TETESAN hujan jatuh di permukaan air. Membuat lobang-lobang kecil sebesar lidi kelapa, bagaikan bekas lobang cacar. Laut tenang. Tapi kabut tebal menyelimuti pemandangan lebih jauh dari enam meter. Tidak biasa bukan? Kabut di waktu subuh menandakan hari panas. Musim Utara adalah musim yang ganas. Setiap musim Utara tiba, selain ada korban berjatuhan. Bisa saja perahu dihempaskan ke gundukan karang, pecah. Dilemparkan ke beting pasir, berhari-hari berjuang mempertahankan hidup sampai ada bantuan.
………..sebuah perahu dan seorang lelaki di dalamnya. Lelaki
itu seperti tidak kuasa mendayung perahunya. Dalam keadaan laut setenang itu,
kalaulah sekedar hujan dank abut bukanlah halangan besar bagi Awang Musa.
Baginya laut adalah sabagian dari hidupnya. Napas Awang Musa tersendat-sendat.
Pada pengelangan tangannya ada goresan luka. Bekas bacokan golok. Dan hampir
beberapa senti di atas perut sebuah luka besar menganga. Luka itu masih
mengeluarkan darah. Yang membasahi lantai perahu. Percikan darah ada di
mana-mana, di dalam perahu.
Walau hujan turun, Awang Musa merasakan haus yang teramat
sangat. Beberapa kali mulutnya menengadah ke atas menampung hujan, tapi gerimis
yang turun sepagi itu tidak cukup melipur dahaganya.
“Air… air…”, rintih Awang Musa. Kerongkongannya bagaikan
bara api. Kering dan panas. Awang Musa menggeserkan badanya ke belakang.
Tangannya digerakkan untuk mencapai tempayan pada petak ruang buritan.
Tidak ada kaleng untuk mengambil air tempayan. Semuanya
telah dibuang oleh cina oca. Semuanya telah habis kecuali tempayan. Itu pun
karena berat dan sulit mengeluarkannya dari petak ruang yang sempit itu. Jika
tidak, pasti akan mengalami nasib yang sama pula.
Ia memasukkan tangannya ke dalam mulut tempayan.
Tangannya bergetar menahan sakit. Ketika tangan itu mencapai air, ia mengeluh.
Tangannya tiba-tiba terasa kaku, tidak ada daya untuk menggerak-gerakkan.
Perahu itu terbawa arus. Perlahan-lahan menyusuri pantai.
Kabut perlahan-lahan bersembunyi, malu pada matahari yang mulai menampakkan
diri. Gerimis mulai reda. Ia berjuang keras untuk menarik tangannya ke luar
dari mulut tempayan.
“Bismillah”, sambil memejamkan mata dia menarik
tangannya. Air yang tersisa di sela jari diisapnya dan disapukannya ke seluruh
wajahnya.
Karena kemudi tidak dijaga perahu yang ditumpangi Awang
Musa menabrak akar bakau. Buritan berputar mengikuti arus, haluan tertahan di
sela-sela akar bakau. Bila dibiarkan, lama-lama perahu itu bisa pecah. Awang
Musa menyadari bahaya yang akan menimpa dirinya sekiranya itu terjadi. Laut
tidak terlalu dalam di sekitar pantai, tapi dalam keadaan badannya yang terluka
seperti itu, dia tidak akan mampu bertahan di dalam air.
Dari kejauhan ada suara deru angin. Angin Utara yang
ditakuti oleh nelayan dan pelaut pada pulau-pulau kecil pesisir Timur Sumatera,
karena ganas dan tak kenal ampun.
Tiba-tiba laut yang tadinya damai berubah menggelora.
Menghantam sisi-sisi akar bakau, menimbulkan buih berdesis-desis, menghantam
apa saja yang ditemuinya. Perahunya tidak terluput nasib malang. Haluan
terjepit pukulan ombak menghantam sisa perahu mengakibatkan perahu itu pecah
tak tertolong lagi. Awang Musa terlempar ke luar, tubuhnya menimpa pohon bakau.
Sebuah ombak lebih besar menerjang pesisir. Ombak itu turut menggulung Awang Musa.
Dalam keadaan tidak berdaya, tangannya sempat menangkap kepingan papan perahu,
ia mendekap papan itu erat-erat. Dia menyadari nyawanya tergantung pada
sekeping papan itu. Dadanya yang terluka terasa perih menyayat-nyayat.
Dia telah pasrah. Menyerahkan diri bulat-bulat kepada
Penciptanya. Semacam bisikan halus menembus lubuk hatinya yang paling dalam.
