RAMAILAH pembicaraan orang. Berita itu cepat tersiar dari satu
pelantar ke pelantar lain. Mereka berkumpul di pelantar rumahnya masing-masing,
sambil memandang ke laut lepas. Dara-dara mengintip dari lubang dan sela-sela dinding.
Nun jauh di laut lepas, kelihatan sebuah benda memanjang dari Barat ke Timur.
Seperti ular besar, berkilat-kilat ditimpa cahaya matahari.
Hebohlah Bukitbatu. Terbetik khabar dari mulut orang
tua-tua, naga bidai timbul menampakkan diri, murka karena ada yang berbuat
angkara. Ibu-ibu bergegas menyembunyikan anak-anaknya. Tidak kurang pula yang
termenung bagaikan kehilangan akal, tidak tahu apa yang akan dilakukan.
Berita itu sampai kepada Datuk Laksamana yang
memerintah Bukitbatu. Segera beliau memerintahkan Orang Kaya menyiapkan
perajurit berjaga-jaga. Dipanggilnya orang-orang besar Bukitbatu datang
menghadap. Hadirlah di sana Batin Sembilan yaitu Batin Cedun, Batin Senggero, Batin
Semulun, Batin Sebabui, Batin Kepit, Batin Berimbo, Batin Kelumang, Batin Alas
(Ratas) dan Batin Kenek. Batin berempat yaitu Batin Alam, Batin Senerak, Batin
Penebal, Batin Bengkalis. Tidak ketinggalan Jenjang Raja dan Orang Kaya
sendiri. Setelah lengkap dimulailah siding tergempar di balai siding. Lalu
Orang Kaya berdatang sembah.
“Daulat Datuk Laksamana raja di laut. Sidang
kelengkapan sudahlah lengkap. Patik-patik menanti perintah datuk”.
Datuk Laksamana menggeserkan silanya lalu berkata.
“Sidang yang hadir, beta panggil menghadap ke balai
siding karena ada berita yang akan beta sampaikan” Datuk Laksamana menghentikan
tuturnya sejenak sambil melihat berkeliling pada yang hadir.
“Nun di laut lepas, ada benda ganjil terapung-apung.
Tampaknya kian lama kian mendekat. Beta tidak memikirkannya, benda apakah itu
?”
“Ampunkan patik, datuk”. Jepang Raja berdatang sembah.
“Sepengetahuan patik dari cerita nenek moyang, benda itu adalah naga bidai;
Naga bidai itu timbul bila ada yang berbuat angkara di negeri kita”.
Suasana menjadi sepi sejenak, setelah mendengar tutur
Jenjang Raja. Wanita bijaksana penasehat Datuk Laksamana.
“Tapi ganjilnya benda itu tidak seperti ular. Kalau
ular tentu akan membuat gerak melingkar. Sejak dari sepenggalah matahari sampai
matahari kini hampir tergelincir, benda itu hanya seolah-olah bergerak”, bantah
Batin Cedun.
“Memang ganjil, benda itu tidak timbul tenggelam, tapi
seperti mendekat”,kata Orang Kaya.
Datuk Laksamana berdiri, Menyilangkan tangannya ke
belakang. Matanya memandang ke laut, memperhatikan benda yang terapung itu.
Beberapa saat kemudian Datuk Laksamana membalikkan badannya menghadap kepada
hadirin.
“Karena itulah beta kumpulkan siding ini. Beta sendiri
belum dapat memutuskan benda apakah itu”.
“Datuk, patik rasa baiklah dikirimkan utusan untuk
menyelidiki benda aneh itu dari dekat”. Yang hadir terkejut mendengar usul
Batin Alam, suatu hal yang tidak masuk akal sama sekali. Alangkah berbahayanya
bila benar itu naga bidai, lenyaplah orang yang coba-coba mendekatinya.
Demikianlah pikir yang hadir. Batin Alam tahu apa yang dipikirkan oleh hadirin.
Lalu dia berdatang sembah.
“Maksud patik kita tunggu sampai besok pagi. Sekiranya
benda itu masih ada, sebaiknyalah datuk kirim utusan untuk meniliknya. Bila
sampai besok benda aneh itu masih ada di sana, teranglah bukan naga bidai.
Sebaliknya jika benda itu lenyap tentulah naga bidai yang datang memberi
peringatan kepada anak negeri. Tentu ada kesalahan yang telah kita buat.”
