya karam
diserang badai. Tahir selamat karena tertolong sekeping papan. Sayangnya Tahir
sudah jadi orang bodoh. Pikirannya berubah sejak kejadian yang mengerikan itu
menimpa dirinya.
Encik Begaf dan pengiringnya
didudukkan di atas kasur berhiaskan sulaman benang perada. Rambutnya telah
memutih, di atasnya terletak kopiah tanjak, serta mengenakan baju teluk
belanga. Berlagak seperti orang muda. Sebentar-sebentar mengerjapkan
mata. Sebentar-sebentar memilin kumis yang melintang di bawah hidung yang
bengkok seperti paruh elang. Hadirin senyum mengejek melihat tingkah laku Encik
Begaf.
Tuan Khadi sudah hadir di ruangan
itu. Upacara ijap Kabul akan dimulai. Tuan khadi memanggil Encik Robiah,
bertanyakan kesediaan pihak perempuan menerima Encik Begaf sebagai suami.
“Kecik telapak tangan nyiru
ditampung Tuan Khadi. Anak saya itu berhajat besar benar ‘kan bersuamikan Encik
Begaf”, ujar Cik Robiah disambut ketawa bergumam hadirin. Tuan Khadi tersenyum
masam lalu berkata :
“walaupun begitu, sesuai dengan
hokum dan syarat, baguslah cik menanyakannya sekali lagi. Bukankah begitu
Saudara yang hadir?”. Tuan Khadi menanyakan pada saksi-saksi yang membantunya.
Cik Robiah dengan seorang saksi
pergi ke kamar pengantin, menanyakan kesediaan Musalmah untuk dikawinkan dengan
Encik Begaf. Musalmah tidak menjawab. Menurut kebiasaan, tidak menjawabnya
seorang perempuan tanda setuju.
Tuan Khadi menyalami Encik Begaf.
Upacara ijab Kabul pun berlangsung.
“Aku terima nikahnya dengan maskawin
sebentuk cincin emas tunai.” Encik Begaf menyambut ucapan Tuan Khadi. Lancar,
sedikitpun tak terputus. Maklum, bukan sekali dua melakukan upacara yang
serupa. Menurut hokum agama Islam, detik itu juga sahlah Musalmah menjadi istri
Encik Begaf.
Gendang dan gong ditabuh.
Bertalu-talu. Dua pengantin yang tidak seimbang, bagai ayah dan anak bersanding
di perlaminan.
Tetua kampong dan cerdik pandai
menepungtawari kedua pengantin. Tuba-tiba upacara itu dipenuhi gelak tawa. Tahir
turut dalam barisan orang yang menepungtawari. Mengenakan kopiah buruk dan
pakaian compang-camping. Melemparkan tawa ke sana ke mari, disambut oleh gelak
tawa hadirin. Ketika Tahir duduk menghadap pengantin, tidak ada seorangpun yang
mencegah. Mereka menganggap suatu hiburan yang jarang didapat. Encik Begaf
tersenyum masam.
Tahir mengambil sejumput beras
putih, beras kunyit, bertih dan inai. Inai diletakkan di telapak tangan
Musalmah. Sedikit beras putih, kunyit dan bertih. Sisanya ditaburkan ke muka
Musalmah. Kemudian ditepungtawari dengan sekuntum bunga. Sedikit pun tak salah.
Orang pun kagum kepada ingatan Tahir, meskipun selama ini dia dianggap gila.
Giliran Encik Begaf pula yang akan
ditepung tawarinya. Hadirin bersorak girang. Tahir berdiri dari duduknya.
Seolah-olah bersilat sambil tangannya meraba sesuatu dalam bajunya. Tahir
mendekati Encik Begaf. Secepat kilat, tidak diduga oleh yang hadir, sebilah
keris telah tergenggam ditangannya. Sekelebat keris itu menghunjam dalam perut
Encik Begaf. Darah muncrat. Pelaminan yang tadinya dihiasi dengan bunga-bungaan
seketika digenangi darah yang memancar dari luka yang menganga dari perut Encik
Begaf, diiringi oleh rintih kesakitan. Ruangan yang sebelumnya penuh gelak tawa
berubah menjadi jerit ketakutan. Suasana kacau dan hiruk-pikuk. Tahir
mengacungkan keris yang berlumuran darah ke atas kepalanya.
“Diam……… diam. Tenanglah, aku akan
menceritakan sesuatu hal yang penting yang harus Tuan-tuan dengar, aku tidak
akan menganggu orang lain.
Aku
tidak gila seperti yang kalian duga selama ini”. Suara tahir berhasil mengatasi
hiruk-pikuk. Ruangan itu tenang seketika. Encik Begaf terkapar di tengah
ruangan, tepat di kaki pelaminan. Tidak ada lagi terdengar rintih kesakitan
dari mulutnya. Hanya matanya terbelalak menakutkan. Musalmah hanya dapat
menangis terisak-isak menyasikan kejadian yang tidak diduganya itu.
“Kalian mungkin tidak tahu bahwa
kematian Tuk Sila adalah rancangan Encik Begaf. Akulah yang melaksanakan
rancangan itu. Racun kumasukan ke dalam kopi Tuk Sila. Waktu itu aku yang
membuat kopi untuk undangan kenduri di rumah abah Habib.
