KASIH - Nahar Efendi

 


             EMAK saya bawa,”kata Iim, adikku.

            Aku tidak menjawab. Perasaanku berat melepaskan Emak. Sejak kecil aku belum pernah berpisah. Lain dari Iim. Separuh dari usianya yang tiga puluh tahun itu dihabiskannya di Jawa, tempatnya menuntut ilmu.

            Sebaliknya aku juga tidak berhak penuh atas Emak. Dia milik kami berdua. Aku dan Iim. Bagaimanapun, kami berhak mendapatkan kasih sayang yang sama dari orang tua kami.

            “Boleh,”tetapi jangan lama-lama. Anak-anak tidak dapat dipisah lama-lama dari neneknya”, aku berdalih. Iim tersenyum sambil mempermainkan kumisnya.

            “Kan sama saja, Bang. Di sini cucu, disana cucu juga.”

            Akhirnya Emak jadi juga dibawa Iim. “Dua bulan”, kata Iim. Tetapi aku tidak yakin. Bisa saja Emak tinggal bersama Iim lebih dari itu.

            Kami mengantar sampai ke pelabuhan. Anak-anak menangis ingin ikut neneknya, lebih-lebih si kecil Reni. Anak ini penyakitan. Emak lebih banyak mengasuhnya dibandingkan ibunya, apa lagi kandungan isteriku makin besar.

            Ratusan penumpang menunggu di ruang tunggu pelabuhan Bengkalis. Menunggu pengumuman penumpang jurusan. Pekanbaru naik ke kapal. Iim membelikan anak-anak minuman dan roti. Beberapa hari di Bengkalis kelihatannya Iim rapat dengan kemanakan-kemanakannya.

            Seorang perempuan sebaya dengan Emak datang mendekat. Perempuan tua itu menatap lewat kaca mata minusnya.

“Mai….maimunah, kan?”

“Kak Hindun…..?”

“Benar. Akan ke mana kau Munah?”

“Ke Pekanbaru, ikut Ibrahim.”

“Anakmu yang sekolah di Jawab dulu?”

“Benar, Kak”

“Di mana kerjanya ?”

“Entah….di mana Iim?”

Iim mendekat sambil menyalami perempuan itu.

“Di kantor gubernur, Makcik.”

“Alhamdulillah. Berhasil kau mendidik anak-anakmu Munah. Yang seorang lagi?”

“Usman. Ini dia, kak. Dan ini anak-anaknya, dan ini isterinya, Aisyah.”Kedua perempuan tua itu terlibat dalam percakapan yang mengasyikkan. Sampai suara seorang pertugas memisahkan mereka. Penumpang jurusan Pekanbaru naik ke kapal.

Meskipun sudah kuusahakan untuk menahan air mata, tetapi ternyata aku tak kuasa membendungnya. Aisyah juga. Apa lagi anak-anak. Pelabuhan itu riuh oleh tangis mereka. Ingin ikut neneknya.

“Emak jangan lama-lama. Kandungan Aisyah sudah berat”, kataku sambil menyalami tangan Emak.

Kapal yang menghubungkan Bengkalis-Pekanbaru segera bertolak setelah penumpang terakhir naik. Hatiku serasa terbawa bersama Emak. Tiga puluh dua tahun usiaku, Emak selalu di sisiku. Sejak kecil sampai menamatkan SPG, menjadi guru,beristri, dan punya anak. Aku berjanji sampai usia terakhirnya, Emak tetap bersamaku.

Sampai kini kusana belum ada seujung kuku pun dari pengabdiannya yang terbalas. Masa kecil kami adalah masa yang penuh dengan liku-liku derita. Ayah meninggal ketika kami sedang membutuhkan kasih sayangnya.

Kami tinggal di kebun kelapa milik seorang laki-laki yang baik hati. Pak Suterjo, seorang direktur bank. Ayah digaji oleh Pak Sutejo untuk menjaga kebun itu. Ketika Ayah meninggal dunia, Iim diambil menjadi anak angkat oleh Pak Sutejo. Beliau tidak punya anak.