Bisikan itu menyadarkannya bahwa Tuhan menyuruh umatnya berusaha dalam setiap
situasi dan kondisi yang bagaimanapun juga.
Bisikan itu menimbulkan kembali semangat juangnya yang
telah mengendor. Diatas sekeping papan itu, selama dua hari dua malam tanpa
makan dan sekali-sekali minum dari tetesan hujan, ia mempertahankan hidupnya.
BAYANGAN yang pudar, kian lama kian terang. Awang Musa
merasakan dirinya berada dalam ruangan yang putih bersih. Semuanya serba putih,
mulai dari tembok bercat putih sampai kain skrim berwarna putih.
“Matikah aku? “pikirnya. Mungkin ini yang bernama akhirat
itu. Ia ingin meraba wajahnya, tangannya yang terbalut gips berat untuk digerakkan.
Dadanya telat dibalut dan sakitnya mulai berkurang.
“Dia telah sadar”.
“Syukurlah, masa kritisnya telah berlalu”.
Di sampingnya dua orang lelaki, seorang dokter dan
seorang berseragam polisi, sejak tadi memperhatikan keadaan Awang Musa yang telah
pingsan tidak kurang dari tiga hari tiga malam sejak dia diketemukan oleh
patrol Airud tidak jauh dari batas pelayaran Internasional.
“Mudah-mudahan cepat sembuh. Kami ingin mengumpulkan
keterangan darinya”.
“Berikan dahulu kesempatan baginya untuk istirahat. Dia
menderita terlalu parah. Saya kagum pada daya tahun fisiknya. Jarang manusia
dapat bertahan dalam keadaan seperti yang pernah dialaminya”, kata dokter
irawan sambil memasukkan serum ke dalam tabung suntikan, kemudian
disuntikkannya kepada Awang Musa.
“Kami yakin dia punya kaitan dengan dua mayat yang
ditemukan kemarin sore dan tadi pagi”, kata letnan Dwi Harsadi ketika mereka
bersama-sama meninggalkan kamar tempat Awang Musa dirawat.
MINGGU kedua di rumah sakit, kesehatan Awang Musa berangsur
pulih. Oleh pimpinan rumah sakit, letnan Dwi Harsadi diijinkan untuk mengajukan
pertanyaan-pertanyaan yang tidak terlalu berat, mengingat keadaan Awang Musa
yang belum begitu sehat.
“Bagaimana perasaaan Bapak sekarang?”, letnan Dwi Harsadi
memulai pertanyaannya ketika mereka duduk di kursi pada lapangan rumput di
belakang rumah sakit.
“Ada sedikit baik”.
“Kalau boleh, saya ingin meminta kesediaan pak Awang
menceritakan pengalaman bapak atas kemalangan yang menimpa diri bapak”.
Sejenak Awang Musa menatap perwira polisi yang masih muda
itu. Perhatian serta keramahannya selama ini sangat menarik hati Awang Musa.
Lagi pula dia telah bertekat untuk menuturkan pengalaman yang menimpa dirinya
dan juga nelayan lain kepada pihak yang berwajib. Nasib yang selalu menimpa
mereka, nelayan-nelayan kecil, sejak beberapa puluh tahun yang lalu selalu
menjadi bulan-bulanan bajak laut yang kadang kala berkedok sebagai penangkap
ikan.
…..bukan hanya sekali, tetapi telah berulang kali. Bukan
baru sekarang peristiwa seperti ini terjadi, di mana nelayan-nelayan yang lazim
dipanggil dengan sabutan cina oca memperlakukan nelayan pribumi secara sadis,
karena mereka menduga bahwa nelayan pribumi secara sadis, karena mereka menduga
bahwa nelayan pribumi selalu menjadi biang keladi pencurian jarring milik
mereka.
Sejak jaman Belanda, cina oca yang kebanyakan berasal
dari semenanjung sering melakukan pencurian ikan di perairan Sumatera bagian
Timur. Dengan persediaan bekal yang cukup, melakukan penangkapan ikan
berminggu-minggu malahan sampai berbulan-bulan di lautan. Di samping bekal
makan minum, tidak kurang pula ada di antaranya yang menyimpan senjata api.
Semula ada tangan-tangan jahil tergiur untuk memotong
jarring oca yang panjangnya ratusan meter itu setiap kali dilabuhkan.
Pencurian-pencurian ini menimbulkan dendam kesumat dalam diri oca, tanpa
membedakan siapa yang bersalah dan siapa yang tidak, mereka main babat habis.