Datuk mengangguk-anggukkan kepalanya. Masuk dalam
pikirannya pendapat Batin Alam. Datuk Laksamana lalu kembali ke tempat duduknya
semula.
“Terpikir oleh beta pendapat Batin Alam tadi. Baiklah,
bila benda itu masih ada beta perintahkan kak Jenjang, Batin Alam, Batin
Penebal, Batin Bengkalis dan Batin Senerak untuk menyelidikinya. Carilah
asal-usul benda itu.
“Kemudian kepada Orang Kaya beta perintahkan untuk
mengatur perajurit. Kita harus siap siaga menghadapi segala kemungkinan.
Perintahkan penduduk Bukitbatu laut pindah ke darat. Semua perajurit berjaga
semalam-malaman dan jangan ada satu lampu pun yang dinyalakan”. Datuk Laksamana
lalu membubarkan sidang.
Semalam-malaman perajurit Bukitbatu berjaga-jaga di
benteng. Penduduk negeri diungsikan ke darat. Perajurit siap siaga. Awas
mendengarkan kalau ada bunyi gerak di dalam air. Tidak seorang pun dibolehkan
memasang api, walaupun berupa unggunan untuk menghilangkan rasa dingin. Malam
itu tidak ada sesuatu yang terjadi. Sampai kokok ayam pertama berbunyi. Orang
Kaya menarik napas lega. Namun kewaspadaan perajurit tidak berkurang malahan
bertambah ditingkatkan. Kepada perwira jaga Orang Kaya memberitahukan
keinginannya beristirahat barang sekejap.
Tiba-tiba keheningan subuh dikejutkan oleh bunyi yang
berkecipak di dalam air. Di antara rembang subuh kelihatan sebuah perahu masuk
ke kuala. Perajurit menunggu dengan hati berdebar, menunggu apa yang akan
terjadi. Perahu itu meluncur menyibak air menuju jembatan. Samar-samar
kelihatan penumpang perahu terdiri dari dua lelaki, satu di depan dan satu lagi
dibelakang, mengayuh. Seorang wanita dan seorang anak kecil duduk di dalamnya
dilindungi kajang.
Lelaki yang di depan mengganti dayungnya dengan kayu
penggalah. Begitu juga dengan kawannya yang di belakang. Perlahan-lahan perahu
merapat ke jembatan. Dilihat dari bentuknya perahu itu adalah perahu asing.
Ketika mereka sedang mengikatkan tali perahunya, serentak perajurit Bukitbatu
mengepung mereka.
“Hai, encik dari mana dan hendak ke mana?”. Tanya
perwira jaga.
“Ambo-amboko urang Kampau, mukasuik ambo amu ka
Bukitbatu”.
“Oh, orang Kampar. Berapa orang yang datang dana pa
yang dibawa ?”
“Ambo datang berampek, nan dibao barang galeh
saketek”.
Perwira jaga meloncat ke dalam perahu. Dibantu oleh
seorang perajurit memeriksa isi perahu.
“Adakah encik berlayar menyusur pantai atau di
tengah?”
“Kami berlayar agak ke tengah, encik”,jawab yang muda
dalam Bahasa Melayu yang fasih.”
“Adakah encik melihat sesuatu di tengah laut?”
“Benar encik, kami melihat benda yang terapung-apung
di tengah laut. Kami takut mendekatinya karena laut berombak. Hamba rasa
barangkali pulau”.
“Pulau ? Ha…..ha…..ha…..ha…, belum pernah hamba
mendengar ada pulau yang terapung-apung”.
Semua perajurit turut tertawa. Sehingga tak sadar
Orang Kaya sudah berada di antara mereka. Orang Kaya mendehem, tiba-tiba
suasana berubah menjadi sunyi, dan perajurit-perajurit menundukkan muka.
“Perwira jaga, apa yang terjadi ?”
“Ampunkan hamba Orang Kaya, kami menanyai pemilik
perahu ini, kalau-kalau mereka ada melihat benda asing itu. Lalu mereka
mengatakan barangkali benda itu pulau”.
Orang Kaya termenung sejenak. Matanya menatap jauh ke
depan. Nun di ufuk Timur cahaya matahari bersinar gemilang, membias di
permukaan air. Ternyata benda aneh itu masih kelihatan. Malahan semakin dekat.
