MAUT DI SELAT - Nahar Efendi

 


TETESAN hujan jatuh di permukaan air. Membuat lobang-lobang kecil sebesar lidi kelapa, bagaikan bekas lobang cacar. Laut tenang. Tapi kabut tebal menyelimuti pemandangan lebih jauh dari enam meter. Tidak biasa bukan? Kabut di waktu subuh menandakan hari panas. Musim Utara adalah musim yang ganas. Setiap musim Utara tiba, selain ada korban berjatuhan. Bisa saja perahu dihempaskan ke gundukan karang, pecah. Dilemparkan ke beting pasir, berhari-hari berjuang mempertahankan hidup sampai ada bantuan.

            ………..sebuah perahu dan seorang lelaki di dalamnya. Lelaki itu seperti tidak kuasa mendayung perahunya. Dalam keadaan laut setenang itu, kalaulah sekedar hujan dank abut bukanlah halangan besar bagi Awang Musa. Baginya laut adalah sabagian dari hidupnya. Napas Awang Musa tersendat-sendat. Pada pengelangan tangannya ada goresan luka. Bekas bacokan golok. Dan hampir beberapa senti di atas perut sebuah luka besar menganga. Luka itu masih mengeluarkan darah. Yang membasahi lantai perahu. Percikan darah ada di mana-mana, di dalam perahu.

            Walau hujan turun, Awang Musa merasakan haus yang teramat sangat. Beberapa kali mulutnya menengadah ke atas menampung hujan, tapi gerimis yang turun sepagi itu tidak cukup melipur dahaganya.

            “Air… air…”, rintih Awang Musa. Kerongkongannya bagaikan bara api. Kering dan panas. Awang Musa menggeserkan badanya ke belakang. Tangannya digerakkan untuk mencapai tempayan pada petak ruang buritan.

            Tidak ada kaleng untuk mengambil air tempayan. Semuanya telah dibuang oleh cina oca. Semuanya telah habis kecuali tempayan. Itu pun karena berat dan sulit mengeluarkannya dari petak ruang yang sempit itu. Jika tidak, pasti akan mengalami nasib yang sama pula.

            Ia memasukkan tangannya ke dalam mulut tempayan. Tangannya bergetar menahan sakit. Ketika tangan itu mencapai air, ia mengeluh. Tangannya tiba-tiba terasa kaku, tidak ada daya untuk menggerak-gerakkan.

            Perahu itu terbawa arus. Perlahan-lahan menyusuri pantai. Kabut perlahan-lahan bersembunyi, malu pada matahari yang mulai menampakkan diri. Gerimis mulai reda. Ia berjuang keras untuk menarik tangannya ke luar dari mulut tempayan.

            “Bismillah”, sambil memejamkan mata dia menarik tangannya. Air yang tersisa di sela jari diisapnya dan disapukannya ke seluruh wajahnya.

            Karena kemudi tidak dijaga perahu yang ditumpangi Awang Musa menabrak akar bakau. Buritan berputar mengikuti arus, haluan tertahan di sela-sela akar bakau. Bila dibiarkan, lama-lama perahu itu bisa pecah. Awang Musa menyadari bahaya yang akan menimpa dirinya sekiranya itu terjadi. Laut tidak terlalu dalam di sekitar pantai, tapi dalam keadaan badannya yang terluka seperti itu, dia tidak akan mampu bertahan di dalam air.

            Dari kejauhan ada suara deru angin. Angin Utara yang ditakuti oleh nelayan dan pelaut pada pulau-pulau kecil pesisir Timur Sumatera, karena ganas dan tak kenal ampun.

            Tiba-tiba laut yang tadinya damai berubah menggelora. Menghantam sisi-sisi akar bakau, menimbulkan buih berdesis-desis, menghantam apa saja yang ditemuinya. Perahunya tidak terluput nasib malang. Haluan terjepit pukulan ombak menghantam sisa perahu mengakibatkan perahu itu pecah tak tertolong lagi. Awang Musa terlempar ke luar, tubuhnya menimpa pohon bakau. Sebuah ombak lebih besar menerjang pesisir. Ombak itu turut menggulung Awang Musa. Dalam keadaan tidak berdaya, tangannya sempat menangkap kepingan papan perahu, ia mendekap papan itu erat-erat. Dia menyadari nyawanya tergantung pada sekeping papan itu. Dadanya yang terluka terasa perih menyayat-nyayat.