Tidak jarang ada nelayan yang bernasip malang, dibunuh. Banyak pula yang disiksa
dengan kesadisan binatang buas. Kedua ibu jari kaki dan ibu jari tangannya
diikat satu sama lain, hidup-hidup dilempar ke laut hingga mati lemas.
Keadaan menjadi berubah. Berbalik. Mereka melakukan peran
perampok. Jarring-jaring korbannya disikat, perahu ditenggelamkan. Mereka
ketawa puas karena nelayan pribumi takut memasuki daerah penangkapan ikan yang
telah mereka kuasai secara tidak langsung.
Sudah satu hari dua malam Awang Musa bersama anaknya
meninggalkan pangkalan Penampar. Biasanya sampai seminggu berada di laut selat
Malaka. Menangkap ikan dengan menggunakan jarring nilon. Dengan sepuluh utas
jaring itulah Awang Musa menyuapi sepuluh mulut yang menjadi tenggungannya.
Anaknya yang paling tua, Hasbi, selama libur puasa dibawa
Awang Musa membantu-bantunya di laut. Dengan demikian beban yang ditanggungnya
sendirian terbantu juga.
Malam kedua, tidak selang beberapa jam setelah pergantian
hari, kedua beranak itu sibuk membongkar jaring. Baru dua malam mereka
menjaring, hasilnya cukup memuaskan. Siang hari dipergunakan untuk menggarami
ikan tangkapan malamnya. Keduanya bekerja tak kenal lelah.
Dari kejauhan terdengar suara mesin motor pompong. Motor
pompon itu mendekati mereka sambil mengarahkan lampu sorotnya yang menyilaukan.
Sesaat Awang Musa dan Hasbi terhenti mengangkat jaring dari permukaan air.
Sorotan lampu itu menggangu sekali. Dengan kecepatan tinggi motor pompong itu
berputar tiga kali mengelilingi perahu, membuat perahu itu terombang-ambing
bagaikan sabut kelapa. Jaring yang berada dalam genggaman Awang Musa terlepas
kembali ke laut. Keduanya berpegang pada sisi perahu menghindarkan jatuh ke
dalam laut.
Setelah ombak reda, jurumudi pompong mengarahkan
pompongnya mendekat perahu. Mesin dimatikan, pompong itu meluncur kea rah
perahu dan langsung menabrak. Tabrakkannya tidak begitu keras, tetapi sempat
membuat Hasbi terpelanting di atas timbunan ikan di petak ruang tengah.
Awang Musa yang merasa tidak bersalah, menjadi marah atas
perlakuan cina oca di atas pompon itu. Tangannya teracung ke atas sambil
menggengam sebilah parang.
“Haiiya la, lu cali mampus ya ?” maki seorang awak motor
pompong itu.
“Mampud nenek moyangmu. Kau pikir aku takut mampus. Mari
kalau kamu berani. Kukabung batang tubuhmu itu buat makan babi piaraan
moyangmu”, Awang Musa tidak dapat menahan emosinya. Kata-katanya keluar tidak
terkendalikan lagi.
Ketika awak pompong itu berdiri di haluan. Seorang di
antaranya yang bertubuh kekar berkata sambil menudingkan telunjuknya kepada
Awang Musa.
“Kamu olang culi kami punya jaling la?, semalam kami
kehilangan sepuluh utas jaling nilon”.
“Apa urusanku dengan hilangnya jaring nilonmu, kami bukan
keturunan lanun macam kamu orang”, balas Awang Musa tidak kalah sengitnya.
“Kolang ajal, kamu olang mau mampus”, cina oca itu
meloncat ke dalam perahu. Gerak kakinya ringan sekali, tidak sepadan dengan
berat tubuhnya yang hampir mencapai delapan puluh kilo. Perahu itu tidak oleng
oleh loncatannya.
Awang Musa bersiap sedia. Dia tahu bahwa dia sedang
berhadapan dengan orang “berisi”. Hasbi, walau baru di kelas dua es-em-pe
bukanlah seorang yang penakut. Dia maju membentengi ayahnya.
“Haiiiya Ia, jangan budak kecil yang kamu olang suluh
lawan sama gua. Buat apa badanmu yang besal itu. Sepuluh ekol hiu pun tak habis
menyantapnya”, cina oca itu ketawa mengejek, gigi emasnya berkilat ditimpa
cahaya lampu teng.
“Hasbi, mundur kau. Pegang kemudi, biar ayah yang
menghadapi babi tunggal ini”. Awang Musa bukan orang sembarangan. Silat Puake
sudah lulus ujian di laut. Jadi bukan tingkat halaman atau tingkat rumah lagi.
Pesan gurunya Datuk Pituah tergiang di telinganya. Musuh jangan dicari, tapi
bila dicoba lawanlah sampai kerat tulang terakhir.