Ketika Pak Sutejo pindah ke Jawa, Iim dibawanya serta. Kebun Pak Sutejo dijual. Sebagai tanda terima kasih atas jasa almarhum Ayah mengolah kebun itu semasa hidupnya, sebidang kebun kelapa diberikan kepada Emak. Dengan hasil kebun itulah Emak menghidupi kami berdua.

“Mari, Bang. Kita pulang.”

Sapaan Aisyah membuyarkan lamunanku. Orang-orang yang tadinya sibuk di pelabuhan, mulai berkurang. Tempat itu mulai sunyi. Di kejauhan yang terlihat hanya buih memutih. Kapal itu semakin mengecil.

Reni sakit beberapa hari, mungkin rindu kepada neneknya. Setiap malam dia mengigau memanggil nenek. Sebagai pelepas rindu sengaja kami letakkan baju kurung yang biasa dipakai Emak sehari-hari, sebagai bantal guling Reni.

Bulan pertama kepergian Emak. Tidak sepotong kabar pun dikirimkan Iim. Kandungan Aisyah makin membesar. Aku tidak bisa membayangkan kelahiran anak kami tanpa kehadiran Emak di antara kami.

Sudah dua orang anak kami lahir. Semua persiapan sampai yang sekecil-kecilnya disiapkan Emak. Mulai dari popok bayi,jamu bersalin sampai membidaninya.

Bulan kedua kepergian Emak. Kandungan Aisyah hanya menunggu harinya saja. Aisyah mulai merasa sakit. Kalau sudah ada tanda-tanda semacam itu biasanya tidak lama. Paling lama dua atau tiga haru Aisyah sudah melahirkan. Aneh. Dua minggu sesudah itu Aisyah belum juga melahirkan. Padahal menurut bidan jalan ke Peranakan sudah terbuka.

Seperti biasa, sore itu bidan pulang kembali ke rumahnya.

“Belum akan melahirkan. Kalau mulai sakit lagi jemput saja makcik”.

Tengah malam aku dibangunkan Aisyah. Dia mulai sakit. Sakitnya makin kuat.

“Jemput bidan?” tanyaku.

“Yah, jemputlah. Rasanya sudah dekat melahirkan.”

Cepat-cepat kuambil lampu senter. Setengah berlari aku menuju rumah mak bidan, yang letaknya beberapa ratus meter dari rumah kami. Aku memasang lampu strom king. Rumah kami kembali riuh. Beberapa tetangga perempuan datang membantu, sehingga tenagaku tidak diperlukan. Lagi pula aku tidak tahan mendengar erangan isteriku menahan rasa sakit. Diam-diam aku pergi ke beranda.

Dari jauh kulihat sosok tubuh menuju ke rumah kami. Seorang wanita masuk ke halaman rumah. Ketika mendekat kulihat wanita itu ternyata Emak, menjingjing bungkusan dan tas tangan.

“Emak!” aku kaget bercampur girang.

“Bila Emak pulang? Mengapa pulang tidak memberi kabar?”

Sebersit sesal mampir di hatiku. Mengapa Iim tidak mengabarkan kepulangan Emak? Sungguh kerja sia-sia membiarkan Emak pulang seorang diri. Padahal kapal dari Pekanbaru larut malam baru sampai di pelabuhan Bengkalis.

Emak tidak menjawab. Beliau tersenyum sambil meletakkan jari telunjuk, memberi isyarat agar aku jangan bertanya lagi. Segera Emak masuk ke dalam rumah.

Perasaanku lega. Dengan kepulangan Emak, semuanya pasti beres. Benar. Beberapa saat kemudian kudengar suara tangisan bayi. Suara gembira perempuan-perempuan di dapur menyatakan bayi itu lahir dengan selamat.

