ASAL USUL PULAU BENGKALIS - Nahar Efendi

 



RAMAILAH pembicaraan orang. Berita itu cepat tersiar dari satu pelantar ke pelantar lain. Mereka berkumpul di pelantar rumahnya masing-masing, sambil memandang ke laut lepas. Dara-dara mengintip dari lubang dan sela-sela dinding. Nun jauh di laut lepas, kelihatan sebuah benda memanjang dari Barat ke Timur. Seperti ular besar, berkilat-kilat ditimpa cahaya matahari.

Hebohlah Bukitbatu. Terbetik khabar dari mulut orang tua-tua, naga bidai timbul menampakkan diri, murka karena ada yang berbuat angkara. Ibu-ibu bergegas menyembunyikan anak-anaknya. Tidak kurang pula yang termenung bagaikan kehilangan akal, tidak tahu apa yang akan dilakukan.

Berita itu sampai kepada Datuk Laksamana yang memerintah Bukitbatu. Segera beliau memerintahkan Orang Kaya menyiapkan perajurit berjaga-jaga. Dipanggilnya orang-orang besar Bukitbatu datang menghadap. Hadirlah di sana Batin Sembilan yaitu Batin Cedun, Batin Senggero, Batin Semulun, Batin Sebabui, Batin Kepit, Batin Berimbo, Batin Kelumang, Batin Alas (Ratas) dan Batin Kenek. Batin berempat yaitu Batin Alam, Batin Senerak, Batin Penebal, Batin Bengkalis. Tidak ketinggalan Jenjang Raja dan Orang Kaya sendiri. Setelah lengkap dimulailah siding tergempar di balai siding. Lalu Orang Kaya berdatang sembah.

“Daulat Datuk Laksamana raja di laut. Sidang kelengkapan sudahlah lengkap. Patik-patik menanti perintah datuk”.

Datuk Laksamana menggeserkan silanya lalu berkata.

“Sidang yang hadir, beta panggil menghadap ke balai siding karena ada berita yang akan beta sampaikan” Datuk Laksamana menghentikan tuturnya sejenak sambil melihat berkeliling pada yang hadir.

“Nun di laut lepas, ada benda ganjil terapung-apung. Tampaknya kian lama kian mendekat. Beta tidak memikirkannya, benda apakah itu ?”

“Ampunkan patik, datuk”. Jepang Raja berdatang sembah. “Sepengetahuan patik dari cerita nenek moyang, benda itu adalah naga bidai; Naga bidai itu timbul bila ada yang berbuat angkara di negeri kita”.

Suasana menjadi sepi sejenak, setelah mendengar tutur Jenjang Raja. Wanita bijaksana penasehat Datuk Laksamana.

“Tapi ganjilnya benda itu tidak seperti ular. Kalau ular tentu akan membuat gerak melingkar. Sejak dari sepenggalah matahari sampai matahari kini hampir tergelincir, benda itu hanya seolah-olah bergerak”, bantah Batin Cedun.

“Memang ganjil, benda itu tidak timbul tenggelam, tapi seperti mendekat”,kata Orang Kaya.

Datuk Laksamana berdiri, Menyilangkan tangannya ke belakang. Matanya memandang ke laut, memperhatikan benda yang terapung itu. Beberapa saat kemudian Datuk Laksamana membalikkan badannya menghadap kepada hadirin.

“Karena itulah beta kumpulkan siding ini. Beta sendiri belum dapat memutuskan benda apakah itu”.

“Datuk, patik rasa baiklah dikirimkan utusan untuk menyelidiki benda aneh itu dari dekat”. Yang hadir terkejut mendengar usul Batin Alam, suatu hal yang tidak masuk akal sama sekali. Alangkah berbahayanya bila benar itu naga bidai, lenyaplah orang yang coba-coba mendekatinya. Demikianlah pikir yang hadir. Batin Alam tahu apa yang dipikirkan oleh hadirin. Lalu dia berdatang sembah.

“Maksud patik kita tunggu sampai besok pagi. Sekiranya benda itu masih ada, sebaiknyalah datuk kirim utusan untuk meniliknya. Bila sampai besok benda aneh itu masih ada di sana, teranglah bukan naga bidai. Sebaliknya jika benda itu lenyap tentulah naga bidai yang datang memberi peringatan kepada anak negeri. Tentu ada kesalahan yang telah kita buat.”

