ANDA mungkin
termasuk orang yang tidak mempercayai adanya hantu. Aku juga seperti anda, tapi
itu dulu, sebelum suatu kejadian bertemu dengan hantu kualami sendiri. Mulai
saat itu aku percaya bahwa hantu itu sebenarnya memang ada. Terserah apakah
anda percaya atau tidak, tetapi aku ingin menceritakan di sini bagaimana sampai
aku bertemu, bahkan bercakap-cakap dengan hantu, seperti dengan manusia biasa.
Padahal waktu itu aku sadar bahwa aku sedang berbicara bukan dengan manusia biasa.
Beberapa
bulan setelah aku menempati sebuah rumah di kompleks, sudah kudengar bahwa
daerah tempat tinggal baruku termasuk angker. Banyak cerita tentang daerah itu
kudengar. Pada masa Jepang, daerah ini masih berupa hutan belantara. Di sinilah
Jepang mendirikan kamp untuk para romusha.
Setelah
Jepang kalah, kemerdekaan kita diproklamasikan. Daerah yang tadinya hutan
belantara, dibangun oleh sebuah perusaan minyak asing, dijadikan daerah
perumahan bagi karyawannya. Perkampungan baru itu dilengkapi dengan perbagai
fasilitas; rumah sakit, lapangan golf, lapangan sepak bola,lapangan
tenis,lapangan karate, sebuah klup dengan tempat pemutaran film,
restoran dan fasilitas lainnya yang serba lengkap. Semua itu membuat orang lupa
bahwa mereka sebenarnya sedang berada dalam hutan. Betapa tidak, sekeliling
tempat tinggal itu benar-benar hutan belantara.
Ketika
daerah itu sedang dibangun, tidak jarang pengemudi traktor menemukan
tulang-berulang manusia. Mungkin tengkorak romusha yang dikuburkan di sana.
Semula
istriku bercerita, bahwa tetangga sebelah mendengar suara orang sedang makan di
rumah nomor satu. Bunyi sendok-garpu beradu dengan piring, jelas terdengar.
Padahal penghuni rumah sedang tidak berada di rumah.
Cerita
selanjutnya selalu ditambah-tambahi. Sulit membedakan mana cerita sebenarnya,
mana pula cerita yang hanya sekedar dibuat-buat untuk menakut-nakuti orang.
Akan
tetapi cerita yang paling sering terdengar adalah tentang seorang lelaki
berpakaian putih yang selalu mundar-mandir pada waktu tengah malam. Lelaki itu
berpakaian mirip haji, sehingga disebut hantu haji.
Perjalanan
makhluk berpakaian serba putih itu selalu dari rumah nomor 30, dan berakhir di
jembatan. Misalnya seorang nyonya yang tinggal di rumah nomor 28 di tingkat
atas, pukul 12.00 tengah malam nyonya itu terbangun dari tidurnya. Karena
kegerahan sang nyonya membuka jendela. Angin malam yang dingin masuk lewat
jendela. Pandangannya tertumbuk pada benda putih yang berjalan perlahan-lahan,
keluar dari rumah nomor 30. Bayangan itu berjalan terus. Seolah-olah tahu bahwa
dirinya sedang diperhatikan, makhluk berpakaian putih itu sengaja menengadahkan
mukanya memandang bola lampu-listrik jalan yang bercahaya terang. Wow, nyonya
itu menjerit, dan pingsan seketika. Jeritan sang nyoya membangunkan suaminya.
Ketika sang suami terbangun, dia hanya menyaksikan sekelebat bayangan putih
berjalan ke arah jembatan kemudian menghilang.
Rumah
nomor 30 dihuni oleh beberapa orang penghuni bujangan. Penghuni rumah itu punya
pengalaman sendiri. Misalnya Stevanus yang bujangan, yang selalu masuk malam
dalam giliran kerjanya. Bayangan putih itu selalu membangunkan dia dari
tidurnya. Dan mereka bersahabat. Demikian cerita Stevanus.
Abdul
Kadir yang setengah ustaz punya pengalaman pula. Dia selalu diganggu bila
berada di kamar mandi pada malam hari. Tapi bila gangguan itu datang, Abdul
Kadir sudah siap dengan ayat al-Qur’an sehingga penggangu itu menghilang
sendiri.