Hanya beberapa mil lagi dari Bukitbatu.
“Pulau?....Mengapa kita tidak pernah memikirkannya ?”
Orang Kaya seolah-olah berkata pada dirinya sendiri. Lalu Orang Kaya menoleh
kepada perwira jaga.
“Lepaskanlah orang-orang ini, berilah mereka kebebasan
untuk berdagang”.
MATAHARI baru naik sepenggalah. Namun orang sudah
ramai berkumpul di jembatan. Tidak kurang pula yang dipinggir pantai dan di
pelantar rumah. Hari itu tersiar khabar, Datuk Laksamana akan melepaskan
utusannya berangkat ke tengah laut menyelidiki benda aneh itu.
Di balai sidang kelihatan Orang Kaya membisikkan
sesuatu kepada Datuk Laksamana. Datuk Laksamana mengangguk-anggukkan kepalanya,
lalu memandang ke tengah laut.
Di bawah pelataran balai sidang, beberapa perajurit
sibuk memuat bekal ke dalam perahu. Ada pula yang menyiapkan peralatan lain.
Kelima orang yang diutus Datuk Laksamana, yaitu
Jenjang Raja, Batin Senerak, Batin Bengkalis, Batin Alam dan Batin Penebal,
sudah menghadap Datuk Laksamana di balai sidang sejak pagi. Kelihatan di wajah
mereka rasa tanggung jawab yang besar akan tugas yang dibebankan di pundak
masing-masing.
Setelah semua pembesar hadir, Datuk Laksamana berdiri
dari duduknya. Matanya menyapu ke seluruh ruangan. Berganti-ganti matanya
memandang wajah kelima utusannya.
“Hadirin yang beta hormati. Sesuai dengan janji yang
telah diikrarkan, bahwa sekiranya benda aneh di tengah lautan itu masih ada
sampai hari ini, maka akan dikirim utusan untuk menyelidinya. Nyatanya benda
itu masih ada. Maka beta berkenan mengirimkan utusan terdiri dari Jenjang Raja,
Batin Alam, Batin Penebal, Batin Bengkalis dan Batin Senerak untuk
menyelidikinya. Sengaja beta turutkan Jenjang Raja, supaya bila ada masalah
yang tertunda bisa bertanya kepadanya”. Datuk Laksamana menghentikan titahnya
sejenak.
“Wahai Orang Kaya, adakah hal lain yang ingin
dibicarakan?”
Orang Kaya berdatang sembah mengisahkan kejadian yang
dialaminya di saat subuh tiba. Berjumpa dengan orang Kampar dan tentang
kemungkinan benda itu adalah pulau hanyut di tengah lautan.
“Ampunkan patik Datuk Laksamana. Apakah hal bicara
kita sekiranya benda itu pulau hanyut?”
“Negeri kita adalah negeri besar dan berkuasa. Banyak
jajahan di setiap rantau dan teluk. Bila benda aneh itu betul-betul pulau,
selidikilah sampai ke asalnya. Tanyai anak negerinya bila pulau itu
berpenghuni, ingin membayar upeti atau disebut negeri. Sekiranya pulau, adalah hak
kita untuk memilikinya”.
Setelah semua perlengkapan siap, berangkatlah kelima
utusan. Diantar oleh Datuk Laksamana dan segenap anak negeri dengan penuh kebesaran.
Letusan berbunyi gegap gempita. Tidak ubahnya orang pergi berperang. Rebana
ditabuh nyaring seperti penduduk negeri sedang berpesta.
Angin buritan berhembus nyaman. Perahu
berlayar dengan lancer. Cuaca baik. Laut tidak ubahnya seperti permukaan cermin,
licin dan berkilat-kilat. Bukitbatu semakin jauh ditinggalkan. Yang kelihatan
hanya gundukan-gundukan keputih-putihan, rumah penduduk Bukitbatu. Benda aneh
yang menggemparkan itu ternyata sebuah pulau. Perahu layar mereka semakin
mendekat. Kelihatan semakin jelas. Tidak ada sebatang pohon pun yang tumbuh.
Hanya pulau gundul kecokelat-cokelatan.
Lebih sepenanak nasi, perahu merapat di pantai. Kandas
karena air surut. Sementara itu Jenjang Raja selesai menyiapkan makanan keempat
kawannya.