“Majulah kawan. Aku menanti. Remuk-luluhkan diriku seperi
maumu”, tentang Awang Musa. Perahu yang garis tengahnya tidak lebih dari
setengah meter dan panjang hanya mencapai lima meter itu berubah menjadi arena
perkelahian.
Cina oca itu ahli kuntau. Geraknya lincah, berkelit
menghindari serangan Awang Musa dan balas menyerang dengan jurus yang
mematikan.
Memang sulit berkelahi dalam ruangan yang sempit apalagi
dalam sebuah perahu yang senantiasa diombang-ambingkan ombak. Tapi bagi Awang
Musa perkelahian seperti itu bukanlah sesuatu hal yang terlalu menyusahkan.
Silat Puake termasuk silat yang memerlukan bakat dan keuletan serta ketabahan
dalam berlatih. Tingkat rumah atau loteng saja pada ujian kenaikan tingkat baru
bisa lulus setelah mampu berkelahi tanpa mengeluarkan suara bergeser sedikitpun
di atas lantai.
Kedua oca yang berada dalam motor pompong tidak tinggal
diam. Seorang diantaranya memegang sebuah senapan berlaras panjang. Sementara
temannya menggengam sebilah golok besar.
Hasbi yang disuruh ayahnya memegang kemudi, tidak senang
diam. Hatinya gelisah. Kegelisahan seorang
anak menyaksikan ayahnya bertarung menghadapi dua pilihan, hidup atau mati.
Hati siapa yang akan tega? Nekat, tanpa perhitungan sama sekali. Hasbi
meninggalkan kemudi lalu mengambil dayung dari tempat penopang dayung.
Oca yang bersenapan tidak tinggal diam. Jari telunjuknya
bergerak menarik pelatuk. Suara tembakan bergema di tengah malam, di tengah
lautan luas. Gemanya terdengara beberapa mil memecah kesunyian malam. Hasbi
mendekap dadanya sambil berteriak kesakitan memanggil ayahnya. Jeritan itu hilang
bersama terceburnya tubuh kecil itu ke dalam laut. Daya pusat serangan Awang
Musa terbagi. Pertahanannya jadi lemah. Kelengahan ini dimanfaatkan lawannya.
Sebuah pukulan samping menghantam dada kirinya. Awang Musa tersentak ke
belakang. Dadanya sakit dan sukar bernapas. Pada saat yang sama lawannya maju
ke muka menubruk Awang Musa. Tapi secara refleks Awang Musa menendang dada cina
oca itu dengan tumit kakinya.
Lelaki itu terjengkang ke belakang. Sesaat ia nanar oleh
serangan yang tidak diduganya sama sekali. Dalam kesempatan bernapas sejenak,
Awang musa melihat ke tempat jatuhnya Hasbi. Tidak ada satu bayangan pun yang
kelihatan. Perih, perih hatinya demi terbayang olehnya anaknya sedang berjuang
dalam air melawan kelemasan dan luka peluru yang merobek dadanya.
Tiba-tiba dada Awang Musa seperti tidak mampu menahan
ledakan amarah yang meluap-luap. Tekadnya sudah bulat. Membunuh oca yang telah
mengakibatkan hilangnya Hasbi. Awang Musa mengamuk bagaikan macan yang terluka.
Lawannya mengeluarkan darah segar dari mulutnya. Bertubi-tubi pukulan Awang
Musa menghantam tubuh lawannya. Daya tahan lelaki itu boleh juga. Dalam keadaan
begitu dia masih mampu bertahan dan membalas serangan.
Melihat temannya terdesak, oca yang besenjata golok
meloncat ke dalam perahu. Perkelahian dua lawan satu terjadi. Meski dikerubuti
dua lawan, Awang Musa tidak merasa kewalahan. Dia tidak menghiraukan keadaan
dirinya sendiri. Nafsu ingin membalas perlakuan oca-oca itu terhadap Hasbi
lebih kuat. Oca yang dadanya terluka menjadi bersemangat setelah mendapat
bantuan dari temannya. Berdua mereka menggasak Awang Musa. Oca bergolok
menetakkan goloknya. Tetakan itu lewat ke samping karena Awang Musa cepat
berkelit. Awang Musa melayani kedua lawannya lebih hati-hati. Oca bergolok ternyata
boleh juga kepandaian silatnya. Serangan goloknya selalu membahayakan
pertahanan Awang Musa.