Namun
yang paling misterius adalah kematian Nasrul, pegawai muda yang punya masa
depan cerah. Insinyur keluaran sebuah universitas di Jerman Barat itu meninggal
dunia setelah terjatuh di kamar mandi. Nasrul segera dilarikan ke rumah sakit,
tetapi sesampainya di sana Nasrul sudah tidak bernyawa lagi. Padahal sebelum
ajal merenggut nyawanya, Nasrul dalam keadaan segar bugar, malamnya masih
sempat nonton film di klub. Kebetulan aku duduk di sampingnya. Nasrul bercerita
kepadaku bahwa dia akan menjemput istrinya di Bandung. Selama ini mereka
berpisah sementara, karena belum ada fasilitas perumahan, sampai rumah untuk Nasrul
tersedia.
Masih
banyak cerita lain tentang keangkeran daerah itu. Tidak mungkin kuceritakan
satu per satu.
Suatu
malam udara begitu panas. Jam dinding menunjukkan pukul 11.30. panasnya bukan
main, sehingga peluh membasahi sekujur badan. Aku hanya mengenakan sepotong
celana dalam.
Iseng-iseng
kuambil rokok kretek dan korek api, lalu membuka pintu dan keluar. Udara malam
terasa segar, angina bertiup similar. Daun akasia melenggok-lenggok menari
ditiup angina.
Bulan
delapan belas hari baru saja tersembul. Warnanya kuning kemerah-merahan.
Bayangan pohon kayu jelas tampak
menari-nari ditiup angina malam, lemah gemulai bak penari istana. Aku terpesona
oleh pemandangan yang mengasyikkan itu. Dari hutan, suara binatang hutan jelas
terdengar. Suara Ungko melenguh
bagaikan ditinggalkan kekasih, menyesali nasib malang. Burung pungguk pun
bersipongang, melihat bulan seperti dapat dicapai tangan, tetapi hanya
fatamorgana di kesepian malam. Khayalanku terus merembes, seperti tidak
berujung dan berpangkal, sampai sebuah suara seperti berasal dari awang-awang
menegurku.
“Enak
sekali bau kreteknya”.
Suara
itu membuat lamunanku buyar, Srrrrr, darahku terkesiap. Lelaki berbaju putih,
tasbih tergantung di tangannya. Pernahkah Anda melihat pakaian yang dipakai
Tuanku Imam Bonjol, seperti banyak terlukis dalam buku sejarah? Begitulah
kira-kira gambarannya. Dalam ketemaraman cahaya bulan, kusaksikan wajah itu,
wajah seorang kyai yang saleh. Tidak ada bentuk yang menakutkan dalam
penampilannya. Tidak ada. Malahan hatiku menjadi begitu tenang, seolah-olah
yang datang itu adalah bekas guru kita yang telah berpisah sekian lama, dan
sekarang baru bersua.
“Kretekmu
enak sekali baunya. Aku ingat, dulu juga aku perokok kretek. Kebun cengkeh
milikku berhektar-hektar”, ujarnya dengan nada hambar.”
“Tapi
semuanya berakhir setelah mereka datang. Mereka musnahkan semuanya. Anakku,
istriku, harta bendaku, muridku, dan semuanya, ya, semuanya yang kucinta.”
“Apa
maksud Bapak?”
“Mereka
telah menghancurkan semuanya. Juga jasadku mereka siksa. Hidupku
terkatung-katung tidak ada kepastian. Setiap malam aku mencari kepastian itu
tetapi tidak bertemu, oh,”keluhnya seperti putus asa.
Aku
semakin tertarik dengan ceritanya. Sungguh suatu pengalaman yang tidak mungkin
dicernakan oleh pikiran sehat.
“Saya
belum memahami apa yang Bapak maksudkan.”
“Kamu
akan paham sendiri. Aku sekarang tinggal sendirian terkatung-katung. Cuma aku
minta tolong padamu, maukah kau menolongku?”
Tal
berpikir panjang aku menerima permintaan makhluk gaib itu.
“Terima
kasih. Telah sering aku minta tolong pada manusia, tapi tidak ada yang mau.”
“Pertolongan
apa yang Bapak perlukan?”
Dia
tidak menjawab pertanyaan yang kulontarkan. Dari jubahnya yang panjang dia
mengeluarkan tangan kanannya. Tangan itu ternyata kudung sampai ke batas siku.
“Tolong
aku. Tolong carikan lenganku. Mungkin ada di bawah jembatan sana. Kau tahu
tempat tinggalku bukan? Bila lenganku telah kau dapat, kembalikan padaku.”