Datuk mengangguk-anggukkan kepalanya. Masuk dalam pikirannya pendapat Batin Alam. Datuk Laksamana lalu kembali ke tempat duduknya semula.

“Terpikir oleh beta pendapat Batin Alam tadi. Baiklah, bila benda itu masih ada beta perintahkan kak Jenjang, Batin Alam, Batin Penebal, Batin Bengkalis dan Batin Senerak untuk menyelidikinya. Carilah asal-usul benda itu.

“Kemudian kepada Orang Kaya beta perintahkan untuk mengatur perajurit. Kita harus siap siaga menghadapi segala kemungkinan. Perintahkan penduduk Bukitbatu laut pindah ke darat. Semua perajurit berjaga semalam-malaman dan jangan ada satu lampu pun yang dinyalakan”. Datuk Laksamana lalu membubarkan sidang.

Semalam-malaman perajurit Bukitbatu berjaga-jaga di benteng. Penduduk negeri diungsikan ke darat. Perajurit siap siaga. Awas mendengarkan kalau ada bunyi gerak di dalam air. Tidak seorang pun dibolehkan memasang api, walaupun berupa unggunan untuk menghilangkan rasa dingin. Malam itu tidak ada sesuatu yang terjadi. Sampai kokok ayam pertama berbunyi. Orang Kaya menarik napas lega. Namun kewaspadaan perajurit tidak berkurang malahan bertambah ditingkatkan. Kepada perwira jaga Orang Kaya memberitahukan keinginannya beristirahat barang sekejap.

Tiba-tiba keheningan subuh dikejutkan oleh bunyi yang berkecipak di dalam air. Di antara rembang subuh kelihatan sebuah perahu masuk ke kuala. Perajurit menunggu dengan hati berdebar, menunggu apa yang akan terjadi. Perahu itu meluncur menyibak air menuju jembatan. Samar-samar kelihatan penumpang perahu terdiri dari dua lelaki, satu di depan dan satu lagi dibelakang, mengayuh. Seorang wanita dan seorang anak kecil duduk di dalamnya dilindungi kajang.

Lelaki yang di depan mengganti dayungnya dengan kayu penggalah. Begitu juga dengan kawannya yang di belakang. Perlahan-lahan perahu merapat ke jembatan. Dilihat dari bentuknya perahu itu adalah perahu asing. Ketika mereka sedang mengikatkan tali perahunya, serentak perajurit Bukitbatu mengepung mereka.

“Hai, encik dari mana dan hendak ke mana?”. Tanya perwira jaga.

“Ambo-amboko urang Kampau, mukasuik ambo amu ka Bukitbatu”.

“Oh, orang Kampar. Berapa orang yang datang dana pa yang dibawa ?”

“Ambo datang berampek, nan dibao barang galeh saketek”.

Perwira jaga meloncat ke dalam perahu. Dibantu oleh seorang perajurit memeriksa isi perahu.

“Adakah encik berlayar menyusur pantai atau di tengah?”

“Kami berlayar agak ke tengah, encik”,jawab yang muda dalam Bahasa Melayu yang fasih.”

“Adakah encik melihat sesuatu di tengah laut?”

“Benar encik, kami melihat benda yang terapung-apung di tengah laut. Kami takut mendekatinya karena laut berombak. Hamba rasa barangkali pulau”.

“Pulau ? Ha…..ha…..ha…..ha…, belum pernah hamba mendengar ada pulau yang terapung-apung”.

Semua perajurit turut tertawa. Sehingga tak sadar Orang Kaya sudah berada di antara mereka. Orang Kaya mendehem, tiba-tiba suasana berubah menjadi sunyi, dan perajurit-perajurit menundukkan muka.

“Perwira jaga, apa yang terjadi ?”

“Ampunkan hamba Orang Kaya, kami menanyai pemilik perahu ini, kalau-kalau mereka ada melihat benda asing itu. Lalu mereka mengatakan barangkali benda itu pulau”.

Orang Kaya termenung sejenak. Matanya menatap jauh ke depan. Nun di ufuk Timur cahaya matahari bersinar gemilang, membias di permukaan air. Ternyata benda aneh itu masih kelihatan. Malahan semakin dekat. Hanya beberapa mil lagi dari Bukitbatu.