            Dia telah pasrah. Menyerahkan diri bulat-bulat kepada Penciptanya. Semacam bisikan halus menembus lubuk hatinya yang paling dalam. Bisikan itu menyadarkannya bahwa Tuhan menyuruh umatnya berusaha dalam setiap situasi dan kondisi yang bagaimanapun juga.

            Bisikan itu menimbulkan kembali semangat juangnya yang telah mengendor. Diatas sekeping papan itu, selama dua hari dua malam tanpa makan dan sekali-sekali minum dari tetesan hujan, ia mempertahankan hidupnya.

 

            BAYANGAN yang pudar, kian lama kian terang. Awang Musa merasakan dirinya berada dalam ruangan yang putih bersih. Semuanya serba putih, mulai dari tembok bercat putih sampai kain skrim berwarna putih.

            “Matikah aku? “pikirnya. Mungkin ini yang bernama akhirat itu. Ia ingin meraba wajahnya, tangannya yang terbalut gips berat untuk digerakkan. Dadanya telat dibalut dan sakitnya mulai berkurang.

            “Dia telah sadar”.

            “Syukurlah, masa kritisnya telah berlalu”.

            Di sampingnya dua orang lelaki, seorang dokter dan seorang berseragam polisi, sejak tadi memperhatikan keadaan Awang Musa yang telah pingsan tidak kurang dari tiga hari tiga malam sejak dia diketemukan oleh patrol Airud tidak jauh dari batas pelayaran Internasional.

            “Mudah-mudahan cepat sembuh. Kami ingin mengumpulkan keterangan darinya”.

            “Berikan dahulu kesempatan baginya untuk istirahat. Dia menderita terlalu parah. Saya kagum pada daya tahun fisiknya. Jarang manusia dapat bertahan dalam keadaan seperti yang pernah dialaminya”, kata dokter irawan sambil memasukkan serum ke dalam tabung suntikan, kemudian disuntikkannya kepada Awang Musa.

            “Kami yakin dia punya kaitan dengan dua mayat yang ditemukan kemarin sore dan tadi pagi”, kata letnan Dwi Harsadi ketika mereka bersama-sama meninggalkan kamar tempat Awang Musa dirawat.

 

            MINGGU kedua di rumah sakit, kesehatan Awang Musa berangsur pulih. Oleh pimpinan rumah sakit, letnan Dwi Harsadi diijinkan untuk mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang tidak terlalu berat, mengingat keadaan Awang Musa yang belum begitu sehat.

            “Bagaimana perasaaan Bapak sekarang?”, letnan Dwi Harsadi memulai pertanyaannya ketika mereka duduk di kursi pada lapangan rumput di belakang rumah sakit.

            “Ada sedikit baik”.

            “Kalau boleh, saya ingin meminta kesediaan pak Awang menceritakan pengalaman bapak atas kemalangan yang menimpa diri bapak”.

            Sejenak Awang Musa menatap perwira polisi yang masih muda itu. Perhatian serta keramahannya selama ini sangat menarik hati Awang Musa. Lagi pula dia telah bertekat untuk menuturkan pengalaman yang menimpa dirinya dan juga nelayan lain kepada pihak yang berwajib. Nasib yang selalu menimpa mereka, nelayan-nelayan kecil, sejak beberapa puluh tahun yang lalu selalu menjadi bulan-bulanan bajak laut yang kadang kala berkedok sebagai penangkap ikan.

            …..bukan hanya sekali, tetapi telah berulang kali. Bukan baru sekarang peristiwa seperti ini terjadi, di mana nelayan-nelayan yang lazim dipanggil dengan sabutan cina oca memperlakukan nelayan pribumi secara sadis, karena mereka menduga bahwa nelayan pribumi secara sadis, karena mereka menduga bahwa nelayan pribumi selalu menjadi biang keladi pencurian jarring milik mereka.

            Sejak jaman Belanda, cina oca yang kebanyakan berasal dari semenanjung sering melakukan pencurian ikan di perairan Sumatera bagian Timur. Dengan persediaan bekal yang cukup, melakukan penangkapan ikan berminggu-minggu malahan sampai berbulan-bulan di lautan. Di samping bekal makan minum, tidak kurang pula ada di antaranya yang menyimpan senjata api.

            Semula ada tangan-tangan jahil tergiur untuk memotong jarring oca yang panjangnya ratusan meter itu setiap kali dilabuhkan. Pencurian-pencurian ini menimbulkan dendam kesumat dalam diri oca, tanpa membedakan siapa yang bersalah dan siapa yang tidak, mereka main babat habis. Tidak jarang ada nelayan yang bernasip malang, dibunuh. Banyak pula yang disiksa dengan kesadisan binatang buas. Kedua ibu jari kaki dan ibu jari tangannya diikat satu sama lain, hidup-hidup dilempar ke laut hingga mati lemas.