“Wahai keempat Batin. Lebih baik kita makan dahulu
barulah segala perhitungan kita mulai”.
“Benar juga kata kak Jenjang. Marilah kita makan
dahulu”, kata Batin Bengkalis sambil duduk bersila. Diikuti oleh ketiga
temannya. Sambil makan mereka memperhatikan permukaan air yang dangkal. Banyak
sekali ikan kecil berenang kian ke mari. Ikan-ikan kecil itu saling berebutan
sesamanya, memperebutkan nasi yang dilemparkan keempat Batin, yang merasa
senang melihat ikan yang beraneka warna itu. Setelah semuanya selesai makan,
mulailah diatur rencana oleh Jenjang Raja. Batin Bengkalis dan Batin Senerak
meninjau bagian sebelah Barat Pulau. Sedangkan Batin Alam bersama Batin penebal
menuju belahan Timur pulau. Jenjang Raja sendiri menunggu perahu.
Pantai pulau itu ternyata lembut sekali. Batin
Bengkalis dan Batin Senerak menuju ke sebelah Barat. Di ujung pulau bagian
Barat terlihat sebatang tunggul pohon jati. Besarnya dapat dimuat tidak kurang
dari 40 hidagan. Tunggul inilah yang menahan pulau itu sehingga tidak dapat
bergerak lagi jauh ke arah Barat.
Sementara itu Batin Alam dan Batin Penebal setelah
sampai di ujung paling Timur pulau, menemui pulau itu telah tertambat pada
perepat seratus (sejenis tumbuh-tumbuhan air asin).
Batin Alam, nyatanya pulau ini sudah dimiliki orang.
Lihatlah tali ijuk yang mengikatnya”, kata Batin Penebal sambil memegang
tonggak kayu yang ditanam jauh masuk ke dalam tanah. Antara pulau dengan
perepat seratus diikatkan seutas tali ijuk sebesar paha orang dewasa. Batin
alam memandang ke tengah laut. Sayup-sayup kelihatan pulau Merbau. Dia
tersenyum penuh arti lalu berkata :
“Batin Penebal. Tugas kita hanya untuk menyelidiki
saja. Dan itu telah kita laksanakan. Sebaiknyalah kita kembali ke perahu saja.
Segala sesuatunya kita bicarakan dengan kak Jenjang. Ingat pesan Datuk
Laksamana”.
DI PERAHU Batin Bengkalis dan Batin Senerak sudah
sampai lebih dahulu. Masing-masing menyampaikan hasil penyelidikan mereka
kepada Jenjang Raja.
“Kak Jenjang”, kata Batin Senerak. Nyatanya pulau ini
kosong. Daulat Bukitbatulah atas pulau ini”.
“Hamba rasa pendapat Batin Senerak itu salah”, bantah
Batin Penebal.”Sewaktu kami sampai di sebelah Timur, pulau ini sudah tertambat
dengan seutas tali pada perepat seratus. Ternyata ada yang telah mengikatnya.
Apakah tidak mungkin pemiliknya yang melakukannya?” Suasana hening sejenak.
Sekali-kali terdengar debur ombak. Air naik pasang.
“Menurut hemat hamba pulau ini belum ada yang punya.
Mungkin seseorang telah menambatnya. Namun menurut tilikan hamba orang tersebut
bukanlah yang empunya pulau ini”, kata Jenjang Raja sambil mengapur sirih.
Batin Alam tersenyum memandang keempat kawannya.
“Apakah tidak mungkin Orang Kaya Merbau yang
menambatkannya? Yang terdekat dengan pulau ini sesudah Bukitbatu adalah Merbau.
Hamba punya rencana. Marilah kita ke Kuala Merbau sekarang juga, menemui Orang
Kaya di sana”. Batin Alam lalu menceritakan rencananya. Semuanya menyetujui
saran itu.
Berlayarlah perahu mereka mengikuti arus pasang ke hulu
menuju Kuala Merbau. Setelah dua pasang berlalu, tanpa satu halangan pun
sampailah mereka di sana.
Alangkah terkejutnya Orang Kaya Merbau menerima
tamu-tamu yang datang mendadak itu. Sesungguhpun bagi Orang Kaya menyambut
mereka dengan semestinya. Mereka diberi sepersalinan pakaian.