“Pulau?....Mengapa kita tidak pernah memikirkannya ?” Orang Kaya seolah-olah berkata pada dirinya sendiri. Lalu Orang Kaya menoleh kepada perwira jaga.

“Lepaskanlah orang-orang ini, berilah mereka kebebasan untuk berdagang”.

 

MATAHARI baru naik sepenggalah. Namun orang sudah ramai berkumpul di jembatan. Tidak kurang pula yang dipinggir pantai dan di pelantar rumah. Hari itu tersiar khabar, Datuk Laksamana akan melepaskan utusannya berangkat ke tengah laut menyelidiki benda aneh itu.

Di balai sidang kelihatan Orang Kaya membisikkan sesuatu kepada Datuk Laksamana. Datuk Laksamana mengangguk-anggukkan kepalanya, lalu memandang ke tengah laut.

Di bawah pelataran balai sidang, beberapa perajurit sibuk memuat bekal ke dalam perahu. Ada pula yang menyiapkan peralatan lain.

Kelima orang yang diutus Datuk Laksamana, yaitu Jenjang Raja, Batin Senerak, Batin Bengkalis, Batin Alam dan Batin Penebal, sudah menghadap Datuk Laksamana di balai sidang sejak pagi. Kelihatan di wajah mereka rasa tanggung jawab yang besar akan tugas yang dibebankan di pundak masing-masing.

Setelah semua pembesar hadir, Datuk Laksamana berdiri dari duduknya. Matanya menyapu ke seluruh ruangan. Berganti-ganti matanya memandang wajah kelima utusannya.

“Hadirin yang beta hormati. Sesuai dengan janji yang telah diikrarkan, bahwa sekiranya benda aneh di tengah lautan itu masih ada sampai hari ini, maka akan dikirim utusan untuk menyelidinya. Nyatanya benda itu masih ada. Maka beta berkenan mengirimkan utusan terdiri dari Jenjang Raja, Batin Alam, Batin Penebal, Batin Bengkalis dan Batin Senerak untuk menyelidikinya. Sengaja beta turutkan Jenjang Raja, supaya bila ada masalah yang tertunda bisa bertanya kepadanya”. Datuk Laksamana menghentikan titahnya sejenak.

“Wahai Orang Kaya, adakah hal lain yang ingin dibicarakan?”

Orang Kaya berdatang sembah mengisahkan kejadian yang dialaminya di saat subuh tiba. Berjumpa dengan orang Kampar dan tentang kemungkinan benda itu adalah pulau hanyut di tengah lautan.

“Ampunkan patik Datuk Laksamana. Apakah hal bicara kita sekiranya benda itu pulau hanyut?”

“Negeri kita adalah negeri besar dan berkuasa. Banyak jajahan di setiap rantau dan teluk. Bila benda aneh itu betul-betul pulau, selidikilah sampai ke asalnya. Tanyai anak negerinya bila pulau itu berpenghuni, ingin membayar upeti atau disebut negeri. Sekiranya pulau, adalah hak kita untuk memilikinya”.

Setelah semua perlengkapan siap, berangkatlah kelima utusan. Diantar oleh Datuk Laksamana dan segenap anak negeri dengan penuh kebesaran. Letusan berbunyi gegap gempita. Tidak ubahnya orang pergi berperang. Rebana ditabuh nyaring seperti penduduk negeri sedang berpesta.

Angin buritan berhembus nyaman. Perahu berlayar dengan lancer. Cuaca baik. Laut tidak ubahnya seperti permukaan cermin, licin dan berkilat-kilat. Bukitbatu semakin jauh ditinggalkan. Yang kelihatan hanya gundukan-gundukan keputih-putihan, rumah penduduk Bukitbatu. Benda aneh yang menggemparkan itu ternyata sebuah pulau. Perahu layar mereka semakin mendekat. Kelihatan semakin jelas. Tidak ada sebatang pohon pun yang tumbuh. Hanya pulau gundul kecokelat-cokelatan.

Lebih sepenanak nasi, perahu merapat di pantai. Kandas karena air surut. Sementara itu Jenjang Raja selesai menyiapkan makanan keempat kawannya.