Karena mendapat bantuan temannya oca yang telah terluka
oleh pukulan Awang Musa menjadi lengah. Kelengahan lawannya dimanfaatkan Awang
Musa. Sambil berkelit menghindarkan tebasan golok, dengan suatu teriakan tak
terduga menyerang lawannya. Tendangan Awang Musa keras sekali mengenai
selangkangan lawannya. Oca itu menjerit keras, tubuhnya terlonjak dan mencebur
ke dalam laut.
Temannya di dalam pompon melemparkan tali memberi
bantuan, tapi oca itu tidak mampu bertahan dalam air dalam keadaan terluka
parah. Perlahan-lahan tubuhnya tenggelam di dalam air. Kini pertarungan satu
lawan satu. Oca yang bergolok itu bukanlah tandingan Awang Musa. Sebentar saja
oca itu mulai terdesak. Serangan Awang Musa datangnya bertubi-tubi.
Melihat temannya terdesak,oca yang berada dalam pompong
membidikkan senapannya. Timbul keraguan di hatinya untuk melepaskan tembakan.
Lampu teng yang tadinya menyala, telah hancur oleh perkelahian di atas perahu.
Yang terlihat hanya bayangan samar. Senapan itu diturunkannya kembali.
Nasib malang menimpa Awang Musa, meski lawannya telah
kewalahan menghadapi serangannya, tetapi suatu kali kakinya terpeleset. Awang
Musa terjengkang ke belakang. Lawannya melihat peluang emas itu langsung
menyabetkan goloknya. Awang Musa berusaha menangkis. Tangannya terkena sabetan
golok, darah mengucur. Serangan berikutnya dada Awang Musa robek oleh ayunan
golok lawannya.
Tapi kemalangan Awang Musa secara tidak langsung
mendatangkan keuntungan pula baginya. Oca yang di atas pompong itu salah
pengertian. Menduga temannya terluka oleh sabetan golok tak berpikir panjang
lagi dia langsung melepaskan tembakan.
Untuk kedua kalinya tembakkan bergema di tengah malam
itu. Tapi yang menjadi korban bukanlah Awang Musa, melainkan lawannya. Cina oca
itu terpekik kesakitan. Pada saat yang sama pula Awang Musa balas menyerang.
Pukulannya menghantam lambung lawannya. Dalam waktu yang tidak berjangka lama
tiga manusia menjadi korban selat malaka.
Akan halnya oca yang berada dalam motor pompong itu
melihat tembakannya salah sasaran, timbul rasa takutnya. Lebih-lebih melihat
Awang Musa berdayung ke arahnya. Terburu-buru dia lari ke kamar mesin
menghidupkan mesin. Kemudian dengan kecepatan tinggi motor pompong itu
diarahkannya ke perahu Awang Musa.
Awang Musa sembari menahan rasa sakit, dengan sekuat
tenaga mendayung perahunya menghindarkan tabrakan. Motor pompong itu terus
melaju meninggalkan Awang Musa setelah gagal menabrak perahu itu.
Diiringi oleh kesedihan yang tak terlukiskan, Awang Musa
mengayuh perahu meninggalkan tempat terkutuk itu. Lelaki setengah baya itu
tidak mampu mengeluarkan air matanya lagi. Air matanya dirasakannya jatuh ke
dalam. Berbaur dengan hatinya yang luluh….
LETNAN Dwi Harsadi menghela napas dalam-dalam setelah
mendengar penuturan Awang Musa. Sebagai seorang hamba hukum dia sudah lama
mensinyalir kasus-kasus seperti ini. Tetapi selalu mengalami kesukaran karena
kurangnya kesadaran orang-orang yang jadi korban oca itu untuk melapor kepada
yang berwajib. Karena keadaan dua mayat yang berada dalam kamar mayat sudah
rusak sekali, demi memudahkan pihak kepolisian untuk mengusut perkara itu
nantinya, hari itu juga Awang Musa dibawa untuk mengenali kedua mayat itu.
Mayat cina oca itu dikenali Awang Musa karena gigi
atasnya dilapisi sumbi emas. Mayat kedua, membuat pertugas-pertugas yang berada
di sana melupakan rasa jijiknya sejenak. Awang Musa menangis tersedu-sedu.
Mayat itu adalah mayat anaknya Hasbi. Pada jari manis kirinya sebentuk cincin
terbuat dari besi putih dengan gambar tengkorak hampir saja tertutup oleh
gumpalan daging jarinya yang telah membusuk. Semua menekur kepala, turut
berduka atas musibah yang menimpa Awang Musa. Mayat ketgia yang diduga mati dalam
kejadian tersebut tidak pernah diketemukan lagi. Mungkin terkubur bersama
tulang-belulang dalam perut ikan-ikan hiu…

0 Comments