lara juluk
penyair
nyanyian lelah
petani yang gundah
lantaran dari seribu
kepingan yang dulu ditabur
kini tumbuh
berakar mimpi yang teramat subur
hamper tumpad
untuk dibilang
bongkahan
hari-hari yang kusam terbuang
begitu bimbang
untuk dibayang
berapa bidang
lagi lading yang mesti disiang
suatu hari
nanakala
matahari tegak lurus menikam kepala
peluhnya larut
mengendap
disubuh berkabut
kiblatnya sesat
terjerat disenja
berkarat
diujung pematang
yang gersang
petang yang
resah oleh lahan yang takpernah basah
remahnya
takpernah tersisa
dikirinya
sebilah napan
tetaknya takgoreskan
jejak
sambil
membusungkan dada yang jauh lebih bidang
dari tempat kuda
kudanya berpijak
dikenyitnya
langit
disitu rindunya
berbunga
dari matanya
memantul cahaya
yang warnanya
sukar diduga
senada dengan
denging kesunyian
dibisiknya kata:
“putik yang kian
ranum dihati
adalah engkau juluk penyair
merahmu wangi
legit seribu
madu
teranjung sayup
dari juntai yang
tak kunjung
capai”
sejurus matahari
berkelebat dicelah awan
petani yang
gundah
akankah mengairi
ladang lewat kali dimatanya?
lekat ia mendongak
hingga petang
kian condong ke barat
kali bening itu
kini berganti telaga
tak setitikpun
yang luruh
jingga cahaya
senja merobahnya menjadi luka
darah yang mulai
bertakung
kian dalam
membentuk sembilan palung
“duhai
siur yang tak
pernah gugur
betapa kerap
kusandang
tampukmu
bergayut diatap mimpiku”
malam merembes
jejak ke tumit
bukit
petani yang
telah terlentang di pematang
erangnya seperti
raung srigala
melengking tanpa
air mata sambil mengutuk gelimang pagi
sebab jagakan ia
dari mata
sambil mengutuk
gelimang pagi
sebab jagakan ia
dari cumbunya
kembali
dirambahnya segala kancaha
disiyungya
setiap batang
ditakiknya
segenap cabang
bertopang tulang
dirangkitnya jenjang
buah hati keburu
memucuk berjulang
petani yang
gundah
bagai matador
bertarung siang malam
kini terjaga di
tengah belukar
sepuluh jari
kaki dan tanganya
membengkak
disengat masa
sambil
mengangkang bagai tebing cadas berkarat
matanya menyala
mengeja bias
“lara
lara
rayumu tak
pernah singgah”
petani yang
gundah
dengan mata
kapak dan batu asah yang nyaris kikis
betapa ia masih
berdiri
sempoyong
membuka bekal
dengan nada yang
tersengal
“aku masih punya
sepuluh hektar bahasa”
0 Comments