“Wahai keempat Batin. Lebih baik kita makan dahulu barulah segala perhitungan kita mulai”.

“Benar juga kata kak Jenjang. Marilah kita makan dahulu”, kata Batin Bengkalis sambil duduk bersila. Diikuti oleh ketiga temannya. Sambil makan mereka memperhatikan permukaan air yang dangkal. Banyak sekali ikan kecil berenang kian ke mari. Ikan-ikan kecil itu saling berebutan sesamanya, memperebutkan nasi yang dilemparkan keempat Batin, yang merasa senang melihat ikan yang beraneka warna itu. Setelah semuanya selesai makan, mulailah diatur rencana oleh Jenjang Raja. Batin Bengkalis dan Batin Senerak meninjau bagian sebelah Barat Pulau. Sedangkan Batin Alam bersama Batin penebal menuju belahan Timur pulau. Jenjang Raja sendiri menunggu perahu.

Pantai pulau itu ternyata lembut sekali. Batin Bengkalis dan Batin Senerak menuju ke sebelah Barat. Di ujung pulau bagian Barat terlihat sebatang tunggul pohon jati. Besarnya dapat dimuat tidak kurang dari 40 hidagan. Tunggul inilah yang menahan pulau itu sehingga tidak dapat bergerak lagi jauh ke arah Barat.

Sementara itu Batin Alam dan Batin Penebal setelah sampai di ujung paling Timur pulau, menemui pulau itu telah tertambat pada perepat seratus (sejenis tumbuh-tumbuhan air asin).

Batin Alam, nyatanya pulau ini sudah dimiliki orang. Lihatlah tali ijuk yang mengikatnya”, kata Batin Penebal sambil memegang tonggak kayu yang ditanam jauh masuk ke dalam tanah. Antara pulau dengan perepat seratus diikatkan seutas tali ijuk sebesar paha orang dewasa. Batin alam memandang ke tengah laut. Sayup-sayup kelihatan pulau Merbau. Dia tersenyum penuh arti lalu berkata :

“Batin Penebal. Tugas kita hanya untuk menyelidiki saja. Dan itu telah kita laksanakan. Sebaiknyalah kita kembali ke perahu saja. Segala sesuatunya kita bicarakan dengan kak Jenjang. Ingat pesan Datuk Laksamana”.

 

DI PERAHU Batin Bengkalis dan Batin Senerak sudah sampai lebih dahulu. Masing-masing menyampaikan hasil penyelidikan mereka kepada Jenjang Raja.

“Kak Jenjang”, kata Batin Senerak. Nyatanya pulau ini kosong. Daulat Bukitbatulah atas pulau ini”.

“Hamba rasa pendapat Batin Senerak itu salah”, bantah Batin Penebal.”Sewaktu kami sampai di sebelah Timur, pulau ini sudah tertambat dengan seutas tali pada perepat seratus. Ternyata ada yang telah mengikatnya. Apakah tidak mungkin pemiliknya yang melakukannya?” Suasana hening sejenak. Sekali-kali terdengar debur ombak. Air naik pasang.

“Menurut hemat hamba pulau ini belum ada yang punya. Mungkin seseorang telah menambatnya. Namun menurut tilikan hamba orang tersebut bukanlah yang empunya pulau ini”, kata Jenjang Raja sambil mengapur sirih. Batin Alam tersenyum memandang keempat kawannya.

“Apakah tidak mungkin Orang Kaya Merbau yang menambatkannya? Yang terdekat dengan pulau ini sesudah Bukitbatu adalah Merbau. Hamba punya rencana. Marilah kita ke Kuala Merbau sekarang juga, menemui Orang Kaya di sana”. Batin Alam lalu menceritakan rencananya. Semuanya menyetujui saran itu.

Berlayarlah perahu mereka mengikuti arus pasang ke hulu menuju Kuala Merbau. Setelah dua pasang berlalu, tanpa satu halangan pun sampailah mereka di sana.

Alangkah terkejutnya Orang Kaya Merbau menerima tamu-tamu yang datang mendadak itu. Sesungguhpun bagi Orang Kaya menyambut mereka dengan semestinya. Mereka diberi sepersalinan pakaian.