            Keadaan menjadi berubah. Berbalik. Mereka melakukan peran perampok. Jarring-jaring korbannya disikat, perahu ditenggelamkan. Mereka ketawa puas karena nelayan pribumi takut memasuki daerah penangkapan ikan yang telah mereka kuasai secara tidak langsung.

            Sudah satu hari dua malam Awang Musa bersama anaknya meninggalkan pangkalan Penampar. Biasanya sampai seminggu berada di laut selat Malaka. Menangkap ikan dengan menggunakan jarring nilon. Dengan sepuluh utas jaring itulah Awang Musa menyuapi sepuluh mulut yang menjadi tenggungannya.

            Anaknya yang paling tua, Hasbi, selama libur puasa dibawa Awang Musa membantu-bantunya di laut. Dengan demikian beban yang ditanggungnya sendirian terbantu juga.

            Malam kedua, tidak selang beberapa jam setelah pergantian hari, kedua beranak itu sibuk membongkar jaring. Baru dua malam mereka menjaring, hasilnya cukup memuaskan. Siang hari dipergunakan untuk menggarami ikan tangkapan malamnya. Keduanya bekerja tak kenal lelah.

            Dari kejauhan terdengar suara mesin motor pompong. Motor pompon itu mendekati mereka sambil mengarahkan lampu sorotnya yang menyilaukan. Sesaat Awang Musa dan Hasbi terhenti mengangkat jaring dari permukaan air. Sorotan lampu itu menggangu sekali. Dengan kecepatan tinggi motor pompong itu berputar tiga kali mengelilingi perahu, membuat perahu itu terombang-ambing bagaikan sabut kelapa. Jaring yang berada dalam genggaman Awang Musa terlepas kembali ke laut. Keduanya berpegang pada sisi perahu menghindarkan jatuh ke dalam laut.

            Setelah ombak reda, jurumudi pompong mengarahkan pompongnya mendekat perahu. Mesin dimatikan, pompong itu meluncur kea rah perahu dan langsung menabrak. Tabrakkannya tidak begitu keras, tetapi sempat membuat Hasbi terpelanting di atas timbunan ikan di petak ruang tengah.

            Awang Musa yang merasa tidak bersalah, menjadi marah atas perlakuan cina oca di atas pompon itu. Tangannya teracung ke atas sambil menggengam sebilah parang.

            “Haiiya la, lu cali mampus ya ?” maki seorang awak motor pompong itu.

            “Mampud nenek moyangmu. Kau pikir aku takut mampus. Mari kalau kamu berani. Kukabung batang tubuhmu itu buat makan babi piaraan moyangmu”, Awang Musa tidak dapat menahan emosinya. Kata-katanya keluar tidak terkendalikan lagi.

            Ketika awak pompong itu berdiri di haluan. Seorang di antaranya yang bertubuh kekar berkata sambil menudingkan telunjuknya kepada Awang Musa.

            “Kamu olang culi kami punya jaling la?, semalam kami kehilangan sepuluh utas jaling nilon”.

            “Apa urusanku dengan hilangnya jaring nilonmu, kami bukan keturunan lanun macam kamu orang”, balas Awang Musa tidak kalah sengitnya.

            “Kolang ajal, kamu olang mau mampus”, cina oca itu meloncat ke dalam perahu. Gerak kakinya ringan sekali, tidak sepadan dengan berat tubuhnya yang hampir mencapai delapan puluh kilo. Perahu itu tidak oleng oleh loncatannya.

            Awang Musa bersiap sedia. Dia tahu bahwa dia sedang berhadapan dengan orang “berisi”. Hasbi, walau baru di kelas dua es-em-pe bukanlah seorang yang penakut. Dia maju membentengi ayahnya.

            “Haiiiya Ia, jangan budak kecil yang kamu olang suluh lawan sama gua. Buat apa badanmu yang besal itu. Sepuluh ekol hiu pun tak habis menyantapnya”, cina oca itu ketawa mengejek, gigi emasnya berkilat ditimpa cahaya lampu teng.

            “Hasbi, mundur kau. Pegang kemudi, biar ayah yang menghadapi babi tunggal ini”. Awang Musa bukan orang sembarangan. Silat Puake sudah lulus ujian di laut. Jadi bukan tingkat halaman atau tingkat rumah lagi. Pesan gurunya Datuk Pituah tergiang di telinganya. Musuh jangan dicari, tapi bila dicoba lawanlah sampai kerat tulang terakhir.