“Mengapa……mengapa kau lakukan semua
itu?” Tanya salah seorang di antara yang hadir. Suasana tambah sunyi dan
mencekam.
“Aku diupah oleh Encik Begaf untuk
meracuni Tuk Sila. Suatu kali Tuk Sila mengetahui bahwa Encik berbuat serong
dengan……………………………………,”
“Dusta, semua itu fitnah. “Tiba-tiba
Cik Robiah meloncat ke arah Tahir. Tahir mengibaskan pegangan perempuan itu
sehingga terbanting ke lantai.
“Cik Robiah telah memerdaya suaminya
Tuk Sila. Perempuan ini telah berkhalwat dengan Encik Begaf”. Setiap
orang melontarkan pandangan jijik kepada Cik Robiah, malahan ada yang meludahi
perempuan pezina itu. Dan alangkah kasihannya Musalmah, mulutnya terkatup
rapat, menahan perasaan yang bergelombang di dada.
“………………tapi Encik tidak puas hanya
dengan Cik Robiah. Musalmah juga ingin dimilikinya. Untuk itu Encik mengupahku
untuk melenyapkan Hasan, tunangan Musalmah. Ketika kami berdayung ke tengah
laut, tengkuk Hasan kupukul dengan pengayuh. Setelah itu lehernya kuikat dengan
kain saruang sampai mati. Mayat Hasan kubebani dengan batu lalu kulempar ke
laut……..”.
Musalmah tidak sanggup mendengar
pengakuan dari mulut Tahir. Badan yang sudah begitu banyak menanggung sengsara
itu rubuh. Tukang Andam cepat menopang tubuh layu itu dan membaringkan ke
pangkuannya. Alangkah geramnya perasaan orang-orang yang hadir dalam ruangan
itu. Ingin rasanya kala itu juga Tahir akan mereka pukuli. Tapi Tahir tahu akan
gelagat yang tidak baik itu, lalu berkata:
“Tunggu, pengakuanku belum habis.
Malam itu setelah membunuh Hasan aku pulang dengan bayangan akan mendapat upah
yang besar dari Encik. Tapi apa yang kudapati? Ketika aku sampai kudengar suara
perempuan dan laki-laki sedang berkasihan-kasihan. Suara itu adalah suara
istriku dan Encik. Aku gelap mata dan berniat membunuh keduanya. Belum sampai
maksudku orang bayaran Encik bersembunyi di semak menangkapku dan menghajar
diriku. Aku disiksa dan diikat kemudian dilemparkan ke jurang. Syukur aku masih
hidup. Untuk mengelabui Encik dan orang-orangnya, aku berpura-pura menjadi
orang gila, sehingga mereka menganggapku tidak berbahaya lagi. Aku puas……..aku
puas, sekarang tangkaplah aku dan antar kepada Tuan Kontelir’’.
Pada saat orang sedang terpaku dengan
pengakuan Tahir, Cik Robiah merayap memungut gunting yang terletak pada talam
tepungtawar. Perempuan itu bangkit dari tempatanya berbaring, lalu gunting itu
dihumjamkannya ke jantung Tahir. Lelaki itu memekik kesakitan. Tangan kirinya
sempat mencekal baju Cik Robiah, sambil terhuyung-huyung keris di tangan
kanannya ditusukkan ke dada Cik Robiah.
Sebuah lampu jatuh terlanggar
orang-orang yang berlarian mencari jalan keluar. Minyak lampu itu disuluti api
yang membakar permadani yang terbentang di lantai.
Tidak ada yang berusaha memadamkan
api karena panik. Begitu juga tidak ada yang teringat kepada Musalmah yang
sedang pingsan. Masing-masing hanya ingin menyelamatkan diri sendiri. Rumah
yang terbuat dari kayu dan beratap rumbia itu terbakar hebat, membakar semua
isinya. Api marak menjilati apa saja yang ditemuinya. Seorang perempuan keluar
dari kerumunan api, tubuhnya terbakar. Orang-orang baru sadar dengan Musalmah,
beramai-ramai mereka menolong perempuan yang malang itu.
Beberapa tahun kemudian………………….
Seorang perempuan berwajah buruk
dalam temaramnya lampu pelita sedang tenggelam dalam riuhnya suara anak-anak
yang sedang menderas AL-Quran. Dialah
Musalmah,
janda kembang yang bernasib malang. Hidupnya dibaktikannya dalam pendidikan
agama.
Setiap orang mencintainya,
kendatipun rupanya sudah rusak. Orang dusun menghormatinya. Keperluannya mereka
penuhi bersama. Di atas bekas rumah Almarhum Tuk Sila dibangun surau kecil, dan
tidak jauh dari sana sebuah gubuk kecil sederhana juga didirikan untuk tempat
tinggal. Musalmah. Dari wajahnya yang buruk terpancar cahaya iman yang tebal,
ditempa oleh berbagai penderitaan hidup yang dialaminnya. Setiap orang yang
melihat Musalmah senantiasa berkata dalam hati kecilnya……sayang Musalmah,
alangkah malang nasibmu, alangkah tabah hatimu menghadapi cobaan hidup ini.

0 Comments