Selesai jamuan, utusan Bukitbatu dibawa menghadap Orang Kaya di balai sidang. Orang Kaya Kuala Merbau tersenyum ramah menyambut tamu-tamunya.

“Wahai saudara-saudaraku dari Bukitbatu. Bagaimana khabar Paduka Datuk Laksamana dan saudaraku Orang Kaya di sana? Sehat-sehatkah mereka?”

Jenjang Raja mengatur sembah lalu berkata :

“Mereka senantiasa dalam keadaan sehat. Sebenarnya kami diutus oleh Datuk Laksamana untuk menemui Orangkaya”.

“Hendak menemui hamba? Hai, apa pula hajat yang hendak dibicarakan”, jawab Orang Kaya.

“Izinkanlah hamba untuk bicara wahai Orang Kaya di Kuala Merbau”, Batin Alam berbicara sambil mengerling kepada keempat kawannya. “Yang ingin  kami bicarakan adalah tentang pulau di depan itu. Pulau itu berada di bawah daulat Bukitbatu. Tetapi sewaktu kami memeriksanya ternyata pulau itu sudah terikat di perepat seratus. Inilah yang ingin kami tanyakan. Adakah Orang Kaya yang telah mengikat pulau itu ?”

“Benar apa yang dikatakan Batin Alam. Kami melihat ada pulau hanyut. Asalnya tidaklah kami ketahui. Kami lihat pulau itu bergerak selama beberapa hari. Kemudian pulau itu berhenti seperti ada yang menahannya, sehingga bagian yang menghadap ke Kuala Merbau bergerak ke sana ke mari dibawa ombak besar dan angina. Khawatir dilanggar oleh ayunan pulau itu, kami lalu mengikatnya pada perepat seratus”.

Utusan Bukitbatu tersenyum puas mendengarkan keterangan dari Orang Kaya Merbau, Segera Jenjang Raja angkat bicara :

“Bersyukurlah kami karena saudara kami Orang Kaya telah sudi menolong menambatkan pulau itu. Kiranya Kuala Merbau tidaklah melupakan persaudaraannya dengan Bukitbatu. Dengan apalah kiranya jasa baik ini akan kamu balas ?”

“Bagi kami tidaklah lebih besar artinya kedatangan tuan-tuan ke mari. Kami pun sempat merasa Bukitbatu telah melupakan saudaranya di sini, rupanya dugaan kami keliru. Wajiblah bagi kami menolong saudara sendiri. Sampaikanlah salam kami untuk Datuk Laksamana dan Orang Kaya Bukitbatu. Janganlah terlalu diperbesar apa yang telah kami lakukan itu”.

 

SETELAH mendengar penjelasan langsung dari Orang Kaya Merbau, pulanglah utusan Bukitbatu menghadap Datuk Laksamana. Mulai saat itu pulau itu berada di bawah daulat Bukitbatu. Mulailah orang pindah ke sana. Termasuk beberapa Batin dengan orang-orangnya.

Batin Penebal membawa orangnya mendiami bagian agak ke Timur dan dinamailah tempat itu dengan Penebal. Sedang Batin Alam mendiami daerah yang kemudian dinamakan Kampung Sungai ALam, karena di sana mengalir sebatang sungai. Batin Senggero (senggoro) mendiami daerah Senggoro sekarang ini. Batin Bengkalis bermukim di sekitar sungai Bengkalis dan Batin Senerak dengan orang-orangnya mengambil tempat agak jauh ke sebelah Barat; tidak jauh dari tempat tunggul jati berada. Tempat tinggal Batin Senerak itu dinamai orang Kampung Senerak.

 

MENGENAI asal-usul nama pulau Bengkalis ada beberapa cerita yang berbeda. Ada yang mengatakan nama itu berasal dari nama Batin Bengkalis, karena kampung yang diperintahnya bertambah lama bertambah besar sehingga menjadi kota. Akhirnya dinamai orang pulalah pulau itu dengan Pulau Bengkalis.

Sedangkan cerita lain mengatakan bahwa nama pulau itu berasal dari logat orang Kampar. Ketika berlayar mereka melihat benda aneh di tengah laut. Sewaktu ada yang bertanya, salah seorang teman seperahunya menjawab :

“Pulau bang kali”. (Pulau barangkali) dari sanalah asal kata pulau Bengkalis itu.

0 Comments