NERAKA ROMUSHA - - Nahar Efendi



 PAGI itu cuaca cerah sekali. Aku dan Kardi adikku sedang mencari rumput untuk makanan kambing. Ayah sedang di kebun. Kopi Arab yang ditanam ayah sebanyak 300 batang semuanya tumbuh subur.

            Buahnya hampir masak. Ayah sudah menjanjikan kepada kami akan membeli baju bila panen selesai. Sambil mencari rumput, aku dan kardi terlibat dalam percakapan tentang kambing yang kami pelihara. Oleh ayah kambing-kambing yang kami pelihara, diberikan atas nama kami.

            Rumput yang telah disabit kami kumpulkan dahulu. Setelah banyak, dimasukkan ke dalam goni. Sedang kami memasukkan rumput ke dalam karung goni, dari jauh terdengar suara ibu memanggil. Makin lama semakin jelas terdengar. Ada getaran aneh terdengar di suara ibu. Mungkinkah ……ah, mungkinkah terjadi sesuatu hal di rumah ? kami saling bertanya. Ibu baru dua bulan melahirkan. Senu Anwar, adikku yang paling bungsu, akhir-akhir ini sering sakit. Dengan karung yang berisi separuhnya saja, kami berlari-lari mendapatkan ibu.

            Muka ibu kelihatan pucat. Air mata membasahi pipinya. Kami tidak sempat bertanya lagi, ibu terus menghela kami pulang ke rumah. Di halaman rumah berdiri tiga orang berseragam, lengkap dengan senjata di tangan. Aku cepat menebak bahwa mereka adalah serdadu Jepang. Ayah dan beberapa orang temannya kelihatan berdiri sambil menundukkan muka. Ketiga serdadu itu memaksa kami untuk berkemas-kemas. Yang boleh dibawa hanya alat dapur dan pakaian. Barang-barang lain dinyatakan terlarang.

            Tidak kurang dari 100 orang, laki-laki perempuan dan anak-anak dimasukkan ke dalam kapal. Sebelum berangkat terlebih dahulu kami diberitahukan akan dibawa ke Dumai.

 

Sampai di Dumai

            Sebenarnya jarak kampungku dengan Dumai hanya sejam pelayaran dengan perahu. Seumur hidupku belum pernah naik kapal. Dulu aku pernah membayangkan betapa enaknya naik kapal laut ketika ayah dan ibu menceritakan perjalanan mereka dari Jawa ke Sumatera. Tapi kini aku sama sekali tidak merasa gembira. Hanya kesedihan yang meliputi diri kami. Betapa tidak, ternak ayam, kambing, kebun kopi dan rumah, ditinggali begitu saja tanpa ada yang bakal mengurus. Lagi pula kami sudah sering mendengar betapa kejamnya perlakuan serdadu Jepang terhadap romusha. Dua puluh menit berlayar, kapal sampai di Dumai, merapat di jembatan. Kami disuruh berbaris dan digiring ke kamp. Di sepanjang jalan kelihatan romusha berpakaian compang-camping, tulang-tulang mereka seakan-akan mau menembus kulit, mengerikan sekali. Seorang romusha terhuyung-huyung berjalan ke arah rombongan kami, meminta sesuatu dalam Bahasa jawa. Ayah merasa kasihan dan ingin mendekatinya, tetapi serdadu Jepang yanag mengawal kami bertindak lebih cepat, menghantamkan popor senapannya di kepala romusha itu. Hanya sedikit keluhan yang keluar dari mulutnya, beberapa detik kemudian romusha yang malang itu menghembuskan nafasnya yang terakhir, mati di dalam parit yang baru digalinya.

            Hatiku menjadi ciut. Detik-detik pertama kami menjejakkan kaki di Dumai, suatu kekejaman telah menyambut kami. Terdengar isak tertahan di kerongkongan ibu dan beberapa wanita lain. Mata ayah kelihatan merah dan giginya gemertak menahan amarah.

