HANTU BERTANGAN KUDUNG - Nahar Efendi

 



            ANDA mungkin termasuk orang yang tidak mempercayai adanya hantu. Aku juga seperti anda, tapi itu dulu, sebelum suatu kejadian bertemu dengan hantu kualami sendiri. Mulai saat itu aku percaya bahwa hantu itu sebenarnya memang ada. Terserah apakah anda percaya atau tidak, tetapi aku ingin menceritakan di sini bagaimana sampai aku bertemu, bahkan bercakap-cakap dengan hantu, seperti dengan manusia biasa. Padahal waktu itu aku sadar bahwa aku sedang berbicara bukan dengan manusia biasa.

Beberapa bulan setelah aku menempati sebuah rumah di kompleks, sudah kudengar bahwa daerah tempat tinggal baruku termasuk angker. Banyak cerita tentang daerah itu kudengar. Pada masa Jepang, daerah ini masih berupa hutan belantara. Di sinilah Jepang mendirikan kamp untuk para romusha.

Setelah Jepang kalah, kemerdekaan kita diproklamasikan. Daerah yang tadinya hutan belantara, dibangun oleh sebuah perusaan minyak asing, dijadikan daerah perumahan bagi karyawannya. Perkampungan baru itu dilengkapi dengan perbagai fasilitas; rumah sakit, lapangan golf, lapangan sepak bola,lapangan tenis,lapangan karate, sebuah klup dengan tempat pemutaran film, restoran dan fasilitas lainnya yang serba lengkap. Semua itu membuat orang lupa bahwa mereka sebenarnya sedang berada dalam hutan. Betapa tidak, sekeliling tempat tinggal itu benar-benar hutan belantara.

Ketika daerah itu sedang dibangun, tidak jarang pengemudi traktor menemukan tulang-berulang manusia. Mungkin tengkorak romusha yang dikuburkan di sana.

Semula istriku bercerita, bahwa tetangga sebelah mendengar suara orang sedang makan di rumah nomor satu. Bunyi sendok-garpu beradu dengan piring, jelas terdengar. Padahal penghuni rumah sedang tidak berada di rumah.

Cerita selanjutnya selalu ditambah-tambahi. Sulit membedakan mana cerita sebenarnya, mana pula cerita yang hanya sekedar dibuat-buat untuk menakut-nakuti orang.

Akan tetapi cerita yang paling sering terdengar adalah tentang seorang lelaki berpakaian putih yang selalu mundar-mandir pada waktu tengah malam. Lelaki itu berpakaian mirip haji, sehingga disebut hantu haji.

Perjalanan makhluk berpakaian serba putih itu selalu dari rumah nomor 30, dan berakhir di jembatan. Misalnya seorang nyonya yang tinggal di rumah nomor 28 di tingkat atas, pukul 12.00 tengah malam nyonya itu terbangun dari tidurnya. Karena kegerahan sang nyonya membuka jendela. Angin malam yang dingin masuk lewat jendela. Pandangannya tertumbuk pada benda putih yang berjalan perlahan-lahan, keluar dari rumah nomor 30. Bayangan itu berjalan terus. Seolah-olah tahu bahwa dirinya sedang diperhatikan, makhluk berpakaian putih itu sengaja menengadahkan mukanya memandang bola lampu-listrik jalan yang bercahaya terang. Wow, nyonya itu menjerit, dan pingsan seketika. Jeritan sang nyoya membangunkan suaminya. Ketika sang suami terbangun, dia hanya menyaksikan sekelebat bayangan putih berjalan ke arah jembatan kemudian menghilang.

Rumah nomor 30 dihuni oleh beberapa orang penghuni bujangan. Penghuni rumah itu punya pengalaman sendiri. Misalnya Stevanus yang bujangan, yang selalu masuk malam dalam giliran kerjanya. Bayangan putih itu selalu membangunkan dia dari tidurnya. Dan mereka bersahabat. Demikian cerita Stevanus.

Abdul Kadir yang setengah ustaz punya pengalaman pula. Dia selalu diganggu bila berada di kamar mandi pada malam hari. Tapi bila gangguan itu datang, Abdul Kadir sudah siap dengan ayat al-Qur’an sehingga penggangu itu menghilang sendiri.