“Maaf.
Aku belum tahu tempat tinggal Bapak”.
“Di
sana”, katanya sambil menunjuk dengan tangan kirinya yang masih utuh ke rumah
nomor 30.
“Aku
tidak betah di sana. Anak muda itu terlalu rebut. Sering mengganggu
istirahatku”. Suaranya kini lebih banyak merupakan keluhan yang patut
dikasihani.
“Terima
kasih. Aku akan pergi ke jembatan sana.”
Aku
belum sempat berkata apa-apa,”tubuh” itu berlalu. Begitu cepat rasanya, ketika
aku menoleh kea rah perginya,bayangan itu telah sampai ke jembatan. Tiba-tiba
bulu romaku berdiri. Tanpa menunggu komando lagi aku menghambur ke rumah. Di
sana istriku sedang duduk di ruang tamu.
“Dengan
siapa Abang bicara tadi?”
“Pak
Darwis, aku berbohong”.
“Kok
Abang sendiri yang ngomong, Pak Darwis diam saja,” selidik istriku seperti
mengetahui kebohonganku.
“Kau
kan tahu, Pak Darwis itu kalau ngomong suaranya seperti tak keluar dari
mulutnya,” elakku.
Hampir
saja aku tidak berhasil meyakinkan District
Superintendent dengan ceritaku. Sebagai orang yang dilahirkan di Barat,
rasio lebih unggul dalam benaknya. Syukurlah Pak Nokop, asistennya berhasil
kuyakinkan. Atas bantuan Pak Nokop, izin kuperoleh untuk menggali di rumah
nomor 30.
Mulailah
suatu kerja yang penuh diliputi tanda tanya. Di sini namaku kupertaruhkan. Aku
telah meyakinkan pihak yang berkepentingan, bahwa di rumah nomor 30 sekarang
terkubur tengkorak seseorang.
Tukang
batu diperbantukan untuk membongkar lantai beton pada rumah nomor 30 itu.
Perasaanku seperti menuntunku untuk membongkar lantai di bawah kamar mandi.
Sebelumnya tukang batu itu telah mengomel, melihat besarnya ruangan, sedangkan
tempat yang akan dibongkar tidak pasti letaknya.
Pekerjaan
pembongkaran berlangsung . Bunyi palu beradu dengan batu, seperti memukul-mukul
jantungku. Begitu kuat debaran yang sedang berkecamul dalam dadaku.
Lantai
beton setebal tiga puluh senti itu berhasil dibongkar.
Kemudian
dimulailah penggalian tanah. Bongkahan demi bongkahan diangkat mata cangkul,
tapi belum menemukan apa-apa. Aku sudah mulai putus asa, sampai seseorang
berteriak. Dia tukang batu yang sedang menggali lubang itu. Cangkulnya beradu
dengan benda keras. Akulah orang pertama yang berada di tempatnya, dan aku
sendiri tidak tahu bagaimana aku dapat melompat sejauh itu.
“Apa
pak?” tanyaku tak sabar.
“Ya,
tulang-belulang manusia.”
Tukang
batu itu kuminta naik. Aku menggantikannya. Mata cangkul itu kubersihkan dari
sisa-sisa tanah yang melekat di sana. Hati-hati tulang belulang yang masih
terpendam itu dikeluarkan.
Berkali-kali
aku menyebut nama Allah Yang Maha Kuasa akan kebesaran-Nya. Yang kusaksikan
adalah tengkorak manusia. Tulang pada tangan kanannya putus, jelas seperti
dipotong benda tajam. Yang hadir seperti tidak percaya dengan apa yang mereka
lihat. District Superintendent diminta hadir. Tuan Nelson berkali-kali
mengucapkan “Tak mungkin”, tetapi nadanya telah berubah, seakan-akan meyakini
bahwa kalimatnya itu salah.
“Dunia
Timur memang dunia penuh misteri”, ucapnya.
Penggalian
selanjutnya diteruskan di bawah jembatan.
Kami
tidak mengalami banyak kesulitan, karena pencarian itu tidak berlansung lama.
Tulang tangan kanan yang terpotong itu segera kami temukan.
Tulang
belulang yang sudah lengkap itu kemudian dikebumikan kembali di pekuburan
Islam. Aku berkeyakinan almarhum adalah penganut agama itu, melihat dari
caranya berpakaian sewaktu kami “bertemu” beberapa waktu yang lalu.