            Kamp yang kami tempati hanya berjarak 400 meter dari laut. Tidak berdinding, lantai tanah beratapkan daun nipah. Untuk menghindarkan nyamuk, kami membuat unggunan api. Alangkah sengsaranya. Aku menangis melihat keadaan ibu dan si kecil Senu. Adikku Kardi dan Juremi tertidur pulas di atas tanah.

            Sepanjang kamp dipenuhi orang-orang yang tertidur keletihan, bau asap yang memusingkan kepala dan erangan romusha sakit.

 

Bagian Pertanian

            Keesokan paginya kami dikejutkan oleh tiupan terompet dan bentakkan serdadu membangunkan romusha yang masih tidur. Kami lalu digiring ke tempat yang agak lapang dan disuruh membungkuk menghadap matahari terbit. Semula aku sama sekali tidak mengerti untuk apa kerja itu dilakukan.

            Selesai upacara tersebut kami, rombongan yang berasal dari Batupanjang, dipanggil oleh komandan jepang. Kepada kami diberikan tugas sebagai romusha bagian pertanian. Romusha yang ada dibagi 3 bagian. Ada bagian jalan dan ada yang bagian besi, tugasnya memasang rel kereta api dan membuat tangka minyak. Dibangdingkan dengan bagian jalan dan besi, bagian pertanian lebih baik. Setiap kepala keluarga menempati gubuk-gubuk yang dibangun sendiri ditengah ladang jagung dan ubi kayu.

            Setiap pagi kami berkumpul. Siap untuk upacara menghormati kaisar, kami digiring masuk hutan. Menebangi kayu untuk dijadikan daerah pertanian. Bagian pertanian dimandori oleh seorang mandor bangsa jepang. Namanya aku tidak tahu kami memanggilnya dengan panggilan Danco Kodo.

            Makanan di bagian pertanian lebih baik dibandingkan dengan bagian lain. Banyak faktornya. Pertama, jepang menganggap bagian ini penting sebagai produsen bahan makanan mereka. Kedua, karena kami tinggal di dalam kebun, diberi sedikit kebebasan untuk mengambil tanam-tanaman yang ada di sama. Kemudian baru kami ketahui bahwa kebebasan itu hanyalah kebijaksanaan dari Danco Kodo kami saja. Orangnya ramah dan simpatik. Penggantinya menghapuskan kebijaksanaan tersebut. Makanan harus dijatah. Yang melanggarnya dipindahkan ke bagian jalan atau besi.

            Mereka yang tinggal di kamp kehidupannya lebih sengsara. Makanan mereka dijatah dalam tempurung kelapa yang telah dikikis. Menu yang mereka dapat, untuk makan siang bubur nasi dan kangkung rebus. Sore kepurun (Tepung segu yang dimasak dengan air mirip perekat) dan sayur keladi. Ketika bahan makanan hampir habis, banyak romusha yang mati kelaparan.

 

Sudah jatuh ditimba tangga

            Tuhan masih mencoba keimanan keluargaku. Setelah tiga bulan tinggal di Dumai, ibu yang kami cintai berpulang kerahmatullah akibat malaria. Waktu itu senu berumur lima bulan.

            Aku dan Kardi beberapa kali jatuh pingsan. Juremi masi belum tahu apa-apa. Setelah seminggu ibu dikebumikan, Juremi mulai sering menanyakan ibu. Bila ada wanita yang dijumpainya, Juremi lalu mengejar dan mendekapnya disangka ibu.

            Ibu dikuburkan di kuburan khusus romusha. Setiap hari ada yang mati, tidak kurang sepuluh orang sehari dikuburkan. Dikuburkan ke dalam sebuah lobang, ditimbun dan di atas kuburan masal itu dipasang nisan kayu bulat. Sekarang akulah pengganti ibu. Sebelum berangkat kerja, pagi-pagi sudah bangun. Memasak bubur untuk Senu. Kadang-kadang bila beras habis, Senu tidak bisa minum air didih hanya minum air the biasa.