Namun yang paling misterius adalah kematian Nasrul, pegawai muda yang punya masa depan cerah. Insinyur keluaran sebuah universitas di Jerman Barat itu meninggal dunia setelah terjatuh di kamar mandi. Nasrul segera dilarikan ke rumah sakit, tetapi sesampainya di sana Nasrul sudah tidak bernyawa lagi. Padahal sebelum ajal merenggut nyawanya, Nasrul dalam keadaan segar bugar, malamnya masih sempat nonton film di klub. Kebetulan aku duduk di sampingnya. Nasrul bercerita kepadaku bahwa dia akan menjemput istrinya di Bandung. Selama ini mereka berpisah sementara, karena belum ada fasilitas perumahan, sampai rumah untuk Nasrul tersedia.

Masih banyak cerita lain tentang keangkeran daerah itu. Tidak mungkin kuceritakan satu per satu.

Suatu malam udara begitu panas. Jam dinding menunjukkan pukul 11.30. panasnya bukan main, sehingga peluh membasahi sekujur badan. Aku hanya mengenakan sepotong celana dalam.

Iseng-iseng kuambil rokok kretek dan korek api, lalu membuka pintu dan keluar. Udara malam terasa segar, angina bertiup similar. Daun akasia melenggok-lenggok menari ditiup angina.

Bulan delapan belas hari baru saja tersembul. Warnanya kuning kemerah-merahan. Bayangan  pohon kayu jelas tampak menari-nari ditiup angina malam, lemah gemulai bak penari istana. Aku terpesona oleh pemandangan yang mengasyikkan itu. Dari hutan, suara binatang hutan jelas terdengar. Suara Ungko melenguh bagaikan ditinggalkan kekasih, menyesali nasib malang. Burung pungguk pun bersipongang, melihat bulan seperti dapat dicapai tangan, tetapi hanya fatamorgana di kesepian malam. Khayalanku terus merembes, seperti tidak berujung dan berpangkal, sampai sebuah suara seperti berasal dari awang-awang menegurku.

“Enak sekali bau kreteknya”.

Suara itu membuat lamunanku buyar, Srrrrr, darahku terkesiap. Lelaki berbaju putih, tasbih tergantung di tangannya. Pernahkah Anda melihat pakaian yang dipakai Tuanku Imam Bonjol, seperti banyak terlukis dalam buku sejarah? Begitulah kira-kira gambarannya. Dalam ketemaraman cahaya bulan, kusaksikan wajah itu, wajah seorang kyai yang saleh. Tidak ada bentuk yang menakutkan dalam penampilannya. Tidak ada. Malahan hatiku menjadi begitu tenang, seolah-olah yang datang itu adalah bekas guru kita yang telah berpisah sekian lama, dan sekarang baru bersua.

“Kretekmu enak sekali baunya. Aku ingat, dulu juga aku perokok kretek. Kebun cengkeh milikku berhektar-hektar”, ujarnya dengan nada hambar.”

“Tapi semuanya berakhir setelah mereka datang. Mereka musnahkan semuanya. Anakku, istriku, harta bendaku, muridku, dan semuanya, ya, semuanya yang kucinta.”

“Apa maksud Bapak?”

“Mereka telah menghancurkan semuanya. Juga jasadku mereka siksa. Hidupku terkatung-katung tidak ada kepastian. Setiap malam aku mencari kepastian itu tetapi tidak bertemu, oh,”keluhnya seperti putus asa.

Aku semakin tertarik dengan ceritanya. Sungguh suatu pengalaman yang tidak mungkin dicernakan oleh pikiran sehat.

“Saya belum memahami apa yang Bapak maksudkan.”

“Kamu akan paham sendiri. Aku sekarang tinggal sendirian terkatung-katung. Cuma aku minta tolong padamu, maukah kau menolongku?”

Tal berpikir panjang aku menerima permintaan makhluk gaib itu.

“Terima kasih. Telah sering aku minta tolong pada manusia, tapi tidak ada yang mau.”

“Pertolongan apa yang Bapak perlukan?”

Dia tidak menjawab pertanyaan yang kulontarkan. Dari jubahnya yang panjang dia mengeluarkan tangan kanannya. Tangan itu ternyata kudung sampai ke batas siku.