Setengah
bulan setelah peristiwa yang menghebohkan itu terjadi, aku mendapat kunjungan
seorang lelaki yang sudah berumur. Tubuh lelaki itu agak membungkuk, tampaknya
sudah uzur. Wajahnya mengungkapkan bahwa di masa mudanya banyak penderitaan
yang dialaminya.
Lelaki
itu memperkanlkan dirinya dengan nama Darmo. Lengkapnya Darmo Kartodirejo.
Kehadiran Pak Darmo lebih memperjelas misteri yang masih saja melingkari
hatiku. Misteri lelaki berjubah putih itu.
Lelaki
berjubah putih atau lengkapnya hantu berjubah putih bertangan kudung itu semasa
hidupnya dikenal sebagai Kyai Sentanu. Seorang Kyai yang alim
dan “warak”,
memiliki pondok pesantren di sebuah tempat di Pulau Jawa. Sebagai seorang
ulama, dia juga terkenal sebagai petani yang memiliki banyak tanah pertanian.
Kyai Sentanu begitu populer, muridnya tersebar sampai ke Sumatera, Semenanjung
Melayu, Kalimantan, dan Sulawesi.
Ketika
Jepang dengan bujuk rayunya menipu ribuan penduduk Pulau Jawa untuk menjadi
pekerja di tempat lain di luar Pulau Jawa. Kyai yang arif dan bijaksana itu
menjadi curiga. Kyai yang patuh pada ajaran agamanya, tidak mau murid-murid dan
orang sedesanya berpaling tadah dari agama yang dianut mereka. Kyai menyatakan
diri untuk ikut serta. Keikutsertaan Kyai Sentanu dijadikan propaganda oleh
pihak penguasa untuk menarik penduduk, sehingga tidak sedikit yang ikut,
termasuk Kyai sendiri yang tidak mau berpisah dengan orang yang mereka kasihi.
Apa
yang dirasakan Kyai sebagai firasat yang tidak baik semasa di Jawa dahulu
menjadi kenyataan. Pekerja-pekerja yang dikenal dengan sebutan romusha itu
diperlakukan tidak lebih dari binatang. Tidak sedikit yang jadi korban. Korban
kekejaman manusia yang sedang berkuasa, korban kekerasan alam, dan penyakit
yang tidak kenal ampun. Anak istri Kyai turut jadi korban akibat malaria dan
kekurangan makanan.
Jiwa
patriot Kyai Sentanu bangkit melihat penderitaan di sekelilingnya. Ratusan
romusha yang masih hidup berada di belakangnya. Pihak penguasa mencium gejala
yang tidak baik, karena itu Kyai ditangkap. Tidak ada proses pengadilan, apakah
tertuduh bersalah atau tidak. Hanya satu keputusan, samurai dan senapan mesin
yang bicara.
Hukuman
mati segera dilaksanakan. Sebelum hukuman dilaksanakan Kyai ingin memberi
amanat kepada romusha-romusha yang memandang p adanya seperti anak yang
kehilangan ayah. Tapi sebuah samurai bergerak ketika Kyai baru akan mengangkat
tangan kanannya ke atas. Dan senapan mesin mempercepat kematian hamba Allah
yang beriman itu.
Jenazah
Kyai Sentanu dikebumikan oleh para romusha atas perintah serdadu Jepang. Dan
mereka juga hanya dapat menyaksikan, ketika seekor anjing herder milik komandan,
menggonggong tangan kanan disertai gelak tawa para serdadu, dan pandangan sedih
para romusha yang tidak mampu berbuat apa-apa. Itulah sebabnya ketika
dikebumikan, Jazad Kyai tidak lengkap. Lengannya tidak pernah ditemukan. Dan
Pak Darmo termasuk salah seorang penyelenggara pemakaman Kyai Sentanu.
Aku
bersyukur karena Tuhan telah menakdirkan aku sebagai orang yang mempertemukan
bagian terpisah dari jenazah itu. Dan Tuhan juga yang menuntunku untuk
menyelenggarakan pemakaman kembali jenazah itu sebagai jenazah seorang muslim.
Setelah
kejadian itu, kompleks perumahan yang kami huni tidak pernah lagi mendapat
gangguan hantu berjubah putih. Sekarang dia telah beristirahat dengan tenang di
tempatnya.

0 Comments