Aku menadahkan kedua tangan memanjatkan syukur ke hadirat Tuhan. Dua keberuntungan kuperoleh sekaligus. Kelahiran anak dan kepulangan Emak.

“Anakmu perempuan. Iqomatkanlah”. Suara mak bidan memanggilku.

Aku mengambil air sembahyang ke sumur. Kemudian berpakaian bersih. Bayiku sudah dibungkus dengan kain batik. Kubisikan lafaz-lafaz iqomat di telinganya.

Seisi rumah diliputi kegembiraan, Aisyah sudah dibersihkan dan dibaringkan di samping bayinya.

“Dimana Emak?” tanya Aisyah memandang berkeliling.

Perempuan yang hadir kelihatan terheran-heran.

“Mungkin Emak letih. Berbaring di kamar. “Jawabanku menambah keheranan mereka.

“Bila Emakmu pulang?”, tanya mak bidan.

Aku terkejut mendengar pertanyaan itu. Aisyah pun kulihat begitu.

“Tadi, beberapa saat sebelum Aisyah melahirkan”, jawabku pasti.

“Benar. Emak yang menolongku melahirkan”, tambah Aisyah.

“Tapi….”,mak bidan tidak melanjutkan ucapannya.

“Tetapi apa, Makcik?”

“Tadi ketika istrimu melahirkan. Makcik keluar sebentar mengambil kunyit. Makcik tidak melihatnya.”

Aku segera ke kamar. Anak-anak sedang tidur nyenyak. Emak tidak ada. Kuarahkan lampu senter ke seluruh bagian rumah. Tidak ada. Juga bungkusan yang dibawa Emak.

Aku turun ke tanah. Pergi ke sumur dan ke kakus. Siapa tahu Emak ada di sana. Kosong.

“Benar kalian tidak melihatnya?” tanyaku setengah tak percaya.

Tidak ada. Tidak ada seorang pun diantara perempuan yang ada di rumah kami melihat kedatangan Emak. Kecuali aku dan Aisyah. Rasanya kalau aku tersilap tentu Aisyah tidak. Tetapi mengapa orang lain tidak ada melihanya? Mengapa pula Emak tidak ada di rumah?

“Sebenarnya kalian sudah rindu kepada Emak kalian. Itulah sebabnya jadi termimpi-mimpi”, kata mak bidan. Tetapi aku tidak bermimpi. Pasti. Aku melihat Emak pulang. Aisyah ditolong pula sewaktu melahirkan.

Siang itu aku kurang bersemangat ketika mengajar di kelas. Mungkin disebabkan kantuk dan kecewa karena tertipu oleh khayal tentang kepulangan Emak. Seharian aku duduk saja di dalam. Aku bari masuk ke ruang majelis guru ketika lonceng keluar bermain-main kedua berbunyi. Di ruang majelis, guru-guru terlibat dalam pembicaraan serius.

“Kau sudah mendapat kabar?” tanya pak Halik, kepada sekolah. Aku menggelengkan kepala dan balas bertanya.

“Kapal motor Selangat Indah tenggelam di Sungai Siak. Dalam pelayaran dari Pekanbaru ke Bengkalis.”

Lututku serasa goyah mendengar berita itu.

“Jadi……,”aku tidak mampu meneruskan kalimat itu.

“Jumlah korban belum pasti. Tadi malam kapal motor itu bertabrakan dengan kapal motor Bawal Putih.”

Bayangan buruk tadi malam dan tenggelamnya kapal motor Selangat Indah makin mengacaukan pikiranku. Membuatku tidak ada nafsu makan. Seharian aku termenung. Aku tidak menceritakan peristiwa tabrakan itu kepada Aisyah.

Mungkinkah Emak ada di kapal motor itu? Hatiku bertanya-tanya. Tetapi cepat-cepat pertanyaan itu kubantah. Kalau Emak pulang tentu Iim memberi kabar. Terhibur juga hatiku oleh bantahan itu.