            “Majulah kawan. Aku menanti. Remuk-luluhkan diriku seperi maumu”, tentang Awang Musa. Perahu yang garis tengahnya tidak lebih dari setengah meter dan panjang hanya mencapai lima meter itu berubah menjadi arena perkelahian.

            Cina oca itu ahli kuntau. Geraknya lincah, berkelit menghindari serangan Awang Musa dan balas menyerang dengan jurus yang mematikan.

            Memang sulit berkelahi dalam ruangan yang sempit apalagi dalam sebuah perahu yang senantiasa diombang-ambingkan ombak. Tapi bagi Awang Musa perkelahian seperti itu bukanlah sesuatu hal yang terlalu menyusahkan. Silat Puake termasuk silat yang memerlukan bakat dan keuletan serta ketabahan dalam berlatih. Tingkat rumah atau loteng saja pada ujian kenaikan tingkat baru bisa lulus setelah mampu berkelahi tanpa mengeluarkan suara bergeser sedikitpun di atas lantai.

            Kedua oca yang berada dalam motor pompong tidak tinggal diam. Seorang diantaranya memegang sebuah senapan berlaras panjang. Sementara temannya menggengam sebilah golok besar.

            Hasbi yang disuruh ayahnya memegang kemudi, tidak senang diam. Hatinya gelisah. Kegelisahan  seorang anak menyaksikan ayahnya bertarung menghadapi dua pilihan, hidup atau mati. Hati siapa yang akan tega? Nekat, tanpa perhitungan sama sekali. Hasbi meninggalkan kemudi lalu mengambil dayung dari tempat penopang dayung.

            Oca yang bersenapan tidak tinggal diam. Jari telunjuknya bergerak menarik pelatuk. Suara tembakan bergema di tengah malam, di tengah lautan luas. Gemanya terdengara beberapa mil memecah kesunyian malam. Hasbi mendekap dadanya sambil berteriak kesakitan memanggil ayahnya. Jeritan itu hilang bersama terceburnya tubuh kecil itu ke dalam laut. Daya pusat serangan Awang Musa terbagi. Pertahanannya jadi lemah. Kelengahan ini dimanfaatkan lawannya. Sebuah pukulan samping menghantam dada kirinya. Awang Musa tersentak ke belakang. Dadanya sakit dan sukar bernapas. Pada saat yang sama lawannya maju ke muka menubruk Awang Musa. Tapi secara refleks Awang Musa menendang dada cina oca itu dengan tumit kakinya.

            Lelaki itu terjengkang ke belakang. Sesaat ia nanar oleh serangan yang tidak diduganya sama sekali. Dalam kesempatan bernapas sejenak, Awang musa melihat ke tempat jatuhnya Hasbi. Tidak ada satu bayangan pun yang kelihatan. Perih, perih hatinya demi terbayang olehnya anaknya sedang berjuang dalam air melawan kelemasan dan luka peluru yang merobek dadanya.

            Tiba-tiba dada Awang Musa seperti tidak mampu menahan ledakan amarah yang meluap-luap. Tekadnya sudah bulat. Membunuh oca yang telah mengakibatkan hilangnya Hasbi. Awang Musa mengamuk bagaikan macan yang terluka. Lawannya mengeluarkan darah segar dari mulutnya. Bertubi-tubi pukulan Awang Musa menghantam tubuh lawannya. Daya tahan lelaki itu boleh juga. Dalam keadaan begitu dia masih mampu bertahan dan membalas serangan.

            Melihat temannya terdesak, oca yang besenjata golok meloncat ke dalam perahu. Perkelahian dua lawan satu terjadi. Meski dikerubuti dua lawan, Awang Musa tidak merasa kewalahan. Dia tidak menghiraukan keadaan dirinya sendiri. Nafsu ingin membalas perlakuan oca-oca itu terhadap Hasbi lebih kuat. Oca yang dadanya terluka menjadi bersemangat setelah mendapat bantuan dari temannya. Berdua mereka menggasak Awang Musa. Oca bergolok menetakkan goloknya. Tetakan itu lewat ke samping karena Awang Musa cepat berkelit. Awang Musa melayani kedua lawannya lebih hati-hati. Oca bergolok ternyata boleh juga kepandaian silatnya. Serangan goloknya selalu membahayakan pertahanan Awang Musa.