            Tidak jauh dari tempat kami tinggal ada beberapa belas buah gubuk nelayan. Gubuk-gubuk itu dihuni oleh orang Melayu. Waktu itu Dumai merupakan belantara yang kejam dan mengerikan. Keluarga melayu itulah yang menghuninya di bagian pantai. Jauuh di pedalaman tinggal suku sakai.

            Keluarga Wan Dolah telah berbaik hati menolong merawat Senu. Sehingga senu bisa dibesarkan dengan sempurna. Apalah dayaku seorang anak laki-laki yang berusia delapan tahun terlebih-lebih lagi harus membagi waktu antara keluarga dan kerja paksa.

 

Tumo

Keadaan kian lama kian menyiksa. Sekarang jumlah romusha yang mati menjadi ratusan setiap hari. Sepanjang jalan Pelabuhan Sismic dan jalan Sudirman sekarang ini bergelimpangan mayat-mayat dan orang-orang yang sedang menghadapi sekaratul maut.

            Kuburan romusha yang lokasinya sekarang di sekitar toko Sentosa dan Bank Dagang Negara, sudah hampir penuh. Tidak kurang puluhan ribu mayat ditanam disana. Malahan mereka yang masih bernapas pun ditimbun begitu saja. Korban yang paling banyak adalah dari bagian besi dan jalan. Bagian besi dipekerjakan membuat tengki minyak (daerah ini sekarang disebut dengan tangki Jepang. Waktu Caltex membuka Dumai, tangki-tangki tersebut dibongkar). Sedang bagian jalan merintis dan memasang rel kereta api yang bakal menghubungkan Dumai dengan Logas.

            Di masa pendudukan Jepang itu pulalah bersimaharajalela tumo (bentuknya mirip kutu rambut, tetapi berwarna putih). Bila malam tiba tumo-tumo itu turun seperti hujan. Suaranya bergemersik. Tumo ini makan darah manusia, waktu pagi goni yang kami pakai, merah oleh warna tumo yang jumlahnya ratusan itu. Setiap pagi masak air di dalam cawan besar. Lalu baju goni yang dipakai itu dimasukkan ke dalam air mendidih. Begitulah setiap hari dilakukan, namun jika malam mendatang, tumo-tumo itu kembali memenuhi baju goni yang kami pakai.

 

Kuburan yang dimusnahkan

            Setelah hampir dua tahun aku dan ayah bekerja sebagai romusha, sikap serdadu-serdadu Jepang sedikit berubah. Tidak segalak dulu lagi.

            Pada suatu hari kami dikumpulkan oleh serdadu Jepang. Lalu digiring ke kuburan. Seribu pertanyaan membuncah. Apakah kami semuanya akan ditembak mati? Kami sudah tawakal. Apa pun yang terjadi, terjadilah.

Sesampainya di kuburan, serdadu Jepang memerintahkan kami untuk mencabut kayu-kayu nisan serta meratakan gundukan tanah pekuburan. Setelah rata kami lalu digiring kembali ke kamp.

            Kepada kami tidak dipaksakan lagi bekerja. Jepang-jepang itu kelihatannya sudah mulai lesu dan tidak bersemangat seperti dulu.

 

Kembali ke alam bebas

            Beberapa waktu kemudian kami dengar Jepang kalah perang. Serdadu-serdadu jepang mulai meninggalkan Dumai. Romusha-romusha yang masih hidup, banyak meninggalkan Dumai. Ada juga yang menetap, termasuk kami ada kira-kira 60 orang romusha yang berasal dari Jawa.

            Kami, ayah, aku, kadir, Juremi, dan Senu yang telah diambil kembali dari keluarga Wan Dolah, lalu membuka tanah Batupanjang. Pulang ke sana hanya menimbulkan kesedihan saja. Biarlah di antara puing-puing kehancuran ini kami membangun kembali.

0 Comments