“Tolong aku. Tolong carikan lenganku. Mungkin ada di bawah jembatan sana. Kau tahu tempat tinggalku bukan? Bila lenganku telah kau dapat, kembalikan padaku.”

“Maaf. Aku belum tahu tempat tinggal Bapak”.

“Di sana”, katanya sambil menunjuk dengan tangan kirinya yang masih utuh ke rumah nomor 30.

“Aku tidak betah di sana. Anak muda itu terlalu rebut. Sering mengganggu istirahatku”. Suaranya kini lebih banyak merupakan keluhan yang patut dikasihani.

“Terima kasih. Aku akan pergi ke jembatan sana.”

Aku belum sempat berkata apa-apa,”tubuh” itu berlalu. Begitu cepat rasanya, ketika aku menoleh kea rah perginya,bayangan itu telah sampai ke jembatan. Tiba-tiba bulu romaku berdiri. Tanpa menunggu komando lagi aku menghambur ke rumah. Di sana istriku sedang duduk di ruang tamu.

“Dengan siapa Abang bicara tadi?”

“Pak Darwis, aku berbohong”.

“Kok Abang sendiri yang ngomong, Pak Darwis diam saja,” selidik istriku seperti mengetahui kebohonganku.

“Kau kan tahu, Pak Darwis itu kalau ngomong suaranya seperti tak keluar dari mulutnya,” elakku.

Hampir saja aku tidak berhasil meyakinkan District Superintendent dengan ceritaku. Sebagai orang yang dilahirkan di Barat, rasio lebih unggul dalam benaknya. Syukurlah Pak Nokop, asistennya berhasil kuyakinkan. Atas bantuan Pak Nokop, izin kuperoleh untuk menggali di rumah nomor 30.

Mulailah suatu kerja yang penuh diliputi tanda tanya. Di sini namaku kupertaruhkan. Aku telah meyakinkan pihak yang berkepentingan, bahwa di rumah nomor 30 sekarang terkubur tengkorak seseorang.

Tukang batu diperbantukan untuk membongkar lantai beton pada rumah nomor 30 itu. Perasaanku seperti menuntunku untuk membongkar lantai di bawah kamar mandi. Sebelumnya tukang batu itu telah mengomel, melihat besarnya ruangan, sedangkan tempat yang akan dibongkar tidak pasti letaknya.

Pekerjaan pembongkaran berlangsung . Bunyi palu beradu dengan batu, seperti memukul-mukul jantungku. Begitu kuat debaran yang sedang berkecamul dalam dadaku.

Lantai beton setebal tiga puluh senti itu berhasil dibongkar.

Kemudian dimulailah penggalian tanah. Bongkahan demi bongkahan diangkat mata cangkul, tapi belum menemukan apa-apa. Aku sudah mulai putus asa, sampai seseorang berteriak. Dia tukang batu yang sedang menggali lubang itu. Cangkulnya beradu dengan benda keras. Akulah orang pertama yang berada di tempatnya, dan aku sendiri tidak tahu bagaimana aku dapat melompat sejauh itu.

“Apa pak?” tanyaku tak sabar.

“Ya, tulang-belulang manusia.”

Tukang batu itu kuminta naik. Aku menggantikannya. Mata cangkul itu kubersihkan dari sisa-sisa tanah yang melekat di sana. Hati-hati tulang belulang yang masih terpendam itu dikeluarkan.

Berkali-kali aku menyebut nama Allah Yang Maha Kuasa akan kebesaran-Nya. Yang kusaksikan adalah tengkorak manusia. Tulang pada tangan kanannya putus, jelas seperti dipotong benda tajam. Yang hadir seperti tidak percaya dengan apa yang mereka lihat. District Superintendent diminta hadir. Tuan Nelson berkali-kali mengucapkan “Tak mungkin”, tetapi nadanya telah berubah, seakan-akan meyakini bahwa kalimatnya itu salah.

“Dunia Timur memang dunia penuh misteri”, ucapnya.

Penggalian selanjutnya diteruskan di bawah jembatan.

Kami tidak mengalami banyak kesulitan, karena pencarian itu tidak berlansung lama. Tulang tangan kanan yang terpotong itu segera kami temukan.

Tulang belulang yang sudah lengkap itu kemudian dikebumikan kembali di pekuburan Islam. Aku berkeyakinan almarhum adalah penganut agama itu, melihat dari caranya berpakaian sewaktu kami “bertemu” beberapa waktu yang lalu.