Mimpi buruk itu menjadi kenyataan. Sebuah telegram dari Iim tergenggam di tangaku. Telegram itu datangnya terlambat sehari.

”Emak pulang dengan km selangat indah tanggal…..koma jemput di pelabuhan titik….Ibrahim.” Aku terhenyak, bumi serasa berputar dan kelam. Keesokan harinya, kuterima lagi telegram juga dari Iim.

”Segera datang ke siaksriindrapura koma Iim menunggu titik.”

Bumi Siak serasa terbelah ketika kupijak. Iim merangkulku. Menangis seperti anak kecil.

“Emak, Bang……Emak, Bang.”

Aku tidak kuasa untuk menangis. Yang ada hanya marah menahan perasaan melihat wajah Iim. Bukankah karena dia Emak menjadi korban? Kalau Emak tidak dibawanya ke Pekanbaru tentu tidak akan menjadi korban dalam kecelakaan maut ini.

Tetapi kemarahanku kepada Iim musnah ketika kaki kami menginjak tanah pekuburan. Pekuburan itu ramai mirip pasar. Sanak keluarga korban kecelakaan sibuk mencari kuburan orang yang mereka kasihi. Berpuluh korban dikebumikan di pekuburan itu. Tanah liat kuning berlumpur di sana-sini, Iim mendekat sebuah kuburan.

“Kuburan Emak…..”

Badanku terhenyak di atas gundukan tanah itu. Gundukan tanah itu kupeluk. Dan aku menangis…..tangis yang kutahan sejak menjejakkan kaki di bumi Siak, meledak.

Iim mendekap badanku. Di atas kuburan Emak, kami menangis seperti anak kecil. Anak kecil yang ditinggal pergi selama-lamanya oleh orang yang dikasihinya.

Siang itu kami menemui panitia penyelamat untuk menyelesaikan peninggalan-peninggalan almarhummah jikalau ada. Ada sebentuk cincin emas. Cincin itu kami sedekahkan kepada orang yang menyelenggarakan jenazah Emak.

“Ini, Pak”, kata salah seorang di antara mereka sambil menyerahkan sebuah boneka plastic. Iim menangis dan mendekap boneka itu.

“Boneka ini kami temukan di dalam pelukan almarhummah.”

Iim memberikan boneka itu kepadaku.

“Boneka anakmu. Ambillah Bang. Boneka ini dibeli Emak di Pasar Pusat. Kata Emak, anakmu selalu menangis mengingikan boneka. Didesaknya aku malam-malam mengantarkannya ke Toko”.

“Untuk Reni…….”

“Emak selalu teringat kepada anakmu. Juga kandungan Kak Aisyah. Emak ingin pulang segera. Aku berjanji akan mengantarjannya. Secara mendadak ada perintah meninjau Bangkinang. Rencanaku ditangguhkan sehari, tetapi Emak tidak dapat diajak berunding. Dia harus pulang, mau tidak mau aku mengalah. Emak kutitipkan pada seorang awak kapal.”

Kami terdiam sesaat. Tebersit rasa haru di rongga dadaku. Betapa kasihnya Emak kepadaku sekeluarga. Kupegang bahu Iim. Kuucapkan kata-kata hiburan kepadanya.

“Sudahlah, Dik. Tidak ada gunanya kita dibawa perasaan terlalu jauh. Bagaimanapun Emak telah tentu tempatnya. Kiranya tanah Siak ini yang meminta Emak. Marilah kita berdo’a di pusara Emak. Semoga arwahnya diterima Allah.”

Kami berdo’a di pusara Emak. Do’a anak termasuk do’a yang diterima Allah. Do’a anak merupakan selembar benang halus yang menghubungkan alam dunia dengan alam barzah.

Aku dan Iim meninggalkan pekuburan korban kecelakaan maut itu. Tetapi sekeping hati kami tetap disana…. tidak akan pergi sampai maut menjemput kami pula…

 

0 Comments