Selesai jamuan, utusan Bukitbatu dibawa menghadap
Orang Kaya di balai sidang. Orang Kaya Kuala Merbau tersenyum ramah menyambut
tamu-tamunya.
“Wahai saudara-saudaraku dari Bukitbatu. Bagaimana
khabar Paduka Datuk Laksamana dan saudaraku Orang Kaya di sana? Sehat-sehatkah
mereka?”
Jenjang Raja mengatur sembah lalu berkata :
“Mereka senantiasa dalam keadaan sehat. Sebenarnya
kami diutus oleh Datuk Laksamana untuk menemui Orangkaya”.
“Hendak menemui hamba? Hai, apa pula hajat yang hendak
dibicarakan”, jawab Orang Kaya.
“Izinkanlah hamba untuk bicara wahai Orang Kaya di
Kuala Merbau”, Batin Alam berbicara sambil mengerling kepada keempat kawannya.
“Yang ingin kami bicarakan adalah
tentang pulau di depan itu. Pulau itu berada di bawah daulat Bukitbatu. Tetapi
sewaktu kami memeriksanya ternyata pulau itu sudah terikat di perepat seratus.
Inilah yang ingin kami tanyakan. Adakah Orang Kaya yang telah mengikat pulau
itu ?”
“Benar apa yang dikatakan Batin Alam. Kami melihat ada
pulau hanyut. Asalnya tidaklah kami ketahui. Kami lihat pulau itu bergerak
selama beberapa hari. Kemudian pulau itu berhenti seperti ada yang menahannya,
sehingga bagian yang menghadap ke Kuala Merbau bergerak ke sana ke mari dibawa
ombak besar dan angina. Khawatir dilanggar oleh ayunan pulau itu, kami lalu
mengikatnya pada perepat seratus”.
Utusan Bukitbatu tersenyum puas mendengarkan
keterangan dari Orang Kaya Merbau, Segera Jenjang Raja angkat bicara :
“Bersyukurlah kami karena saudara kami Orang Kaya
telah sudi menolong menambatkan pulau itu. Kiranya Kuala Merbau tidaklah
melupakan persaudaraannya dengan Bukitbatu. Dengan apalah kiranya jasa baik ini
akan kamu balas ?”
“Bagi kami tidaklah lebih besar artinya kedatangan
tuan-tuan ke mari. Kami pun sempat merasa Bukitbatu telah melupakan saudaranya
di sini, rupanya dugaan kami keliru. Wajiblah bagi kami menolong saudara
sendiri. Sampaikanlah salam kami untuk Datuk Laksamana dan Orang Kaya
Bukitbatu. Janganlah terlalu diperbesar apa yang telah kami lakukan itu”.
SETELAH mendengar penjelasan langsung dari Orang Kaya
Merbau, pulanglah utusan Bukitbatu menghadap Datuk Laksamana. Mulai saat itu
pulau itu berada di bawah daulat Bukitbatu. Mulailah orang pindah ke sana.
Termasuk beberapa Batin dengan orang-orangnya.
Batin Penebal membawa orangnya mendiami bagian agak ke
Timur dan dinamailah tempat itu dengan Penebal.
Sedang Batin Alam mendiami daerah yang kemudian dinamakan Kampung Sungai ALam,
karena di sana mengalir sebatang sungai. Batin Senggero (senggoro) mendiami
daerah Senggoro sekarang ini. Batin
Bengkalis bermukim di sekitar sungai Bengkalis dan Batin Senerak dengan
orang-orangnya mengambil tempat agak jauh ke sebelah Barat; tidak jauh dari
tempat tunggul jati berada. Tempat tinggal Batin Senerak itu dinamai orang Kampung Senerak.
MENGENAI asal-usul nama pulau Bengkalis ada beberapa
cerita yang berbeda. Ada yang mengatakan nama itu berasal dari nama Batin
Bengkalis, karena kampung yang diperintahnya bertambah lama bertambah besar
sehingga menjadi kota. Akhirnya dinamai orang pulalah pulau itu dengan Pulau Bengkalis.
Sedangkan cerita lain mengatakan bahwa nama pulau itu
berasal dari logat orang Kampar. Ketika berlayar mereka melihat benda aneh di
tengah laut. Sewaktu ada yang bertanya, salah seorang teman seperahunya
menjawab :
“Pulau bang kali”. (Pulau barangkali) dari sanalah
asal kata pulau Bengkalis itu.

0 Comments