Setengah bulan setelah peristiwa yang menghebohkan itu terjadi, aku mendapat kunjungan seorang lelaki yang sudah berumur. Tubuh lelaki itu agak membungkuk, tampaknya sudah uzur. Wajahnya mengungkapkan bahwa di masa mudanya banyak penderitaan yang dialaminya.

Lelaki itu memperkanlkan dirinya dengan nama Darmo. Lengkapnya Darmo Kartodirejo. Kehadiran Pak Darmo lebih memperjelas misteri yang masih saja melingkari hatiku. Misteri lelaki berjubah putih itu.

Lelaki berjubah putih atau lengkapnya hantu berjubah putih bertangan kudung itu semasa hidupnya dikenal sebagai Kyai Sentanu. Seorang Kyai yang alim dan “warak”, memiliki pondok pesantren di sebuah tempat di Pulau Jawa. Sebagai seorang ulama, dia juga terkenal sebagai petani yang memiliki banyak tanah pertanian. Kyai Sentanu begitu populer, muridnya tersebar sampai ke Sumatera, Semenanjung Melayu, Kalimantan, dan Sulawesi.

Ketika Jepang dengan bujuk rayunya menipu ribuan penduduk Pulau Jawa untuk menjadi pekerja di tempat lain di luar Pulau Jawa. Kyai yang arif dan bijaksana itu menjadi curiga. Kyai yang patuh pada ajaran agamanya, tidak mau murid-murid dan orang sedesanya berpaling tadah dari agama yang dianut mereka. Kyai menyatakan diri untuk ikut serta. Keikutsertaan Kyai Sentanu dijadikan propaganda oleh pihak penguasa untuk menarik penduduk, sehingga tidak sedikit yang ikut, termasuk Kyai sendiri yang tidak mau berpisah dengan orang yang mereka kasihi.

Apa yang dirasakan Kyai sebagai firasat yang tidak baik semasa di Jawa dahulu menjadi kenyataan. Pekerja-pekerja yang dikenal dengan sebutan romusha itu diperlakukan tidak lebih dari binatang. Tidak sedikit yang jadi korban. Korban kekejaman manusia yang sedang berkuasa, korban kekerasan alam, dan penyakit yang tidak kenal ampun. Anak istri Kyai turut jadi korban akibat malaria dan kekurangan makanan.

Jiwa patriot Kyai Sentanu bangkit melihat penderitaan di sekelilingnya. Ratusan romusha yang masih hidup berada di belakangnya. Pihak penguasa mencium gejala yang tidak baik, karena itu Kyai ditangkap. Tidak ada proses pengadilan, apakah tertuduh bersalah atau tidak. Hanya satu keputusan, samurai dan senapan mesin yang bicara.

Hukuman mati segera dilaksanakan. Sebelum hukuman dilaksanakan Kyai ingin memberi amanat kepada romusha-romusha yang memandang p adanya seperti anak yang kehilangan ayah. Tapi sebuah samurai bergerak ketika Kyai baru akan mengangkat tangan kanannya ke atas. Dan senapan mesin mempercepat kematian hamba Allah yang beriman itu.

Jenazah Kyai Sentanu dikebumikan oleh para romusha atas perintah serdadu Jepang. Dan mereka juga hanya dapat menyaksikan, ketika seekor anjing herder milik komandan, menggonggong tangan kanan disertai gelak tawa para serdadu, dan pandangan sedih para romusha yang tidak mampu berbuat apa-apa. Itulah sebabnya ketika dikebumikan, Jazad Kyai tidak lengkap. Lengannya tidak pernah ditemukan. Dan Pak Darmo termasuk salah seorang penyelenggara pemakaman Kyai Sentanu.

Aku bersyukur karena Tuhan telah menakdirkan aku sebagai orang yang mempertemukan bagian terpisah dari jenazah itu. Dan Tuhan juga yang menuntunku untuk menyelenggarakan pemakaman kembali jenazah itu sebagai jenazah seorang muslim.

Setelah kejadian itu, kompleks perumahan yang kami huni tidak pernah lagi mendapat gangguan hantu berjubah putih. Sekarang dia telah beristirahat dengan tenang di tempatnya.

 

0 Comments