            Karena mendapat bantuan temannya oca yang telah terluka oleh pukulan Awang Musa menjadi lengah. Kelengahan lawannya dimanfaatkan Awang Musa. Sambil berkelit menghindarkan tebasan golok, dengan suatu teriakan tak terduga menyerang lawannya. Tendangan Awang Musa keras sekali mengenai selangkangan lawannya. Oca itu menjerit keras, tubuhnya terlonjak dan mencebur ke dalam laut.

            Temannya di dalam pompon melemparkan tali memberi bantuan, tapi oca itu tidak mampu bertahan dalam air dalam keadaan terluka parah. Perlahan-lahan tubuhnya tenggelam di dalam air. Kini pertarungan satu lawan satu. Oca yang bergolok itu bukanlah tandingan Awang Musa. Sebentar saja oca itu mulai terdesak. Serangan Awang Musa datangnya bertubi-tubi.

            Melihat temannya terdesak,oca yang berada dalam pompong membidikkan senapannya. Timbul keraguan di hatinya untuk melepaskan tembakan. Lampu teng yang tadinya menyala, telah hancur oleh perkelahian di atas perahu. Yang terlihat hanya bayangan samar. Senapan itu diturunkannya kembali.

            Nasib malang menimpa Awang Musa, meski lawannya telah kewalahan menghadapi serangannya, tetapi suatu kali kakinya terpeleset. Awang Musa terjengkang ke belakang. Lawannya melihat peluang emas itu langsung menyabetkan goloknya. Awang Musa berusaha menangkis. Tangannya terkena sabetan golok, darah mengucur. Serangan berikutnya dada Awang Musa robek oleh ayunan golok lawannya.

            Tapi kemalangan Awang Musa secara tidak langsung mendatangkan keuntungan pula baginya. Oca yang di atas pompong itu salah pengertian. Menduga temannya terluka oleh sabetan golok tak berpikir panjang lagi dia langsung melepaskan tembakan.

            Untuk kedua kalinya tembakkan bergema di tengah malam itu. Tapi yang menjadi korban bukanlah Awang Musa, melainkan lawannya. Cina oca itu terpekik kesakitan. Pada saat yang sama pula Awang Musa balas menyerang. Pukulannya menghantam lambung lawannya. Dalam waktu yang tidak berjangka lama tiga manusia menjadi korban selat malaka.

            Akan halnya oca yang berada dalam motor pompong itu melihat tembakannya salah sasaran, timbul rasa takutnya. Lebih-lebih melihat Awang Musa berdayung ke arahnya. Terburu-buru dia lari ke kamar mesin menghidupkan mesin. Kemudian dengan kecepatan tinggi motor pompong itu diarahkannya ke perahu Awang Musa.

            Awang Musa sembari menahan rasa sakit, dengan sekuat tenaga mendayung perahunya menghindarkan tabrakan. Motor pompong itu terus melaju meninggalkan Awang Musa setelah gagal menabrak perahu itu.

            Diiringi oleh kesedihan yang tak terlukiskan, Awang Musa mengayuh perahu meninggalkan tempat terkutuk itu. Lelaki setengah baya itu tidak mampu mengeluarkan air matanya lagi. Air matanya dirasakannya jatuh ke dalam. Berbaur dengan hatinya yang luluh….

 

            LETNAN Dwi Harsadi menghela napas dalam-dalam setelah mendengar penuturan Awang Musa. Sebagai seorang hamba hukum dia sudah lama mensinyalir kasus-kasus seperti ini. Tetapi selalu mengalami kesukaran karena kurangnya kesadaran orang-orang yang jadi korban oca itu untuk melapor kepada yang berwajib. Karena keadaan dua mayat yang berada dalam kamar mayat sudah rusak sekali, demi memudahkan pihak kepolisian untuk mengusut perkara itu nantinya, hari itu juga Awang Musa dibawa untuk mengenali kedua mayat itu.

            Mayat cina oca itu dikenali Awang Musa karena gigi atasnya dilapisi sumbi emas. Mayat kedua, membuat pertugas-pertugas yang berada di sana melupakan rasa jijiknya sejenak. Awang Musa menangis tersedu-sedu. Mayat itu adalah mayat anaknya Hasbi. Pada jari manis kirinya sebentuk cincin terbuat dari besi putih dengan gambar tengkorak hampir saja tertutup oleh gumpalan daging jarinya yang telah membusuk. Semua menekur kepala, turut berduka atas musibah yang menimpa Awang Musa. Mayat ketgia yang diduga mati dalam kejadian tersebut tidak pernah diketemukan lagi. Mungkin terkubur bersama tulang-belulang dalam perut ikan-ikan hiu…

0 Comments